Benarkah Bulan Suro Tidak Baik untuk Menikah? Ini Penjelasan Buya Yahya
- Ilustrasi AI/ChatGPT
tvOnenews.com - Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang jatuh pada Juni 2026 kembali mengingatkan umat Muslim akan datangnya bulan Muharram, salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam.Â
Namun di tengah masyarakat Jawa, Muharram lebih dikenal sebagai Bulan Suro yang selama ini lekat dengan berbagai tradisi dan kepercayaan turun-temurun.
Tak sedikit masyarakat yang meyakini adanya sejumlah pantangan pada Bulan Suro, mulai dari larangan menggelar hajatan, membangun rumah, hingga menikah.Â
Bahkan, ada anggapan bahwa pasangan yang melangsungkan pernikahan pada bulan tersebut akan menghadapi kesulitan atau malapetaka dalam rumah tangganya.
Lalu, benarkah Bulan Suro atau Muharram merupakan waktu yang tidak baik untuk menikah?Â
Buya Yahya memberikan penjelasan terkait pandangan Islam mengenai hal tersebut.
- Tangkapan Layar YouTube Al Bahjah TV
Muharram Adalah Bulan Mulia dalam Islam
Dalam sebuah kajiannya, Buya Yahya menegaskan bahwa Islam tidak mengenal adanya bulan sial untuk melangsungkan pernikahan.Â
Menurutnya, seluruh waktu yang diciptakan Allah adalah baik dan tidak ada satu bulan pun yang dapat mendatangkan kesialan bagi seseorang.
"Tidak ada bulan baik dan tidak ada bulan buruk untuk menikah," ungkap Buya Yahya.
Pengasuh LPD Al-Bahjah itu menjelaskan bahwa keyakinan mengenai bulan tertentu yang dianggap membawa kesialan tidak sejalan dengan ajaran Islam.Â
Sebab, kebahagiaan maupun ujian dalam rumah tangga bukan ditentukan oleh waktu pernikahan, melainkan oleh kehendak Allah SWT serta usaha pasangan dalam menjalani kehidupan bersama.
Buya Yahya juga mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada anggapan bahwa menikah di Bulan Suro akan membawa nasib buruk.
"Kalau ada yang mengatakan bulan ini tidak baik untuk menikah, itu tidak benar dalam syariat Islam," ujarnya.
- Pixabay
Tidak Ada Larangan Menikah di Bulan Suro
Menurut Buya Yahya, jika seseorang telah siap menikah dan seluruh syarat serta rukunnya telah terpenuhi, maka tidak ada alasan untuk menunda pernikahan hanya karena menunggu bulan yang dianggap lebih baik.
Muharram sendiri merupakan salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah SWT.Â
Karena kemuliaannya, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah, berpuasa sunnah, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah.
Oleh sebab itu, Buya Yahya menilai tidak tepat jika bulan yang mulia justru dianggap sebagai bulan yang harus dihindari untuk melakukan kebaikan, termasuk menikah.
"Semua bulan adalah ciptaan Allah. Tidak ada bulan yang membuat orang celaka karena menikah di bulan itu," kata Buya Yahya.
Rumah Tangga Bahagia Bukan Ditentukan Bulan Pernikahan
Buya Yahya menekankan bahwa keberhasilan sebuah rumah tangga tidak ditentukan oleh kapan akad nikah dilaksanakan.Â
Kebahagiaan keluarga lebih dipengaruhi oleh komitmen pasangan, akhlak yang baik, serta kemampuan menjaga hubungan sesuai tuntunan agama.
Banyak pasangan yang menikah di bulan yang dianggap baik oleh sebagian orang tetapi tetap menghadapi berbagai masalah.Â
Sebaliknya, tidak sedikit pasangan yang menikah pada waktu yang dianggap kurang baik justru hidup harmonis dan bahagia.
Karena itu, umat Islam tidak perlu merasa khawatir jika ingin melangsungkan pernikahan pada Bulan Muharram atau Suro.
Hindari Keyakinan yang Tidak Berdasar
Buya Yahya pun mengajak masyarakat untuk membedakan antara tradisi budaya dan keyakinan agama.Â
Tradisi boleh saja dilestarikan selama tidak bertentangan dengan syariat, namun jangan sampai menimbulkan keyakinan bahwa ada waktu tertentu yang membawa kesialan.
Dengan demikian, anggapan bahwa Bulan Suro tidak baik untuk menikah tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.Â
Sebaliknya, Muharram merupakan bulan yang penuh keberkahan dan dapat menjadi waktu yang baik untuk memulai lembaran baru dalam kehidupan, termasuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Â (gwn)
Load more