Shalat, Yasin 3 Kali dan Air Doa di Malam Nisfu Sya'ban, Adakah Dalilnya? Ini Penjelasan Ustaz Khalid Basalamah
- Pexels/Michael Burrows
tvOnenews.com - Pada pertengahan bulan Sya'ban, sebagian kaum muslimin berbondong-bondong meramaikan masjid.
Ada yang membawa air mineral untuk didoakan, ada pula yang menghidupkan malam Nisfu Sya'ban dengan membaca Surah Yasin tiga kali secara berjamaah, disertai niat panjang umur, kelapangan rezeki, hingga husnul khatimah.
Amalan-amalan ini telah lama menjadi tradisi di sebagian masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia.
Namun, benarkah seluruh amalan tersebut memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam?
Ustaz Khalid Basalamah memberikan penjelasan tegas agar kaum muslimin tidak terjebak dalam praktik ibadah yang tidak bersandar pada dalil shahih.

- Ilustrasi AI
Banyak Amalan Beredar, Tapi Dalilnya Tidak Jelas
Menurut Ustaz Khalid Basalamah, salah satu masalah utama yang sering terjadi adalah ketidakcermatan dalam memilah dalil.
Banyak amalan dilakukan karena kebiasaan turun-temurun, bukan karena tuntunan Rasulullah SAW.
“Ini banyak muslimin memang yang menyalahgunakan dalil-dalil. Mereka tidak memilah mana dalil yang shahih dan mana dalil yang lemah, apalagi hadis-hadis yang palsu,” jelas Ustaz Khalid Basalamah.
Ia menegaskan bahwa shalat khusus bernama shalat Nisfu Sya'ban tidak memiliki dasar hadis yang shahih.
Bahkan, hadis yang menyebutkan adanya shalat tertentu pada malam tersebut dinilai palsu.
“Hadis yang menjelaskan tentang adanya shalat di Nisfu Sya'ban secara khusus, namanya shalat Nisfu Sya'ban itu enggak ada. Hadisnya palsu, maudhu,” tegasnya.

- Pexels/Mikhail Nilov
Keutamaan Nisfu Sya'ban yang Benar
Meski demikian, Ustaz Khalid Basalamah tidak menafikan bahwa malam Nisfu Sya'ban memiliki keutamaan.
Keutamaan tersebut bukan terletak pada ritual khusus, melainkan pada anjuran memperbanyak shalat malam (tahajud) sebagaimana hari-hari lainnya.
Ia mengutip riwayat shahih yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW menghidupkan malam Nisfu Sya'ban dengan shalat malam.
“Ini hadis yang shahih, dan memang dianjurkan oleh para ulama mereka mendirikan shalat malam di malam itu. Shalat tahajudnya, shalat tahajud seperti biasa. Tidak ada shalat khusus, tidak ada malam khusus,” terangnya.
Artinya, shalat malam yang dilakukan tetap mengikuti tata cara shalat tahajud secara umum, tanpa tambahan niat atau bacaan tertentu yang tidak dicontohkan.

- Pexels/ Gül Işık
Puasa di Siang Hari Nisfu Sya'ban
Adapun terkait puasa, Ustaz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memang dikenal memperbanyak puasa di bulan Sya'ban.
Namun, puasa tersebut tidak diniatkan secara khusus sebagai puasa Nisfu Sya'ban.
“Siang harinya dianjurkan seseorang berpuasa karena Nabi SAW memperbanyak puasa di bulan Sya'ban. Tapi tidak diniatkan khusus puasa Nisfu Sya'ban,” jelasnya.
Jika bertepatan dengan puasa ayyamul bidh (tanggal 13, 14, dan 15), maka puasa tersebut tetap sah sebagai puasa sunnah yang umum, bukan puasa khusus Nisfu Sya'ban.

- Pexels/Murad Khan
Membaca Surah Yasin Tiga Kali dan Air Doa
Tradisi membaca Surah Yasin tiga kali di malam Nisfu Sya'ban juga disoroti oleh Ustaz Khalid Basalamah.
Ia menyebut bahwa tidak ada dalil shahih yang secara khusus menganjurkan amalan tersebut.
“Kalau masalah membaca Surah Yasin, ini tidak asing lagi di Indonesia. Yasin pindah rumah, Yasin orang mati, semua Yasin. Ditanya dalilnya, enggak ada dalil,” ujarnya.
Ia juga menyinggung hadis yang menyebut Surah Yasin sebagai jantung Al-Quran, yang ternyata berstatus lemah karena adanya perawi pendusta dalam sanadnya.
Begitu pula dengan praktik membawa air untuk didoakan secara khusus dengan bacaan tertentu, menurutnya, tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Ajakan Memurnikan Ibadah
Ustaz Khalid Basalamah menutup penjelasannya dengan ajakan agar umat Islam kembali memurnikan ibadah sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW.
“Kalau kita mau mengaku pengikut Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang murni, maka tidak mengamalkan apa yang tidak dicontohkan oleh Nabi,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW telah menyampaikan seluruh ajaran yang dibutuhkan umatnya sebelum wafat, sehingga tidak perlu menambah-nambah ritual ibadah.
“Jangan tambah-tambah agama. Biarkan dalam keadaan murni. Sedangkan yang murni saja sudah banyak yang kita tinggalkan, apalagi kalau ditambah-tambah,” pungkasnya. (gwn)
Load more