Ustaz Khalid Basalamah Ungkap Kisah Orang Miskin yang Menolak Emas, Pesannya Bikin Haru: Yakinlah kepada Allah
- Tangkapan Layar YouTube Khalid Basalamah Official
tvOnenews.com - Setiap manusia pasti pernah menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya.
Ada kalanya seseorang harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kehilangan pekerjaan, bahkan tidak memiliki cukup uang untuk sekadar membeli makanan.
Dalam kondisi seperti itu, rasa khawatir dan putus asa terkadang muncul.
Namun, sebagai seorang Muslim, setiap kesulitan hendaknya menjadi pengingat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan tidak pernah kehilangan keyakinan terhadap pertolongan-Nya.
Ustaz Khalid Basalamah dalam salah satu ceramahnya mengingatkan pentingnya menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT.
Ia kemudian menceritakan dua kisah inspiratif tentang orang-orang miskin yang tetap menjaga keimanan dan kejujuran meskipun berada dalam kondisi sangat sulit.
Kisah pertama menceritakan seorang laki-laki yang hidup dari penghasilan harian.
Suatu hari, ia berkeliling mencari pekerjaan, tetapi tidak mendapatkan rezeki sedikit pun.
Padahal, istri dan anak-anaknya sudah menunggu di rumah dalam keadaan lapar.
Ketika pulang selepas Isya, sang istri menyambutnya dengan harapan suaminya membawa makanan untuk keluarga.
Namun, melihat tangan suaminya kosong, sang istri bertanya apakah hari itu tidak ada makanan yang bisa dibawa pulang.
Laki-laki tersebut menjelaskan bahwa dirinya sudah berusaha mencari pekerjaan ke berbagai tempat, tetapi tidak menemukan apa pun.
Sang istri kemudian mengungkapkan bahwa dirinya dan anak-anak belum makan sejak pagi.
Mendengar hal itu, laki-laki tersebut memutuskan beristirahat sejenak sebelum kembali keluar mencari rezeki.
Meski sudah larut malam, ia tidak menyerah. Dalam perjalanan, ia terus berdoa kepada Allah SWT agar diberikan jalan keluar.
Hingga akhirnya, ia melihat sebuah masjid yang berada tidak jauh dari rumahnya. Ia pun mengambil air wudu, melaksanakan shalat, dan memanjatkan doa agar Allah memberikan rezeki untuk keluarganya.
Tanpa disangka, pada malam yang sama, seorang raja di wilayah tersebut juga sedang mengalami kegelisahan.
Hatinya tergerak untuk bersedekah karena merasa takut menghadap Allah SWT tanpa memiliki bekal amal yang cukup.
Raja itu kemudian menyiapkan beberapa kantong berisi emas dan pergi seorang diri menggunakan kuda.
Ia membiarkan kudanya berjalan tanpa mengarahkan tali kekangnya, sembari memohon petunjuk kepada Allah.
Takdir membawa kuda tersebut berhenti tepat di halaman masjid tempat laki-laki miskin tadi sedang berdoa.
Ketika masuk ke dalam masjid, sang raja mendengar seseorang sedang memohon pertolongan Allah karena tidak memiliki makanan untuk keluarganya.
Setelah mendekat dan memperkenalkan diri, raja tersebut mengatakan bahwa dirinya membawa sejumlah kantong emas untuk disedekahkan.
Ia pun menawarkan seluruh emas tersebut kepada laki-laki miskin itu sebagai sedekah.
Namun, jawaban laki-laki tersebut justru membuat sang raja takjub.
"Wahai Tuan, kalau seandainya saya pun masih punya kebutuhan selain apa yang Anda akan berikan kepada saya ini, maka saya tidak akan datang minta kepada Anda. Tapi saya akan minta kepada Allah yang telah mengirim Anda datang kepada saya."
Kisah tersebut menunjukkan betapa kuat keyakinan seorang hamba yang menggantungkan hidupnya kepada Allah SWT.
Ia memahami bahwa raja hanyalah perantara, sedangkan Allah merupakan satu-satunya tempat meminta pertolongan.
