Kronologi Fahira Mira Viral Usai Klaim Divonis Usus Buntu di 3 RS Indonesia, Berobat ke Penang Malah Beda Diagnosis
- Instagram @fahiramira
tvOnenews.com - Fahira Mira menjadi sorotan setelah membagikan pengalaman kesehatannya terkait diagnosis usus buntu. Influencer tersebut mengaku mendapat diagnosis radang usus buntu dari tiga rumah sakit di Indonesia dan disarankan menjalani operasi, tetapi pemeriksaan CT scan di Penang, Malaysia, menunjukkan hasil berbeda.
Kisah Fahira Mira kemudian viral di media sosial dan memicu perdebatan mengenai perbedaan hasil pemeriksaan medis. Dalam unggahannya, ia menyebut hasil USG menunjukkan ukuran appendix mencapai 8,1 milimeter sehingga dirinya merasa khawatir dan memilih mencari pemeriksaan lanjutan di Malaysia.
Polemik usus buntu tersebut semakin ramai setelah Fahira mengunggah konten yang menggunakan fitur kolaborasi dengan salah satu rumah sakit di Penang. Narasinya kemudian mendapat perhatian publik, termasuk kritik dari warganet, tenaga medis, organisasi Nalar Rawat, hingga Kementerian Kesehatan RI.
Fahira Mira Sebut Divonis Usus Buntu di Tiga Rumah Sakit
![]()
Unggahan Fahira Mira. (Sumber: Instagram @fahiramira)
Dalam unggahannya, Fahira menceritakan dirinya mengalami sejumlah gejala, seperti demam tinggi, sakit parah di bagian kanan perut, serta muntah. Ia kemudian memeriksakan kondisi tersebut ke tiga rumah sakit berbeda di Indonesia.
Menurut Fahira, ketiga rumah sakit tersebut menyatakan dirinya mengalami usus buntu dan menyarankan agar segera menjalani operasi. Ia juga menyoroti hasil pemeriksaan USG yang menunjukkan ukuran appendix mencapai 8,1 milimeter.
Fahira mengaku semakin khawatir karena memahami bahwa usus buntu yang pecah dapat menimbulkan kondisi serius. Karena itu, ia kemudian memutuskan mencari rumah sakit di Penang, Malaysia, untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Periksa ke Penang dan Diminta CT Scan
Setibanya di Island Hospital, Penang, Fahira mengatakan dokter yang menanganinya justru tidak langsung yakin dengan hasil USG yang sebelumnya ia bawa dari Indonesia. Dokter tersebut kemudian menyarankan pemeriksaan CT scan untuk memastikan kondisi appendix secara lebih akurat.
Hasil pemeriksaan CT scan kemudian membuat Fahira terkejut. Berdasarkan penjelasan yang ia sampaikan dalam unggahannya, appendix disebut tampak normal dan tidak menunjukkan tanda peradangan.
Fahira pun menyebut masalah yang dialaminya ternyata berkaitan dengan usus besar, bukan usus buntu. Ia kemudian mengatakan akan fokus menjalani pemeriksaan terhadap usus besarnya hingga proses penyembuhan selesai.
Unggahan Fahira Mira Picu Polemik
Konten tersebut kemudian mendapat perhatian luas. Sebagian warganet mempertanyakan perbedaan hasil pemeriksaan yang disampaikan Fahira, termasuk mengenai ukuran appendix 8,1 milimeter yang disebutnya sebagai tanda radang.
Polemik semakin berkembang setelah sejumlah tenaga medis dan pengguna media sosial membahas data yang ditampilkan dalam unggahan tersebut. Perbedaan hasil pemeriksaan pada waktu dan metode yang berbeda kemudian menjadi salah satu persoalan yang diperdebatkan.
Di tengah kegaduhan tersebut, muncul pula kekhawatiran bahwa narasi pengalaman pribadi Fahira dapat membentuk persepsi negatif terhadap dokter dan fasilitas kesehatan di Indonesia secara umum.
Nalar Rawat Minta Fahira Mira Beri Klarifikasi
![]()
Unggahan Nalar Rawat. (Sumber: Instagram @nalarrawat)
Pada 11 Agustus 2026, Nalar Rawat mengunggah pernyataan terkait polemik tersebut melalui akun Instagram mereka. Organisasi tersebut menegaskan bahwa keputusan pasien mencari second opinion merupakan hak yang harus dihormati.
Namun, Nalar Rawat mempertanyakan cara pengalaman klinis yang kompleks tersebut disampaikan kepada publik. Menurut mereka, perbedaan hasil pemeriksaan pada waktu berbeda tidak otomatis membuktikan bahwa pertimbangan medis sebelumnya keliru.
Nalar Rawat juga menilai penilaian terhadap dugaan appendicitis perlu mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari gejala, pemeriksaan fisik, hasil laboratorium, pencitraan, terapi yang telah diberikan, hingga jarak waktu antara pemeriksaan.
Lima Hal yang Diminta Nalar Rawat
Melalui unggahannya, Nalar Rawat meminta klarifikasi mengenai sejumlah hal. Pertama, apakah tiga fasilitas kesehatan di Indonesia benar memberikan diagnosis definitif appendicitis atau diagnosis tersebut masih berupa dugaan atau suspek.
Kedua, mereka mempertanyakan apakah rekomendasi operasi memang sudah diputuskan secara definitif. Ketiga, Nalar Rawat meminta penjelasan mengenai data medis dan timeline pemeriksaan yang menjadi dasar narasi Fahira kepada publik.
Keempat, mereka meminta informasi mengenai terapi yang diterima Fahira sebelum menjalani pemeriksaan lanjutan. Kelima, Nalar Rawat mempertanyakan apakah terdapat hubungan endorsement, sponsorship, barter layanan, paid partnership, reimbursement, fasilitas perjalanan, atau bentuk kerja sama lainnya dengan Island Hospital maupun pihak yang mewakilinya.
Fahira Mira Beri Klarifikasi
![]()
Klarifikasi Fahira Mira. (Sumber: Instagram @fahiramira)
Pada 11 Agustus 2026, Fahira kembali memberikan klarifikasi mengenai hasil pemeriksaan yang menjadi bagian dari polemik. Ia menjelaskan bahwa USG sebelumnya menunjukkan appendix berukuran 8,1 milimeter dan dirinya disarankan menjalani operasi.
Dalam klarifikasinya, Fahira mengatakan dirinya akhirnya memilih menjalani operasi di Penang. Namun, sebelum tindakan tersebut dilakukan, dokter di sana menyarankan pemeriksaan CT scan untuk memastikan kondisi appendix.
“USG menunjukkan appendix 8,1 mm dan aku disarankan operasi. Aku akhirnya memilih untuk operasi di Penang. Setelah CT scan di Penang, ternyata hasilnya menunjukkan appendix tampak normal dan tidak ada tanda peradangan,” tulis Fahira dalam klarifikasinya.
Kasus Fahira Mira akhirnya menjadi perbincangan bukan hanya mengenai diagnosis usus buntu, tetapi juga tentang pentingnya menyampaikan pengalaman kesehatan secara lengkap dan berimbang. Di sisi lain, hak pasien untuk mencari second opinion tetap menjadi bagian penting dalam menentukan keputusan terkait kondisi kesehatannya.
(anf)
Load more