Bukan Cuma Autobiografi, Jejak Digital Fajar Sahrudin Ungkap Pergulatan Mental dan Alasan Enggan ke Psikolog
- Figma/Fajar Sahrudin | X/FajarDawnVirgo
tvOnenews.com - Kabar meninggalnya Fajar Sahrudin (31) di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, menyisakan perhatian besar di media sosial.
Sebelum kabar kematiannya dikonfirmasi, sejumlah unggahan mengenai dirinya sempat dianggap sebagai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Kepolisian kemudian memastikan bahwa seorang pria memang ditemukan meninggal dunia di area Plaza Utara, Pintu 10 GBK, pada Minggu dini hari, 6 September 2026.
- Instagram/Threads @fajardawnvirgo
Petugas Polsek Metro Tanah Abang bersama Tim Identifikasi dan Dokkes Polres Metro Jakarta Pusat telah melakukan olah tempat kejadian perkara.
Dari pemeriksaan awal, polisi menyampaikan tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Kasus tersebut kemudian semakin menjadi sorotan karena sejumlah tulisan dan unggahan Fajar di dunia maya kembali ditemukan. Sebelum meninggal, ia diketahui cukup terbuka membagikan pemikirannya melalui sejumlah platform digital.
TRIGGER WARNING:Â Informasi berikut ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasa gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak professional seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Pernah Membahas Kondisi Mentalnya
Salah satu bagian dari jejak digital Fajar yang kembali diperbincangkan adalah tulisan yang dibuatnya pada awal 2026. Dalam unggahan tersebut, ia pernah membicarakan kondisi psikologis yang tengah dihadapinya.
Fajar juga menyebut dirinya mengalami gangguan bipolar dan sedang berusaha menghadapi trauma yang dialaminya.
- Threads @fajardawnvirgo
Namun, dalam tulisannya, ia mengungkapkan alasan mengapa pada saat itu dirinya tidak memiliki keinginan untuk menemui psikolog.
Unggahan itu dibuat pada 30 Januari 2026 melalui akun Threads @fajardawnvirgo. Pernyataan tersebut kini kembali menjadi perhatian setelah kabar kematian Fajar muncul beberapa bulan kemudian.
"Mungkin saya memang tidak perlu ke psikolog karena saya sudah kehilangan makna untuk hidup dan tidak ingin mengubah ataupun diselamatkan. Toh menurut dokter Danang orang yang datang ke Psikolog seharusnya adalah orang-orang yang ada keinginan kuat untuk mengubahnya bukan?" tulis Fajar Sahrudin dalam akun Threadsnya @fajardawnvirgo.
Sempat Menyinggung Percobaan Sebelumnya
Bukan hanya soal keengganannya mendapatkan bantuan profesional, tulisan lama Fajar juga memperlihatkan bahwa ia telah lama bergulat dengan persoalan tersebut.
Load more