Kisah Orang Miskin yang Menolak Mengambil Emas Meski Keluarganya Kelaparan
Ustaz Khalid Basalamah juga menceritakan kisah lain yang dinukil dari Imam At-Tabari.
Cerita tersebut menggambarkan kejujuran seorang laki-laki tua yang tetap menjaga amanah meskipun hidup dalam kemiskinan.
Dalam kisah itu, Imam At-Tabari menceritakan seorang laki-laki berusia sekitar 60 hingga 70 tahun yang harus menanggung kehidupan delapan perempuan di keluarganya.
Mereka terdiri dari istri, empat anak perempuan, ibu mertua, serta dua saudara perempuannya.
Seluruh kebutuhan keluarga tersebut bergantung pada penghasilan laki-laki tua itu.
Suatu ketika, tepat pada awal Ramadhan di Makkah, laki-laki tersebut berusaha mencari makanan untuk keluarganya. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil.
Padahal, keluarganya harus menjalani sahur dan berbuka puasa dalam kondisi serba kekurangan.
Karena belum mendapatkan rezeki, ia kembali keluar rumah untuk mencari jalan agar keluarganya bisa makan.
Dalam perjalanan, ia beristirahat di bawah sebuah pohon. Saat tangannya menyentuh tanah, ia merasakan ada benda keras yang ternyata sebuah kotak.
Betapa terkejutnya ia ketika membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sekitar 1.000 keping dinar emas.
Bagi orang yang hidup dalam kemiskinan, temuan tersebut tentu menjadi godaan yang sangat besar.
Dengan mengambil satu keping saja, ia sebenarnya sudah bisa membeli makanan untuk keluarganya.
Namun, laki-laki tua itu memilih tidak menyentuh satu pun emas tersebut karena menyadari bahwa benda itu bukan miliknya.
Ia kemudian membawa kotak tersebut pulang dan menyimpannya dengan aman. Ketika istrinya mengetahui barang yang dibawa suaminya, ia sempat menyarankan agar sebagian emas digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Akan tetapi, laki-laki tersebut tetap menolak.
Ia memahami bahwa barang temuan atau luqathah memiliki ketentuan dalam Islam.
Harta tersebut tidak boleh langsung diambil sebagai milik pribadi, melainkan harus diumumkan dan dijaga sesuai ketentuan syariat.
Bahkan, ketika istrinya terus membujuk agar setidaknya satu keping emas digunakan untuk membeli makanan, ia tetap tidak bergeming.
Akhirnya, mereka menjalani malam Ramadan dengan makanan seadanya, hanya air putih dan roti kering.
Keesokan harinya, setelah shalat Subuh di Masjidil Haram, laki-laki tersebut mendengar seseorang dari Khurasan mengumumkan kehilangan sebuah kotak berisi 1.000 dinar emas.
Orang tersebut meminta siapa pun yang menemukan kotak itu agar mengembalikannya.
Laki-laki tua itu kemudian menghampiri pemiliknya dan bertanya apakah ada imbalan bagi orang yang mengembalikan harta tersebut.
Namun, orang dari Khurasan itu menolak memberikan imbalan apa pun. Ia hanya berharap Allah memberikan pahala kepada orang yang menemukan dan mengembalikan hartanya.
Laki-laki tua itu tidak langsung menyerah. Ia kembali mencoba bernegosiasi, bahkan meminta bagian sepersepuluh dari emas tersebut.
Namun, pemiliknya tetap menolak.
Pada akhirnya, laki-laki tua itu memutuskan mengembalikan seluruh kotak emas tanpa mengambil satu keping pun.
Imam At-Tabari yang menyaksikan kisah tersebut kemudian mengikuti laki-laki tua itu hingga ke rumahnya.
Di sana, ia melihat kondisi keluarga yang sangat memprihatinkan. Rumah mereka berdinding tanah liat, atapnya hanya ditutup kain-kain usang, dan hampir tidak memiliki perabotan.
