Kimpul Mendadak Viral, Ternyata Umbi Lokal Ini Punya Banyak Kandungan Gizi
- Pixabay
Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa kimpul mengandung pati resisten (resistant starch) dan senyawa antioksidan seperti polifenol. Pati resisten dicerna lebih lambat dibanding pati biasa sehingga dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama serta mendukung kesehatan mikrobiota usus.
Benarkah kimpul lebih sehat?
Meskipu kimpul disebut sebagai alternatif yang lebih sehat dibanding singkong atau kentang. Para ahli gizi menyebut klaim tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak bisa digeneralisasi.
Beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa umbi-umbian seperti kimpul memiliki indeks glikemik yang relatif lebih rendah jika dikonsumsi dalam bentuk rebus dibanding makanan olahan berbasis tepung. Kandungan serat dan pati resistennya juga membantu memperlambat proses pencernaan karbohidrat.
Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada cara pengolahan. Kimpul yang diolah menjadi makanan tinggi gula, mentega, atau digoreng dalam jumlah banyak tentu memiliki nilai gizi yang berbeda dibanding kimpul rebus atau kukus.
Karena itu, ahli mengingatkan bahwa tidak ada satu jenis makanan yang bisa disebut sebagai superfood. Pola makan yang beragam dan seimbang tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan.
Hati-hati makan kimpul!
Sebagian orang mungkin pernah merasakan sensasi gatal setelah mengonsumsi kimpul atau talas.
Menurut Kementerian Pertanian RI, rasa gatal tersebut berasal dari kristal kalsium oksalat yang terdapat secara alami pada jaringan tanaman.
Kristal ini dapat menyebabkan iritasi ringan di mulut dan tenggorokan apabila umbi tidak diolah dengan benar. Untuk menguranginya, kimpul sebaiknya direndam terlebih dahulu lalu dimasak hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
Popularitas kimpul menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya melahirkan tren makanan baru, tetapi juga mampu menghidupkan kembali bahan pangan lokal yang mulai terlupakan.
Melalui konten-konten kreatif, umbi yang selama ini identik dengan makanan tradisional kini diperkenalkan dalam bentuk yang lebih modern dan menarik, terutama bagi generasi muda.
Fenomena ini juga sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap isu ketahanan pangan dan diversifikasi sumber karbohidrat.
Meski demikian, para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada klaim kesehatan yang beredar di media sosial tanpa dasar ilmiah dan harus diolah dengan benar.
Load more