Seorang Pendakwah Merokok saat Isi Ceramah, Memangnya Boleh? Hukumnya dalam Islam Menurut Buya Yahya...
- Tangkapan Layar YouTube Al-Bahjah TV
tvOnenews.com - Adab dalam mengisi ceramah merupakan bagian penting bagi seorang pendakwah untuk menyampaikan pesan tersirat kepada para jemaah di hadapannya.
Adab ceramah memberikan contoh perilaku yang harus dilakukan pendakwah saat mengajar atau memberikan pemahaman tentang ilmu agama Islam.
Sayangnya, zaman sekarang semakin marak pendakwah saat mengisi ceramah, mereka sambil merokok sebagaimana menunjukkan ada adab harus dipahami ketika berpidato di depan jemaah.
Terlebih lagi, jika mengacu pada ajaran Islam, hukum merokok dianggap kontroversi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan mengeluarkan fatwa mengharamkan rokok.
Namun, sebagian pendakwah melakukan pembelaan kalau merokok saat berceramah akan membuat mereka enjoy dan menikmati dalam menyampaikan ilmu pemahaman tentang ajaran agama Islam.
Terkait kasus ini, apa hukum ceramah sambil merokok dalam ajaran agama Islam? Buya Yahya kebetulan mendapat pertanyaan terkait hal tersebut.
Hukum Pendakwah Merokok saat Mengisi Ceramah

- iStockPhoto
Dinukil tvOnenews.com dari kanal YouTube Al-Bahjah TV, Senin (12/5/2025), Buya Yahya membahas tentang rokok dalam agama Islam.
Mulanya, seorang jemaah bertanya terkait dirinya sering mendengar ceramah seorang ustaz yang dinilai ilmunya mumpuni, tetapi pendakwah tersebut selalu merokok saat mengisi waktu kultumnya.
Jemaah itu bertanya-tanya apakah ustaz tersebut sudah memahami tentang hukum merokok dalam Islam atau belum. Terlebih, pendakwah itu menyalakan rokoknya ketika berceramah.
"Permasalahan rokok diperdebatkan, kami akan ajak Anda menjadi orang bijak bukan merendahkan," respons Buya Yahya.
Kemudian, Buya Yahya membahas pertanyaan jemaah tersebut terkait cara menyikapi dan membandingkan sosok ustaz yang merokok dan tidak merokok.
Buya Yahya berspekulasi kalau ustaz atau pendakwah berceramah sambil merokok, pastinya akan menimbulkan pertanyaan dan keheranan dari jemaah yang hadir.
Buya Yahya juga berpendapat terkait kondisi ustaz tidak merokok, pastinya sangat mudah diterima baik oleh jemaah, bahkan disegani oleh umat Muslim.
"Jadi, kalau ustaz perokok ini pasti di kalangan perokok oke satu mazhab, tapi di kalangan tidak merokok dia sebagian kurang," paparnya.
Walau perbedaannya sangat mencolok, pengasuh LPD Al-Bahjah itu mengimbau para jemaah agar tidak mempunyai spekulasi negatif kepada ustaz atau pendakwah yang merokok.
"Paling tidak di saat ketemu orang yang kurang, dakwah belum bisa masuk secara maksimal, selesai. Ini orang bijak, orang pintar, kita tidak ada mencaci," pesannya.
Keputusan seorang jemaah memilih seorang guru atau pendakwah sangat penting. Menurut Buya Yahya, cara ini sebagai solusi agar tidak mudah menghakimi orang lain.
"Anda pun bisa memilih dong dalam hal ini. Anda bijak (mengaji) dengan yang merokok pun Anda ngambil ilmunya tanpa harus merendahkan," jelasnya.
Lebih lanjut, Buya Yahya menyinggung setiap orang mukmin pastinya mempunyai pandangan sendiri terkait hukum merokok.
Namun demikian, mayoritas umat Muslim bahkan lembaga berbasis agama Islam pastinya memilih hukum rokok adalah haram dalam agama Islam.
"Kalau Anda meyakini bahwasanya rokok itu adalah haram, maka Anda mendoakan dan mohonkan ampun itu tanda iman," tegasnya.
Pesan ini agar setiap orang mukmin tidak perlu memperdebatkan pada persoalan pendakwah merokok atau tidak.
"Anda bisa memilih demi kebaikan anda, mungkin bisa menghindar dari ketidakbaikan yang dilakukan ustaz. Ingat tetap tidak boleh kita saling merendahkan, saling mencaci," tandasnya.
(adk/hap)
Load more