Bahkan, menurut cerita tersebut, keluarga itu hanya mempunyai satu pakaian yang layak untuk shalat.
Pakaian tersebut digunakan secara bergantian oleh anggota keluarga ketika hendak menunaikan ibadah.
Melihat keadaan itu, orang dari Khurasan akhirnya kembali mendatangi rumah mereka.
Ia kemudian mengungkapkan alasan mengapa sejak awal menolak memberikan imbalan atas penemuan kotak emas tersebut.
Ternyata, ayahnya meninggalkan tiga kotak berisi masing-masing 1.000 dinar emas.
Salah satu kotak diperuntukkan sebagai warisan, satu kotak untuk biaya ibadah haji, sedangkan satu kotak lainnya harus diberikan kepada seseorang yang sangat miskin agar kehidupannya menjadi lebih baik.
Orang Khurasan tersebut sengaja tidak memberikan imbalan karena ingin memastikan apakah laki-laki tua itu benar-benar hidup dalam kesulitan dan layak menerima amanah dari ayahnya.
Setelah melihat langsung kondisi keluarga tersebut, ia akhirnya menyerahkan seluruh 1.000 dinar emas sebagai sedekah atas nama ayahnya.
Kebahagiaan pun menyelimuti keluarga miskin itu. Laki-laki tua tersebut kemudian membagikan emas secara merata kepada anggota keluarga yang hadir, termasuk Imam At-Tabari yang turut menyaksikan peristiwa tersebut.
Ia juga mengingatkan istrinya bahwa kesabaran dan kejujuran mereka telah membawa hasil yang jauh lebih baik daripada mengambil satu keping emas yang bukan hak mereka.
Bertahun-tahun kemudian, Imam At-Tabari kembali ke Makkah dan mencari keluarga tersebut. Ia mendapati bahwa rumah yang dahulu mereka tempati sudah tidak ada.
Setelah mencari tahu, ternyata laki-laki tua itu telah meninggal dunia. Sementara itu, keempat anak perempuannya telah menikah dengan tokoh masyarakat Makkah dan hidup dalam keadaan berkecukupan.
Ustaz Khalid Basalamah Ingatkan Pentingnya Sabar dan Terus Berikhtiar
Dari kedua kisah tersebut, Ustaz Khalid Basalamah mengajak umat Islam untuk tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kesulitan hidup.
Menurutnya, setiap cobaan harus dihadapi dengan kesabaran, keyakinan kepada Allah, serta usaha yang tidak boleh berhenti.
Ia juga mengingatkan agar seseorang yang sedang tertimpa musibah tidak hanya melihat kesulitan yang dialaminya, tetapi juga memperhatikan orang-orang yang menghadapi ujian lebih berat.
Dengan begitu, seseorang akan lebih mudah menyadari betapa banyak nikmat Allah yang masih dimilikinya.
Ustaz Khalid kemudian mengingatkan firman Allah SWT dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 155-156 tentang ujian kehidupan dan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.
Allah SWT berfirman:
وَلَـنَبۡلُوَنَّكُمۡ بِشَىۡءٍ مِّنَ الۡخَـوۡفِ وَالۡجُـوۡعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَالۡاَنۡفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيۡنَۙ
الَّذِيۡنَ اِذَآ اَصَابَتۡهُمۡ مُّصِيۡبَةٌ ۙ قَالُوۡٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـآ اِلَيۡهِ رٰجِعُوۡنَؕ
Artinya:
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.'"
Menurut Ustaz Khalid, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa ketakutan, kelaparan, kehilangan harta, hingga kehilangan pekerjaan merupakan bagian dari ujian kehidupan.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya tetap bersabar dan tidak kehilangan harapan kepada Allah SWT.
Namun, sabar bukan berarti hanya berdiam diri dan menunggu pertolongan datang. Umat Islam tetap harus berusaha mencari jalan keluar, bekerja, berdoa, serta saling membantu.
Ia juga mengingatkan agar suami dan istri tidak saling menyalahkan ketika keluarga sedang menghadapi kesulitan ekonomi. (gwn)
Load more