Kapan Niat Puasa Ramadhan Dibaca? Banyak yang Masih Salah Paham, Begini Penjelasannya
- Pexels/timur-weber
tvOnenews.com - Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Ia adalah ibadah agung yang dimulai dari sesuatu yang sangat mendasar namun menentukan sah atau tidaknya puasa, yaitu niat.
Tak sedikit umat Islam yang masih bertanya, bagaimana niat puasa Ramadhan yang benar dan kapan waktu membacanya?
Hakikat Niat dalam Puasa
Dalam Islam, niat adalah amalan hati. Ia menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan.
Seseorang bisa saja tidak makan seharian, tetapi tanpa niat, hal itu tidak bernilai puasa di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, puasa Ramadhan wajib didasari niat yang tulus karena Allah SWT.
Lafaz Niat Puasa Ramadhan
Secara umum, niat puasa Ramadhan yang populer di kalangan Muslim Indonesia adalah:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta‘ālā
“Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan karena Allah Ta’ala,”
Namun penting dipahami, yang wajib adalah niat di dalam hati, bukan sekadar melafalkan.
Jika seseorang sudah bertekad untuk berpuasa Ramadhan karena Allah, maka niatnya telah sah meskipun tidak diucapkan.
Kapan Niat Puasa Ramadhan Dibaca?
Di sinilah sering muncul kebingungan. Waktu niat puasa Ramadhan berkaitan dengan kapan puasa dimulai.
Mayoritas ulama, khususnya dalam mazhab Syafi’i yang banyak dianut di Indonesia, menjelaskan bahwa:
Niat puasa Ramadhan dilakukan pada malam hari, yaitu sejak setelah Maghrib hingga sebelum terbit fajar (Subuh).
Artinya, niat tidak boleh ditunda sampai siang hari. Jika seseorang lupa berniat di malam hari, puasanya tidak sah menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i.
Contoh praktisnya:
Berniat setelah shalat Tarawih → sah
Berniat sebelum tidur → sah
Berniat saat sahur → sah
Baru berniat setelah Subuh → tidak sah (untuk puasa wajib Ramadhan)
Apakah Harus Niat Setiap Malam?
Dalam mazhab Syafi’i:
Niat puasa Ramadhan wajib diperbarui setiap malam.
Karena setiap hari puasa dianggap sebagai ibadah tersendiri. Maka, niat untuk satu hari tidak otomatis mencakup hari berikutnya.
Namun ada pendapat lain dalam mazhab Maliki:
Boleh satu niat untuk sebulan penuh di awal Ramadhan, selama tidak terputus oleh hal yang membatalkan puasa (misalnya safar atau sakit).
Meski demikian, untuk kehati-hatian, banyak ulama menganjurkan tetap berniat setiap malam.
Bagaimana Jika Sudah Yakin Akan Puasa?
Pada praktiknya, seorang Muslim yang sadar bahwa esok hari masih Ramadhan, lalu ia makan sahur dan bersiap berpuasa, pada dasarnya niat sudah ada dalam hati. Tidak perlu merasa was-was berlebihan.
Niat bukanlah ritual yang memberatkan, tetapi kesadaran batin.
“Saya besok berpuasa Ramadhan karena Allah.”
Itu sudah cukup sebagai niat.
Niat adalah fondasi ibadah puasa. Tanpanya, puasa kehilangan makna syar’i. Waktu terbaik untuk menghadirkan niat adalah di malam hari, sebelum tidur atau saat sahur.
Tidak harus panjang, tidak harus dilafalkan, yang terpenting adalah keikhlasan dan kesadaran hati.
Semoga Allah SWT menerima puasa kita dan menjadikannya sebagai amal yang penuh keberkahan. (gwn)
Load more