Meski Sudah Mengaku Salah, Herri Pras Tegaskan Tak Akan Berhenti Mengkritik Oknum Habib
- YouTube HERRI PRAS
tvOnenews.com - Herri Pras kembali menyampaikan pernyataan terbaru di tengah polemik yang menyeret namanya dengan sejumlah tokoh agama.
Kali ini, ia menyampaikan permintaan maaf atas ucapan-ucapannya yang dinilai menyakiti hati sejumlah pihak.
Namun, permintaan maaf tersebut bukan berarti ia menarik kritiknya terhadap praktik yang disebutnya sebagai khurafat.
Dalam video yang beredar, Herri menjelaskan bahwa dirinya selama ini telah mendapat banyak nasihat dari sejumlah pendakwah agar lebih berhati-hati dalam menggunakan bahasa ketika menyampaikan kritik.
Salah satu sosok yang disebutnya kerap mengingatkan agar ia menggunakan tutur kata lebih lembut adalah Ustaz Mufi Thalib.
Ia mengakui bahwa mengubah kebiasaan berbicara bukan perkara mudah.
Meski demikian, Herri mengaku berusaha memperbaiki cara penyampaiannya, walaupun terkadang masih menggunakan kata-kata yang cukup tegas.
"Namun saya tetap mengaku salah. Karena apa? Apapun yang saya ucapkan, apapun yang saya lakukan, tetap saya salah. Yang benar adalah Habib ini (Habib Bahar bin Smith)," ujar Herri dikutip dari kanal YouTube miliknya, HERRI PRAS.
- YouTube HERRI PRAS
Pernyataan tersebut disampaikan dengan nada sindiran.
Ia kemudian meminta agar pihak-pihak yang menyerang Ustaz Mufi Thalib tidak mengarahkan tuduhan kepada pendakwah tersebut.
"Jadi kalau teman-teman memfitnah dan menyerang Ustaz Mufi Thalib, ya itu salah besar. Harusnya kalian menyerang Herri Pras, yang di mana Herri Pras-lah yang salah. Banyak salah, banyak nipu atas nama Nabi," katanya.
Herri kembali menyampaikan permintaan maaf atas pernyataan-pernyataannya yang dianggap tidak menyenangkan.
Ia menyebut ucapannya selama ini tidak sesuai dengan keinginan sejumlah habib maupun para muhibbin atau pengikut mereka.
"Jadi di sini teman-teman sekali lagi saya ucapkan saya minta maaf atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya ucapkan yang di mana tidak sesuai keinginan Habib, tidak sesuai dengan keinginan para muhibbin Habib. Saya minta maaf, tetap yang salah Herri Pras. Karena apa? Tidak ada satuun yang bisa disalahkan kecuali Herri Pras," jelasnya.
Meski meminta maaf, Herri menegaskan bahwa dirinya tetap akan mengkritisi hal-hal yang menurutnya termasuk praktik khurafat.
Ia bahkan menyebut keberaniannya membahas persoalan tersebut menjadi salah satu alasan dirinya menuai penolakan.
"Karena apa? Herri Pras terlalu berani membahas khurafat Habib. Terlalu berani Herpras membahas penipuan Habib. Terlalu berani membahas para pendukung Habib yang di mana rata-rata oknum-oknumnya banyak membodohi umat. Membawa cerita-cerita yang sejatinya halu nipu. Tapi tetap yang salah Herri Pras. Herri Pras minta maaf, Teman-teman, kalau Herri Pras banyak menyakiti hati Habib yang menceritakan doktrin-doktrin khurafat," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Herri mengungkapkan bahwa ada sejumlah nasihat dari pendakwah yang membuatnya mulai mengevaluasi cara menyampaikan kritik.
Ia secara khusus menyebut Ustaz Abdurrahman yang videonya ia simak dan dinilai memberikan pengaruh terhadap sikapnya.
