Kimpul Mendadak Viral, Ternyata Umbi Lokal Ini Punya Banyak Kandungan Gizi
- Pixabay
Jakarta, tvOnenews.com – Belakangan ini, kimpul mendadak ramai diperbincangkan di media sosial. Umbi lokal yang dulu identik dengan makanan tradisional itu kini kembali menjadi sorotan setelah diolah menjadi berbagai hidangan kekinian, mulai dari donat, mi, brownies, dessert, hingga camilan yang tampil tak kalah menarik dari makanan berbahan tepung terigu.
Perbincangan tersebut dipicu oleh konten TikTok dari akun @black.sheep8208, kreator asal Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Melalui video-videonya, ia kerap bereksperimen membuat ulang berbagai makanan viral dengan mengganti bahan utama menggunakan kimpul. Kreativitasnya mengolah umbi lokal itu berhasil menarik jutaan penonton dan menuai ribuan komentar.
Tak sedikit warganet yang mengaku baru mengetahui bahwa kimpul bisa diolah menjadi beragam makanan modern. Bahkan, banyak netizen menjuluki kreator tersebut sebagai "Duta Ketahanan Pangan", karena dinilai berhasil mempopulerkan kembali pangan lokal sekaligus menunjukkan bahwa bahan pangan tradisional bisa menjadi alternatif yang kreatif dan bernilai ekonomi.
Apa itu kimpul?
Kimpul merupakan tanaman umbi-umbian dari famili Araceae dengan nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium. Tanaman ini berasal dari kawasan Amerika tropis, tetapi telah lama dibudidayakan di Indonesia dan banyak ditemukan di pekarangan rumah maupun lahan pertanian.
Di berbagai daerah, kimpul sering disamakan dengan talas karena bentuk umbinya mirip. Padahal keduanya merupakan spesies yang berbeda, meski masih berada dalam keluarga tanaman yang sama.
Umbi kimpul dapat direbus, dikukus, digoreng, diolah menjadi tepung, atau dijadikan bahan aneka makanan. Sementara daun mudanya juga dapat dimanfaatkan sebagai sayuran setelah dimasak hingga matang.
Di balik tampilannya yang sederhana, kimpul menyimpan berbagai nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh.
Berdasarkan data FoodData Central milik US Department of Agriculture (USDA) serta sejumlah penelitian mengenai umbi tropis, kimpul mengandung:
- Karbohidrat sebagai sumber energi.
- Serat yang membantu menjaga kesehatan pencernaan.
- Kalium yang berperan menjaga tekanan darah dan fungsi otot.
- Vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan.
- Vitamin B6 untuk mendukung metabolisme tubuh.
- Magnesium dan mangan yang berperan dalam berbagai proses metabolisme.
Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa kimpul mengandung pati resisten (resistant starch) dan senyawa antioksidan seperti polifenol. Pati resisten dicerna lebih lambat dibanding pati biasa sehingga dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama serta mendukung kesehatan mikrobiota usus.
Benarkah kimpul lebih sehat?
Meskipu kimpul disebut sebagai alternatif yang lebih sehat dibanding singkong atau kentang. Para ahli gizi menyebut klaim tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak bisa digeneralisasi.
Beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa umbi-umbian seperti kimpul memiliki indeks glikemik yang relatif lebih rendah jika dikonsumsi dalam bentuk rebus dibanding makanan olahan berbasis tepung. Kandungan serat dan pati resistennya juga membantu memperlambat proses pencernaan karbohidrat.
Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada cara pengolahan. Kimpul yang diolah menjadi makanan tinggi gula, mentega, atau digoreng dalam jumlah banyak tentu memiliki nilai gizi yang berbeda dibanding kimpul rebus atau kukus.
Karena itu, ahli mengingatkan bahwa tidak ada satu jenis makanan yang bisa disebut sebagai superfood. Pola makan yang beragam dan seimbang tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan.
Hati-hati makan kimpul!
Sebagian orang mungkin pernah merasakan sensasi gatal setelah mengonsumsi kimpul atau talas.
Menurut Kementerian Pertanian RI, rasa gatal tersebut berasal dari kristal kalsium oksalat yang terdapat secara alami pada jaringan tanaman.
Kristal ini dapat menyebabkan iritasi ringan di mulut dan tenggorokan apabila umbi tidak diolah dengan benar. Untuk menguranginya, kimpul sebaiknya direndam terlebih dahulu lalu dimasak hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
Popularitas kimpul menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya melahirkan tren makanan baru, tetapi juga mampu menghidupkan kembali bahan pangan lokal yang mulai terlupakan.
Melalui konten-konten kreatif, umbi yang selama ini identik dengan makanan tradisional kini diperkenalkan dalam bentuk yang lebih modern dan menarik, terutama bagi generasi muda.
Fenomena ini juga sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap isu ketahanan pangan dan diversifikasi sumber karbohidrat.
Meski demikian, para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada klaim kesehatan yang beredar di media sosial tanpa dasar ilmiah dan harus diolah dengan benar.
Load more