Ditinggal Megatron, Ko Hee-jin Resmi Mundur dari Red Sparks: Bukan karena Prestasi, Ini Kasus yang Mengguncang Tim
- Red Sparks
tvOnenews.com - Kepergian Megawati Hangestri Pertiwi ternyata bukan satu-satunya perubahan besar yang terjadi di Daejeon JungKwanJang Red Sparks. Ketika klub tersebut bersiap menyambut musim baru Liga Voli Korea 2026/2027, kursi pelatih kepala justru ikut mengalami perubahan drastis.
Ko Hee-jin, sosok yang selama beberapa musim menjadi nakhoda Red Sparks sekaligus pelatih yang membawa Megatron ke kompetisi voli Korea Selatan, resmi meninggalkan jabatannya. Pengunduran diri tersebut diumumkan klub pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Keputusan itu bukan berkaitan dengan hasil pertandingan atau kegagalan teknis di lapangan. Ko Hee-jin memilih mundur setelah terseret polemik dugaan tindakan tidak pantas yang dilakukan salah satu staf kepelatihan terhadap pemain dalam sebuah acara makan bersama tim pada Januari 2026.
Ko tidak disebut sebagai pelaku tindakan tersebut, tetapi sebagai kepala pelatih ia mengambil tanggung jawab atas persoalan yang terjadi di lingkungan tim.
Ko Hee-jin Resmi Tinggalkan Red Sparks
Red Sparks mengumumkan keputusan tersebut melalui pernyataan resmi klub. Manajemen menyebut Ko Hee-jin telah menyampaikan keinginannya untuk mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab atas rangkaian persoalan yang terjadi.
"Klub telah memutuskan untuk menerima pengunduran diri secara suka rela dari kepala pelatih Ko Hee-jin," tulis Red Sparks dalam pernyataan resminya.
Klub juga menyatakan akan segera menjalankan proses pencarian pelatih pengganti agar para pemain dapat kembali berkonsentrasi menjalani latihan dan persiapan pertandingan.
"Klub akan segera memulai proses penunjukkan seorang suksesor agar skuad dapat fokus dengan latihan dan persiapan menuju pertandingan."
Red Sparks juga berjanji melakukan berbagai langkah untuk mengembalikan stabilitas internal tim secepat mungkin.
- KOVO
Pengunduran diri ini sekaligus mengakhiri perjalanan Ko Hee-jin yang telah menangani Red Sparks sejak 2022. Sebelumnya, ia bahkan mendapat perpanjangan kontrak pada April 2024 dengan durasi 2+1 tahun.
Dugaan Kasus Pelecehan
Kasus yang membuat nama Ko Hee-jin ikut terseret bermula dari sebuah acara makan bersama tim saat jeda All-Star pada Januari 2026.
Dalam acara tersebut, salah satu staf kepelatihan disebut melakukan tindakan tidak pantas terhadap seorang pemain. Kasus tersebut kemudian diketahui oleh pihak klub pada Mei.
Red Sparks selanjutnya memisahkan pihak-pihak yang terkait dan staf kepelatihan yang diduga terlibat akhirnya meninggalkan klub. Perkara tersebut juga dilaporkan kepada Korean Volleyball Federation (KOVO) dan Sports Ethics Center untuk diperiksa lebih lanjut.
Posisi Ko Hee-jin menjadi sorotan karena ia berada di lokasi acara tersebut. Namun, berdasarkan laporan media Korea, Ko mengatakan dirinya tidak melihat langsung tindakan yang dipermasalahkan.
Meski demikian, sebagai pelatih kepala, ia kemudian mengambil tanggung jawab atas persoalan yang terjadi dalam lingkungan tim. Ko juga telah dinonaktifkan dari aktivitas tim sejak kasus tersebut mencuat pada Mei.
Dengan demikian, pengunduran diri Ko Hee-jin tidak dapat diartikan bahwa dirinya merupakan pelaku pelecehan. Kasus dugaan tindakan tidak pantas tersebut melibatkan staf lain dan proses pemeriksaannya masih berjalan.
Seorang pejabat KOVO juga menyatakan hasil investigasi Sports Ethics Center belum diterima federasi.
"Hasil penyeledikan resmi dari Komite Etik Olahraga belum disampaikan kepada federasi," ucap pejabat KOVO, dilansir NoCutNews.co.kr.
"Segera setelah menerima pemberitahuan, kami berencana untuk menentukan apakah kasus ini akan diajukan ke Komite Disiplin."
Artinya, proses hukum dan disipliner terkait insiden tersebut belum sepenuhnya berakhir.
Kisah Akhir Ko Hee-jin Bersama Red Sparks?
Mundurnya Ko Hee-jin juga menarik perhatian penggemar Indonesia karena ia memiliki hubungan erat dengan perjalanan Megawati di Liga Voli Korea.
Ko merupakan sosok yang memilih Megawati pada edisi pertama Asian Quarter Draft pada 2023. Saat itu Red Sparks mendapatkan kesempatan memilih di urutan ketiga.
Kepercayaan tersebut kemudian dijawab Megawati melalui performa impresif. Bersama Red Sparks, pemain asal Indonesia itu membantu klub kembali menjadi salah satu kekuatan penting di V-League.
Red Sparks bahkan mampu mencapai final V-League 2024/2025 dan memaksa Incheon Heungkuk Life Pink Spiders memainkan lima pertandingan dalam seri final.
Namun, setelah periode tersebut, Red Sparks mengalami perubahan besar. Megawati memilih tidak memperpanjang kontrak dan akhirnya bergabung dengan Suwon Hyundai E&C Hillstate untuk musim 2026/2027.
Red Sparks juga kehilangan sejumlah pemain inti dan menghadapi persoalan cedera yang berdampak pada performa tim. Pada musim berikutnya, mereka bahkan harus finis di posisi terbawah klasemen.
Menariknya, ketika Red Sparks kembali dikaitkan dengan kemungkinan merekrut Megawati, klub akhirnya memilih pemain China Zhong Hui. Megawati pun memulai babak baru bersama Hyundai Hillstate.
Kini, Ko Hee-jin juga meninggalkan Red Sparks. Dengan demikian, dua sosok yang pernah menjadi bagian penting dari kebangkitan klub tersebut telah mengambil jalan masing-masing.
Bagi Red Sparks, tantangan berikutnya bukan hanya menemukan pelatih baru. Klub juga harus memastikan persoalan internal tidak mengganggu persiapan menghadapi musim 2026/2027.
Manajemen menyatakan proses pencarian pengganti Ko Hee-jin akan segera dimulai. Tujuannya jelas: mengembalikan fokus pemain sekaligus memulihkan stabilitas tim setelah berbagai kontroversi yang mengguncang klub.
Sementara itu, Megawati akan menjalani tantangan baru bersama Hyundai Hillstate. Duetnya dengan Jordan Wilson diproyeksikan menjadi salah satu senjata utama klub tersebut pada musim mendatang.
Dengan situasi yang berbalik begitu cepat, musim 2026/2027 bukan hanya akan menjadi babak baru bagi Megawati, tetapi juga menjadi awal era berbeda bagi Red Sparks tanpa sosok Ko Hee-jin di pinggir lapangan. (udn)
Load more