Mengenal Frans Kaisiepo, Pahlawan Nasional Asal Papua di Pecahan Rp10 Ribu yang Dihina oleh Netizen Malaysia
- Threads/pablo_yamii | Wikimedia/Perpustakaan Nasional
tvOnenews.com -Â Nama Frans Kaisiepo mendadak menjadi perbincangan hangat publik setelah potret wajahnya di uang kertas pecahan Rp10 ribu menjadi sasaran ejekan oleh seorang pengguna media sosial Threads asal Malaysia.
"Dah la Malaysia jom kita balik. Diorang ada Thanos do (Ayo Malaysia, mari kita kembali. Di sana ada Thanos)," tulis akun Threads @pablo_yamii sambil mengunggah gambar pecahan uang Rp10 ribu, dikutip Senin (5/10/2026).
- Threads/pablo_yamii
Sosok yang disamakan dengan karakter fiktif Thanos dalam serial superhero Avengers tersebut sebenarnya merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia paling berjasa dari Tanah Papua, yang mengabdikan seluruh hidupnya demi mempertahankan kedaulatan Negara Kesembilan Republik Indonesia (NKRI).
Â
Lahir di Wardo, Biak, Papua pada 10 Oktober 1921, Frans Kaisiepo tumbuh sebagai figur pembaharu dan pejuang nasionalis.
Perannya dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sangat krusial, terutama dalam mengikis pengaruh kolonialisme Belanda di wilayah timur Nusantara.
Pada 31 Agustus 1945, di saat Belanda masih berusaha mempertahankan kekuasaannya di Papua, Frans Kaisiepo secara berani memimpin upacara pengibaran bendera Merah Putih dan mengumandangkan lagu "Indonesia Raya" di Biak.
Salah satu kontribusi historisnya yang paling legendaris terjadi saat ia menjadi wakil tunggal dari Papua dalam Konferensi Malino pada tahun 1946.
Dalam forum penting tersebut, Frans Kaisiepo mengusulkan nama "Irian" untuk menggantikan penamaan "Papua" atau "Nieuw Guinea" yang biasa digunakan kolonial Belanda.
Kata "Irian" sendiri diambil dari bahasa Biak yang bermakna "sinar yang menghalau kegelapan", sekaligus menjadi akronim nasionalis: Ikut Republik Indonesia Anti Nederland.
- Anefo/Hans Peters via Wikimedia
- Threads/pablo_yamii | Wikimedia/Perpustakaan Nasional
Keteguhan prinsip Frans terhadap Republik Indonesia membuatnya kerap mendapat tekanan dan ancaman dari pihak kolonial.
Ia pernah dipenjarakan oleh Belanda dari tahun 1954 hingga 1961 karena secara tegas menolak mewakili delegasi bentukan Belanda dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Frans tidak ingin didikte oleh Belanda yang berniat memisahkan Papua dari wilayah Indonesia.
Setelah Papua resmi kembali ke pangkuan NKRI, Frans Kaisiepo dilantik menjadi Gubernur Irian Barat periode 1964–1973.
Ia juga berperan besar dalam menyukseskan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969 yang mengukuhkan posisi Papua sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Republik Indonesia.
Atas jasa-jasa besarnya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Frans Kaisiepo pada tahun 1993 melalui Keppres No. 077/TK/1993.
Sebagai bentuk penghormatan abadi, wajahnya diabadikan dalam uang kertas Rp10.000 emisi 2016 dan 2022, serta namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Internasional di Biak dan kapal perang KRI Frans Kaisiepo-368.
Â
Mengenal rekam jejak perjuangannya menegaskan bahwa Frans Kaisiepo bukanlah sekadar gambar di atas lembaran uang, melainkan simbol pergerakan dan persatuan bangsa yang patut dihormati oleh siapa pun.
Di sisi lain, batasan etika dan rasa saling menghormati antarnagera tetangga tetap harus dijunjung tinggi demi menjaga keharmonisan bersama. (ism)
Load more