Masih Ingat Maria Febe Kusumastuti? Mantan Atlet Badminton Indonesia yang Dapat Hidayah, Mualaf hingga kini Jadi Pelatih Muslimah di Kanada!
- Instagram/@mariafebe13
tvOnenews.com - Masih ingat Maria Febe Kusumastuti? Mantan pebulutangkis tunggal putri andalan Indonesia yang mantap jadi mualaf. Simak kisahnya berikut ini.
Dunia bulutangkis Indonesia tidak hanya melahirkan deretan prestasi, tetapi juga kisah-kisah inspiratif yang membekas di hati publik.
Salah satunya datang dari mantan tunggal putri andalan Indonesia, Maria Febe Kusumastuti, yang kini dikenal sebagai Aisyah Febe setelah memutuskan menjadi mualaf.
Keputusannya mengucap dua kalimat syahadat bukanlah langkah instan, melainkan perjalanan panjang yang dimulai sejak masa kecil ketika ia kerap tertegun mendengar suara azan dari masjid dekat rumahnya di Boyolali.
Meski tumbuh di keluarga penganut Kristen yang taat, rasa damai yang muncul setiap kali mendengar lantunan azan membuat Febe semakin penasaran.
Namun, perasaan itu sempat menimbulkan ketegangan di rumah karena orang tuanya sering menegurnya ketika ia terlihat larut menikmati panggilan salat.

- Antara/Wahyu Putro
“Ceritanya panjang, jadi ada dorongan di hati. Dulu waktu saya kecil suka dengerin azan, cuma sama orang tua sampai ditegur,” ungkap Febe dalam program Close Up di UseeTV.
Dari Pebulutangkis Andalan ke Pencarian Hidayah
Lahir pada 30 September 1989, Maria Febe pernah menjadi salah satu tunggal putri terbaik Indonesia. Puncak prestasinya tercatat pada 2010 ketika ia menembus peringkat 18 dunia versi BWF.
Sejumlah gelar berhasil diraihnya, mulai dari juara Bitburger Open dan Australia Open, hingga runner-up Selandia Baru Open 2009. Karier gemilangnya membuat Febe menjadi bagian penting dari Pelatnas PBSI.
Lingkungan pelatnas inilah yang memperkuat langkah spiritualnya. Hampir setiap hari ia melihat rekan-rekannya yang mayoritas Muslim menjalankan ibadah, mulai dari salat lima waktu hingga tarawih di bulan Ramadan.
Dari sanalah rasa ingin tahu Febe berkembang menjadi dorongan kuat untuk mengenal Islam lebih dalam. Ia mulai mencari tahu ajaran agama yang sejak lama membuat hatinya terasa tenteram.
Mualaf Diam-Diam hingga Berhijrah
Keputusan besar akhirnya diambil setelah bertahun-tahun menyimpan rasa penasaran. Pada 2017, Febe resmi memeluk Islam melalui bimbingan Ustaz Baihaqi Arief secara telekonferensi dari Ontario, Kanada.
Hanya segelintir orang dekat yang mengetahui keputusannya saat itu karena ia memilih tidak banyak mengumumkan kepada publik, bahkan keluarganya sempat belum mengetahui.
“Yang tahu cuma orang tertentu doang, jadi cuma intinya aja. Aku gak mau nyebar-nyebar gitu, dan waktu itu juga orang tua aku belum tau,” tuturnya.
Tak lama setelah bersyahadat, Febe mengganti namanya menjadi Aisyah Febe. Ia juga menikah dengan sesama pebulutangkis, Andrei Adistia, pada Oktober 2017.
Sejak saat itu, hidupnya berubah bukan hanya secara spiritual, tetapi juga dalam cara ia menatap masa depan setelah pensiun dari dunia bulutangkis profesional.

- Instagram/@mariafebe13
Dari Atlet Dunia ke Pelatih Internasional
Febe memutuskan gantung raket pada usia 27 tahun setelah tampil di Indonesia Open 2017. Meski pensiun sebagai atlet, kecintaannya pada bulutangkis tidak pernah padam.
Ia kemudian melanjutkan kiprah di dunia olahraga ini sebagai pelatih. Kini, Febe bermukim di Kanada dan aktif membagikan pengalaman serta ilmunya kepada para pemain muda.
Sebelumnya, ia juga sempat melatih di beberapa negara lain, membuktikan bahwa pengabdiannya terhadap bulutangkis tetap berlanjut meski sudah tidak lagi tampil di lapangan.
“Saya merasa nyaman dan damai, terutama saat mendengar azan. Itu yang membuat hati saya tergerak,” kata Febe dalam wawancara dengan Okezone Sports.
Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa pengalaman kecil di masa lalu bisa menjadi titik awal perjalanan spiritual yang mengubah arah hidup seseorang.
Inspirasi dari Dunia Bulutangkis
Kisah Maria Febe bukanlah satu-satunya. Mantan rekan seangkatannya di tunggal putri, Adriyanti Firdasari, juga memilih berhijrah setelah pensiun.
Firdasari, runner-up Piala Uber 2008, resmi memeluk Islam dan memutuskan berhijab pasca-Indonesia Masters 2015.
Sama seperti Febe, Firdasari tetap mengabdikan diri pada bulutangkis dengan menjadi pelatih generasi muda.
Perjalanan kedua atlet ini menjadi bukti bahwa hidayah dapat hadir melalui pengalaman sederhana sekaligus membawa kedamaian yang mendalam.
Dukungan publik pun mengalir deras, bukan hanya dari penggemar bulutangkis, tetapi juga dari masyarakat luas yang terinspirasi oleh keberanian mereka menempuh jalan baru.
Kini, Aisyah Febe menjalani kehidupan barunya dengan penuh keyakinan, baik sebagai seorang Muslimah maupun pelatih bulutangkis.
Kisahnya mengajarkan bahwa perjalanan spiritual bisa berjalan beriringan dengan dedikasi terhadap olahraga, dan bahwa makna kesuksesan sejati bukan hanya soal prestasi di lapangan, melainkan juga kedamaian hati di luar arena. (udn)
Load more