Selain Gerbang Menuju Ramadhan, Bulan Syakban Adalah Saat Dimana Kiblat Dipindahkan dari Baitul Maqdis ke Ka'bah
- pixabay
Jakarta, tvOnenews.com - Bulan Syakban kerap disebut dengan pintu gerbang dari bulan suci Ramadhan. Hal ini karena dengan memasuki Syakban artinya Ramadhan sebentar lagi akan tiba.
Bulan Syakban 1444 Hijriyah jatuh pada Rabu (22/2/2023). Pada bulan ini, diharapkan seluruh umat muslim di dunia akan menyiapkan diri untuk menyambut bulan suci Ramadhan 1444 Hijriyah.
Selain memiliki banyak keutamaan, di Bulan Syakban juga ada peristiwa penting dalam sejarah islam, yakni peralihan kiblat umat muslim.
Dikutip dari NU Online dengan penulis Muhammad Abror, Sayyid Muhammad dalam kitab Madza fi Syaāban menjelaskan, pada bulan Syakban terjadi beberapa peristiwa penting. Di antara peristiwa tersebut ialah peralihan arah kiblat umat muslim yang semula menghadap ke Baitul Maqdis berubah ke arah Kaābah.Ā
Penyebab Pindahnya Arah Kiblat
Al-Razi dalam Tafsir Al-Kabir atau yang dikenal dengan Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa Nabi Muhammad berpandangan bahwa Baitul Maqdis merupakan kiblat orang-orang Yahudi.Ā
Nabi Muhammad juga meminta malaikat Jibril untuk menyampaikan maksudnya kepada Allah SWT agar arah kiblat diganti ke arah Kaābah saja.Ā
āWahai Jibril, aku lebih senang jika Allah memalingkanku dari kiblat orang Yahudi. Aku tidak menyukai arah kiblat mereka,ā pinta Rasulullah.Ā
Jibril menjawab, āAku pun hamba sepertimu. Akan saya mintakan hal itu untukmu.āĀ Ā Ā
![]()
Ilustrasi
Kemudian, sambil menunggu hasil negosiasi Malaikat Jibril, Rasulullah diceritakan menengadahkan wajahnya ke arah langit.
Kemudian Malaikat Jibril pun turun dengan membawa wahyu yang memerintahkan agar arah kiblat diganti ke arah Kaābah.
Hal tersebut seperti yang tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 2 berikut ini:Ā
ŁŁŲÆŪ” ŁŁŲ±ŁŁŁ° ŲŖŁŁŁŁŁŁŲØŁ ŁŁŲ¬Ū”ŁŁŁŁ ŁŁŁ Ł±ŁŲ³ŁŁŁ ŁŲ§ŁŲ”ŁŪ ŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲØŪ”ŁŁŲ©Ł ŲŖŁŲ±Ū”Ų¶ŁŁŁ°ŁŁŲ§Ū ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ¬Ū”ŁŁŁŁ Ų“ŁŲ·Ū”ر٠ٱŁŪ”Ł ŁŲ³Ū”Ų¬ŁŲÆŁ ٱŁŪ”ŲŁŲ±ŁŲ§Ł ŁŪ ŁŁŲŁŁŪ”Ų«Ł Ł ŁŲ§ ŁŁŁŲŖŁŁ Ū” ŁŁŁŁŁŁŁŁŲ§Ł ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŁŁŁ Ū” Ų“ŁŲ·Ū”Ų±ŁŁŁŪ„Ū ŁŁŲ„ŁŁŁŁ Ł±ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ Ų£ŁŁŲŖŁŁŲ§Ł Ł±ŁŪ”ŁŁŲŖŁŁ°ŲØŁ ŁŁŁŁŲ¹Ū”ŁŁŁ ŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁŁŁŁ ٱŁŪ”ŲŁŁŁŁ Ł ŁŁ Ų±ŁŁŲØŁŁŁŁŁ Ū”Ū ŁŁŁ ŁŲ§ Ł±ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŲŗŁŁ°ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŲ¹Ū”Ł ŁŁŁŁŁŁĀ Ā Ā
āSungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.ā (QS. Al-Baqarah [2]: 144)Ā
![]()
Baitul Maqdis yang Kini Disebut Masjid Al Aqsa (pixabay)
Mengapa Rasulullah SAW Minta Kiblat Dipindah dari Baitul Maqdis?
