Teks Khutbah Idul Adha 1447 H Singkat Terbaru: Kesabaran Nabi Ibrahim AS yang Sempurna
- iStockPhoto
Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Nabi Ibrahim AS akhirnya dianugerahi seorang putra bernama Ismail dari istrinya, Siti Hajar. Kehadiran Nabi Ismail menjadi kebahagiaan besar karena beliau lahir saat Nabi Ibrahim telah berusia lanjut, sekitar 100 tahun.
Namun kemudian Allah SWT menguji Nabi Ibrahim AS melalui sebuah mimpi agar menyembelih putra tercintanya yang saat itu telah beranjak remaja. Kisah tersebut diabadikan dalam Al-Quran surat Ash-Shaffat ayat 102:
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ
Artinya: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu“
Perintah tersebut menjadi ujian yang sangat berat bagi Nabi Ibrahim AS. Anak yang telah lama dinantikan justru harus dikorbankan atas perintah Allah SWT. Meski demikian, Nabi Ibrahim AS menerima perintah itu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
اللهُ اَكبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ
Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Dalam menjelaskan tentang kesabaran, Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa sabar terbagi menjadi tiga macam:
وَالصَّبْرُ عَلَى أَوْجُهٍ: صَبْرٌ عَلَى طَاعَةِ اللهِ، وَصَبْرٌ عَلَى مَحَارِمِهِ، وَصَبْرٌ عَلَى اْلمُصِيْبَةِ
Artinya: “Sabar itu terdiri dari beberapa bagian, yaitu (1) sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, (2) sabar dalam menjahui larangan-larangan Allah, (3) sabar dalam menerima musibah.” (Al-Ghazali, Mukâsyafatul Qulûb, [Beirut, Dâr al-Qalam], halaman 16).
Jika direnungkan, Nabi Ibrahim AS telah menunjukkan ketiga bentuk kesabaran tersebut secara sempurna. Beliau sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar meninggalkan larangan-Nya, dan sabar ketika menghadapi ujian berat.
Kesabaran pertama terlihat saat Nabi Ibrahim AS tetap menjalankan perintah Allah meskipun hati beliau dipenuhi kesedihan. Sebagai manusia biasa, beliau tentu memiliki rasa cinta kepada putranya. Namun kesedihan itu berubah menjadi keteguhan setelah mendengar jawaban Nabi Ismail AS:
Load more