Sosok Fajar Sahrudin yang Ditemukan Tewas Diduga Akhiri Hidup di Area GBK di Mata Mantan Rekan Kerjanya
- Instagram/@stewiecopp
Jakarta, tvOnenews.com - Kontroversi kematian Fajar Sahrudin alias FS (31), warga Kedaung, Kemiling, Lampung yang ditemukan dalam kondisi terbaring dan tubuh membiru di area taman sekitar Pintu 10 Gelora Bung Karno (GBK), terus menggegerkan publik.
Kematian Fajar Sahrudin belakangan ini viral di media sosial tak lepas dari unggahan pesan perpisahan, ucapan terima kasih, dan permintaan maaf melalui akun media sosial X dan Instagram miliknya secara terjadwal (schedule post).
Penemuan jenazah Fajar Sahrudin di area GBK pun mengejutkan publik. Kabar viralnya kematian pria asal Lampung tersebut membuat salah satu mantan rekan kerjanya kaget bahwa FS telah tiada.
Ellisa, mantan rekan kerjanya mengatakan bahwa, dirinya telah mendapat kabar kematian FS. Ia menyebut bahwa FS merupakan mantan satu tim di bootcamp di salah satu edutech.
"Hari minggu lalu, dapat kabar kalau temanku ini udah enggak ada di dunia. FS ini teman satu tim aku waktu bootcamp bareng di salah satu edutech," ujar Ellisa saat dikonfirmasi tvOnenews.com, Jumat (11/9/2026).
Sosok Fajar Sahrudin di Matanya
- Instagram/@stewiecopp
Ia menjelaskan bahwa, dirinya cukup mengenali kepribadian FS. Menurutnya, pria berusia 31 tahun tersebut dinilai sebagai sosok yang cerdas.
"Selama kenal, belajar bareng dan mengerjakan project bareng, dia itu orang yang sangat-sangat cerdas dan insightful," terangnya.
Di balik kecerdasannya, Ellisa baru mengetahui bahwa FS merupakan sosok yang neurodivergent complex. Istilah ini menggambarkan kondisi seseorang yang memiliki lebih dari satu kondisi neurodivergen atau berdampingan dengan trauma emosional yang mendalam.
"Qadarullah dia terdiagnosa bipolar, OCD (Obsessive-Compulsive Disorder), dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)," tambahnya.
Ellisa baru mengetahui kondisi FS sudah lama menjalani pengobatan, baik ke psikiater maupun konseling. Aktivitas itu telah berlangsung selama bertahun-tahun dilakukan oleh pria asal Lampung itu.
"Bahkan dia pernah retreat bareng para penyitas bipolar, termasuk Marshanda. Dia enggak diam, dia berusaha keras memperbaiki kondisinya," jelasnya.
Sayangnya FS sendiri telah tiada yang diduga berkaitan dengan permasalahan hidupnya. Ellisa menilai ujian yang dihadapi korban tidak mudah.
"Dia udah yatim piatu sejak sekolah, dia kurang dekat sama keluarganya, dia enggak cocok sama beberapa circle pertemanannya, dan lain-lain," tuturnya.
Ia tidak bisa membayangkan jika ada di posisis FS. Menurutnya, perjuangan untuk menyembuhkan berbagai hal tersebut sangat tidak mudah dilakukan oleh semua orang.
"Entah seberat apa kondisinya sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, aku yakin pasti berat banget sampai dia udah enggak kuat menahan sakitnya," ucapnya.
Sudah Tahu Korban Pernah Coba Bunuh Diri
Lebih lanjut, Ellisa menyoroti kasus kematian FS viral di media sosial X dan Threads. Ia justru menyayangkan masih banyak pihak yang nirempati dan menghujat kasus dialami oleh mantan rekan satu timnya.
"Ada yang mengatakan almarhum, 'attention seeker, victim mentality'. Duh jujur aku pusing keep up sama omongan-omongan banyak pihak di kedua platform itu," heran dia.
Ia selaku mantan rekan satu timnya cukup mengetahui kisah FS. Korban sempat beberapa kali ingin melakukan percobaan bunuh diri sesuai dengan tulisan yang diunggah oleh FS melalui autobiografinya.
"Dan kematiannya kemarin itu udah dia rencanakan dari tahun lalu. Desember tahun lalu, aku coba reach out almarhum dan berusaha ajak ketemu. Niatnya ingin coba meluluhkan hatinya untuk berhijrah. Qadarullah, dia menolak dan mengabaikan spam pesan-pesan aku sampai beberapa bulan berikutnya," paparnya.
"Setelah itu dia menghilang, enggak ada kabar sama sekali. Sampai hari Minggu lalu, dia publish kematiannya sendiri di akun-akun media sosialnya. Jujur sedih banget, seolah merasa gagal sebagai teman dan sesama manusia. Selama ini emang udah sering banget dengar berita-berita orang bundir, tapi baru kali ini terjadi sama teman sendiri," sambungnya.
Sebelumnya diberitakan, kabar pria ditemukan tewas dibenarkan oleh Kapolsek Metro Tanah Abang, AKBP Dhimas Prasetyo. Penemuan FS terjadi di area GBK, Jakarta Pusat, Minggu (6/9/2026) dini hari.
Dhimas menjelaskan, awal mula peristiwa ini terungkap setelah FS membuat sejumlah unggahan di media sosial. Isinya mengenai pesan perpisahan ditujukan kepada teman-temannya.
Unggahan itu mengundang kekhawatiran bagi salah satu rekannya. Teman korban juga mengungkapkan bahwa dirinya mendapat kiriman sinyal SOS dari aplikasi atau fitur jam Xiaomi sebagai tanda bahwa korban akan mengakhiri hidupnya.
Teman FS mulanya meminta bantuan kepada pihak sekuriti GBK. Sayangnya pencarian pertama berakhir gagal sebelum ditemukan didekat pohon pintu 10 dalam Plaza Utara oleh petugas keamanan sebagai saksi tiga.
Jenazah korban langsung dibawa menuju RSCM. Meski begitu, pihak keluarga menolak autopsi dan meminta agar jenazah FS dimakamkan di Lampung.
(hap)
Load more