"Di video ini saya menemukan suatu kebenaran dan saya juga mulai sadar teman-teman akan suatu video dari Ustaz Abdurrahman. Saya menyimak video beliau. Saya mendengarkan nasihat beliau. Masyaallah, inilah yang membuat saya semakin sadar untuk apa yang harus saya lakukan ke depannya. Namun, tidak akan mengurangi sikap saya untuk mengkritisi khurafat-khurafat yang ada di Indonesia yang disebarkan oleh oknum-oknum Habib ataupun yang ada di dalam kitab-kitab Habib yang diajarkan kepada umat," kata Heri Pras.
Dalam video nasihat yang disimaknya, Ustaz Abdurrahman menekankan pentingnya seorang pendakwah mengendalikan emosi, menjaga hati, serta tidak mudah terpancing oleh tantangan atau perdebatan yang berpotensi berujung pada konflik fisik.
Ustaz Abdurrahman juga mengingatkan bahwa seorang Muslim sebaiknya tidak menggunakan bahasa yang menantang atau merendahkan orang lain.
Menurut nasihat yang dikutip Herri, seseorang yang menerima kritik atau bahkan perlakuan tidak menyenangkan perlu belajar menahan diri dan memaafkan.
Nasihat tersebut tampaknya menjadi bahan evaluasi bagi Herri.
Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya juga pernah menerima teguran dari Ustaz Khalid Basalamah agar tidak menggunakan diksi tertentu, termasuk istilah "suntoloyo".
Herri mengaku telah berulang kali mendapat nasihat dari sejumlah asatiz, termasuk Ustaz Mufi Thalib dan Gus Aziz.
Namun, ia menyebut selama ini kesulitan menahan reaksi ketika melihat hal-hal yang menurutnya merupakan bentuk pembodohan terhadap umat.
Hal lain yang disoroti Herri adalah pengakuannya bahwa dirinya keliru karena ikut meladeni tantangan adu fisik dari pihak-pihak yang menentangnya.
Ia menilai persoalan yang seharusnya diselesaikan melalui pembuktian dan diskusi justru berkembang menjadi tantangan untuk berkelahi.
Herri pun mengakui bahwa keputusannya menanggapi tantangan tersebut merupakan tindakan yang tidak tepat.
"Setelah saya mendapat dan mendengar nasihat dari Ustaz Mufi Thalib, setelah mendengar nasihat juga dari Gus Aziz, mendapatkan nasihat dari Ustaz Abdurrahman, saya semakin sadar bahwa meladeni tantangan orang bodoh di dalam perkara adu fisik adalah tindakan yang juga bodoh. Saya mengakui itu adalah bodoh."
Ia juga menyinggung bahwa dirinya bersama tim pernah meminta pembuktian atas sejumlah persoalan yang diperdebatkan. Namun, menurut Herri, pihak yang ditantang akan kesulitan menunjukkan dalil yang diminta.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa mengaitkan pembuktian tersebut dengan kesediaannya menerima tantangan berkelahi merupakan pernyataan yang keliru.
"Namun dengan bodohnya saya mengikuti tantangan dari para penentang berantem ini dengan persyaratan kalau kalian bisa membuktikan ulama kalian benar maka saya akan menerima tantangan kalian walaupun sampai mati. Ini sebenarnya pernyataan yang bodoh dari saya untuk menjawab tantangan orang bodoh. Dan akhirnya apa? Sekumpulan orang-orang bodoh datang untuk melakukan tindakan bodoh."
Nama Herri Pras sebelumnya menjadi sorotan setelah melontarkan istilah "setan bisu" ketika mengkritik Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Adi Hidayat (UAH).
Ia kemudian menggunakan istilah "malaikat bisu" sebagai julukan lain bagi tokoh yang menurut pandangannya memilih diam ketika menyaksikan praktik yang dianggap menyimpang.
Herri sempat menjelaskan bahwa istilah tersebut bukan dimaksudkan sebagai penghinaan personal, melainkan kritik terhadap sikap diam yang ia persoalkan.
Meski demikian, pemilihan kata tersebut menuai kontroversi dan mendapat tanggapan dari berbagai pihak.
(tsy)
Load more