Teks Khutbah Jumat Ramadhan 2026: Antara Nafsu, Setan, dan Kebiasaan Buruk Membayangi Diri Sendiri
- iStockPhoto
Jakarta, tvOnenews.com - Di bulan Ramadhan, umat Islam senantiasa menjalani kewajiban berpuasa. Selain itu, segala perbuatan buruk harus ditinggalkan sejauh-jauhnya.
Namun ada kalanya hawa nafsu, kebiasaan buruk yang menjadi ciri khas perbuatan setan masih sering terjadi di bulan Ramadhan. Hal tersebut tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Melalui teks khutbah Jumat singkat terbaru ini, pembahasan tentang nafsu, setan, dan kebiasaan buruk menjadi topik menarik untuk mengisi kegiatan pelaksanaan shalat Jumat selama bulan Ramadhan 2026.
tvOnenews.com memiliki tujuan membagikan tema tersebut. Walau bersifat singkat, tetapi mempunyai makna mendalam agar tidak terjebak lebih jauh terhadap hawa nafsu hingga kebiasaan buruk selama di bulan Ramadhan.
Teks Khutbah Jumat: Antara Nafsu, Setan, dan Kebiasaan Buruk Membayangi Diri Sendiri di Bulan Ramadhan

- iStockPhoto
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
Sidang Jumat rahimakumullah,
Marilah kita mengucapkan segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Berkat-Nya, kita masih bisa bertemu dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang paling berkah dipenuhi rahmat dan ampunan-Nya.
Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Karena beliau, kita sungguh sangat bersyukur betapa nikmatnya menjalani bulan Ramadhan.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Dalam sebuah hadis riwayat, penjelasan tentang setan dibelenggu sangat populer, begini bunyinya:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya: "Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelanggu."
Hadis riwayat tersebut berasal dari Imam Muslim dari Yahya bin Ayyub dan Ibnu Hajar. Kemudian, mereka meriwayatkannya dari Ismail bin Ja'far, Abu Suhail, ayahnya, Abu Hurairah, hingga Nabi Muhammad SAW.
Kesahahihan hadis riwayat tersebut tidak perlu diragukan. Tentu hadis riwayat ini berasal dari shahih Imam Muslim Nomor 1079.
Dengan demikian, hadis riwayat tersebut menjadi dasar terhadap keyakinan kita, bahwa Ramadhan sebagai momentum besar dan terbaik bagi kita senantiasa meningkatkan ketakwaan dan menjauhi maksiat.
Saudaraku jemaah shalat Jumat dikaruniai Allah,
Namun realitanya, hadis tersebut hanya sebatas hadis. Kita masih melihat maraknya perbuatan kemaksiatan di bulan Ramadhan.
Perbuatan maksiat tidak hanya berbuat tak senonoh, tetapi memiliki banyak bentuk, antara lain sulit menjaga lisan, pandangan liar, pembunuhan, pemerkosaan, hingga perilaku yang melanggar syariat.
Belakangan ini, banyak kasus yang menjadi pemberitaan nasional. Hal itu terjadi sejak awal Ramadhan hingga sekarang.
Maka dari itu, banyak pertanyaan mengenai hadis riwayat tersebut, "jika setan dibelenggu, mengapa manusia masih berbuat dosa?". Pertanyaan ini sering muncul tetapi menjadi bahan penting bermuhasabah agar istiqomah pada segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Terkait makna "setan dibelenggu", para ulama menegaskan pemahaman ini tidak harus selalu harfiah. Beberapa pendapat lainnya menegaskan setan tidak sepenuhnya hilang.
Setan hanya melemah. Kekuatan maupun pergerakannya sangat terbatas dalam urusan menggoda manusia selama di bulan Ramadhan.
Imam Ibnu Hajar pernah menyampaikan efek kaum Muslimin sibuk dengan ibadah seperti puasa, shalat, dan membaca Al-Quran. Dampaknya tentu mengurangi pengaruh setan di bulan Ramadhan.
Akan tetapi melalui penjelasan ini, peluang maksiat tetap ada. Namun umat Muslim seharusnya sudah jauh mengurangi perbuatan buruknya dibandingkan dengan bulan lainnya.
Kemudian, khatib akan menjelaskan apa saja faktor utama maksiat. Setidaknya ada dua hal yang menjadi pemicu di Ramadhan, yakni nafsu dan kebiasaan buruk.
Para ulama termasuk Ibnu Taimiyyah memaparkan penyebab utama orang mukmin sulit menahan istiqomahnya alias berbuat maksiat di bulan Ramadhan. Pertama, sulit menahan hawa nafsu mereka.
Hawa nafsu tidak ikut dibelenggu. Justru bagian ini menjadi tantangan seberapa jauh orang mukmin kuat menahan nafsu agar terhindar dari segala dosa.
Untuk itu, musuh terbesar manusia adalah diri sendiri. Melalui hawa nafsu, orang mukmin bertugas menjalani pengendalian diri dari perbuatan maksiat yang rentan terjadi khususnya berasal dari godaan eksternal.
Khutbah II
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Demikianlah khutbah pertama disampaikan pada hari ini. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melatih pengendalian diri.
Orang mukmin sangat dipersilakan memperbanyak ibadah seperti shalat, tilawah Al-Quran, dan dzikir. Selain itu, marilah kita menjaga lingkungan dan pergaulan guna tidak terjerumus kebiasaan buruk di bulan Ramadhan.
Kemudian, marilah kita menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan. Kemenangan sejati tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan mampu membuat hawa nafsu kalah dalam diri sendiri.
Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk menjaga diri dari maksiat dan menjadikan kita hamba yang bertakwa. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.
Penutup Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامَنَا صِيَامَ الصَّائِمِينَ، وَقِيَامَنَا قِيَامَ الْقَائِمِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ.
Artinya: "Ya Allah, jadikan puasa kami seperti puasa orang-orang yang benar-benar berpuasa, dan shalat kami seperti shalat orang-orang yang benar-benar berdiri, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang bertakwa."
(hap)
Sumber Referensi: Quran Kemenag RI, NU Online, MUI, Rumaysho, Jurnal UINSU, Yayasan Amal Jariyah Indonesia, dan berbagai sumber lainnya.
Load more