Syekh Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib melanjutkan,Ā
Ų§ŁŲ£ŁŁ: Ų£Ł Ų§ŁŁŁŁŲÆ ŁŲ§ŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁ: Ų„ŁŁ ŁŲ®Ų§ŁŁŁŲ§ Ų«Ł Ų„ŁŁ ŁŲŖŲØŲ¹ ŁŲØŁŲŖŁŲ§ ŁŁŁŁŲ§ ŁŲŁ ŁŁ ŁŲÆŲ± Ų£ŁŁ ŁŲ³ŲŖŁŲØŁ Ų ŁŲ¹ŁŲÆ Ų°ŁŁ ŁŲ±Ł أ٠ŁŲŖŁŲ¬Ł Ų„ŁŁ ŁŲØŁŲŖŁŁ .Ā Ų§ŁŲ«Ų§ŁŁ: Ų£Ł Ų§ŁŁŲ¹ŲØŲ© ŁŲ§ŁŲŖ ŁŲØŁŲ© Ų„ŲØŲ±Ų§ŁŁŁ .Ā Ų§ŁŲ«Ų§ŁŲ«: Ų£ŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł ŁŲ§Ł ŁŁŲÆŲ± أ٠ŁŲµŁŲ± Ų°ŁŁ Ų³ŲØŲØŲ§Ł ŁŲ§Ų³ŲŖŁ Ų§ŁŲ© Ų§ŁŲ¹Ų±ŲØ ŁŁŲÆŲ®ŁŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł .Ā Ų§ŁŲ±Ų§ŲØŲ¹: Ų£ŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł Ų£ŲŲØ أ٠ŁŲص٠ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŲ“Ų±Ł ŁŁŁ Ų³Ų¬ŲÆ Ų§ŁŲ°Ł ŁŁ ŲØŁŲÆŲŖŁ ŁŁ ŁŲ“ئ٠ŁŲ§ ŁŁ Ł Ų³Ų¬ŲÆ Ų¢Ų®Ų±.Ā
Pertama, dulu orang-orang Yahudi berkata, āMuhammad sebelumnya berbeda (arah kiblat) dengan kita, lalu ia mengikuti kami. Andai saja tidak ada kami, pasti ia tidak tahu akan menghadap ke arah kiblat yang mana.āĀ
Alasan kedua yaitu Kaābah merupakan kiblat bagi Nabi Ibrahim. Kemudian yang ketiga, menurut Rasulullah, jika arah kiblat ke arah Kaābah, hal ini bisa menyentuh hati orang-orang Arab. Sehingga diharapkan mereka mau masuk Islam.Ā
Alasan Nabi Muhammad yang keempat, Rasulullah SAW menginginkan kemuliaan untuk masjid yang ada di kota beliau, kota kelahiran baginda. (Litah Tafsir al-Kabir, juz 4, hlm 121)Ā
Pergantian kiblat dari Baitul Maqdis ke Kaābah terjadi pada hari Selasa saat pertengahan bulan Syakban seperti dikatakan oleh Abu Hatim al-Basti.
Ā ŲµŁŁ Ų§ŁŁ Ų³ŁŁ ŁŁ Ų„ŁŁ ŲØŁŲŖ Ų§ŁŁ ŁŲÆŲ³ Ų³ŲØŲ¹Ų© Ų¹Ų“Ų± Ų“ŁŲ±Ų© ŁŲ«ŁŲ§Ų«Ų© Ų£ŁŲ§Ł Ų³ŁŲ§Ų”Ų ŁŲ°ŁŁ أ٠ŁŲÆŁŁ Ł Ų§ŁŁ ŲÆŁŁŲ© ŁŲ§Ł ŁŁŁ Ų§ŁŲ§Ų«ŁŁŁ ŁŲ§Ų«ŁŲŖŁ Ų¹Ų“Ų±Ų© ŁŁŁŲ© Ų®ŁŲŖ Ł Ł Ų“ŁŲ± Ų±ŲØŁŲ¹ Ų§ŁŲ£ŁŁŲ ŁŲ£Ł Ų±Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŲØŲ§Ų³ŲŖŁŲØŲ§Ł Ų§ŁŁŲ¹ŲØŲ© ŁŁŁ Ų§ŁŲ«ŁŲ§Ų«Ų§Ų” ŁŁŁŲµŁ Ł Ł Ų“Ų¹ŲØŲ§ŁĀ
āOrang muslim pernah shalat menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan tiga hari. Hal ini berdasarkan perhitungan Rasulullah saw tiba di Madinah pada Senin, tanggal 12 bulan Rabiāul awwal. Kemudian Allah swt memerintahkan Nabi saw untuk mengganti arah kiblat ke Kaābah pada hari Selasa pertengahan bulan Syaāban.ā (lihat Madza fi Syaāban, hlm. 10)Ā
![]()
(sumber:Ā Anadolu Agency)
Hikmah Pindahnya Arah Kiblat ke Kaābah
Menurut para ulama pakar tafsir, hikmah perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Kaābah diantaranya adalah sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman.Ā
Bagi mereka yang betul-betul beriman, instruksi ini langsung mereka patuhi. Tanpa komentar atau pun kritikan. Namun bagi mereka yang imannya masih lemah, akan meragukan dan mengira Nabi SAW tidak konsisten dengan pendiriannya.Ā
Terkait hal ini, Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 2 yaitu:
, ŁŁŁ ŁŲ§ Ų¬ŁŲ¹ŁŁŪ”ŁŁŲ§ ٱŁŪ”ŁŁŲØŪ”ŁŁŲ©Ł Ł±ŁŁŁŲŖŁŁ ŁŁŁŲŖŁ Ų¹ŁŁŁŁŪ”ŁŁŲ§Ł Ų„ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲ¹Ū”ŁŁŁ Ł Ł ŁŁ ŁŁŲŖŁŁŲØŁŲ¹Ł ٱŁŲ±ŁŁŲ³ŁŁŁŁ Ł ŁŁ ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŲØŁ Ų¹ŁŁŁŁŁ° Ų¹ŁŁŁŲØŁŁŪ”ŁŁŪ ŁŁŲ„ŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŲŖŪ” ŁŁŁŁŲØŁŁŲ±ŁŲ©Ł Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŁŁŁ Ł±ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŁŁŲÆŁŁ Ł±ŁŁŁŁŁŁŪĀ
Artinya: āDan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah.ā (QS. Al-Baqarah [2]:
Load more