Sering Baca Shalawat tapi Tidak Pernah Shalat, Bagaimana Statusnya dalam Islam? Begini Penjelasan Gus Baha
- iStockPhoto
"Kemudian Nabi SAW marah, 'Kamu jangan melaknat dia, karena dia suka (cinta) dengan Allah dan Rasulnya. Meskipun dia seorang peminum arak, tapi dia suka dengan Allah dan Rasul," ucap Gus Baha.
- Pexels/Alena Darmel
Dari kisah ini, Gus Baha menekankan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mencabut status kecintaan Khimar kepada Allah dan Rasul-Nya hanya karena perbuatan maksiat yang ia lakukan.
Dalam pandangan Ahlusunnah, pelaku maksiat tidak otomatis dianggap sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya.
Gus Baha menjelaskan bahwa maksiat sering kali bersumber dari kelemahan nafsu manusia.
Misalnya, ketika seseorang tergoda oleh pandangan dan pikirannya terbawa hingga saat shalat, hal itu merupakan bentuk kelemahan, bukan hilangnya iman.
Karena itu, sifat cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW tidak serta-merta lenyap hanya karena seseorang terjatuh dalam dosa.
"Semua kesalahan itu ya kesalahan saja, tapi tidak menjadikan kafir dan bukan berarti kita tidak cinta Allah dan Rasul," ujar Gus Baha.
- Pixabay
Pandangan ini kemudian dikaitkan dengan realitas saat ini, ketika ada orang yang belum melaksanakan shalat tetapi gemar mengikuti shalawatan.
"Makanya menurut saya kalau ada orang tidak shalat tapi ikut shalawatan, itu tidak masalah. Faktanya dia suka saat shalawatan. Bisa saja itu awal dia dapat hidayah," lanjutnya.
Gus Baha juga menanggapi pandangan sebagian kiai atau ahli fikih yang mempertanyakan manfaat shalawatan tanpa shalat.
Menurutnya, jika seseorang sama sekali tidak shalat dan tidak bershalawat, lalu dari mana jalan hidayah itu akan datang?
"Kalau dia tidak pernah shalawatan dan tidak shalat, lalu jalur hidayahnya darimana?" ujar Gus Baha.
Ia menegaskan bahwa tidak ada yang mengetahui amal mana yang diterima oleh Allah SWT. Bisa jadi, dari sekian banyak shalawat yang dilantunkan, ada satu atau dua yang menjadi sebab turunnya hidayah dan perubahan hidup seseorang. (gwn)
Load more