- Antara
Gubernur KDM Tak Tinggal Diam, Desak Pemkab Lakukan 4 Upaya Penting Imbas Bencana Banjir Selalu Terpa Bandung
Ia mendesak Pemkab Bandung agar lahan yang seharusnya menjadi tempat produktif menyerap air kembali mengalami gangguan akibat masifnya pembangunan, terutama di area persawahan.
"Yang keempat, perubahan lahannya jangan terus terjadi. Sawah malah selalu dibuat bangunan, perumahan, dan segala macam," pesannya.
Dedi Mulyadi Soroti Hunian di Area Risiko Tinggi
Dedi Mulyadi menyoroti banyaknya permukiman di area risiko tinggi. Contohnya banyak permukiman di sepanjang bantaran sungai.
Ia menegaskan, proses pemidahan pemukiman sebagai syarat mutlak. Baginya, hal ini sebagai solusi agar terhindar dari persoalan banjir secara permanen baik di Bandung maupun Jawa Barat.
"Kalau tidak segera dilakukan, balik lagi itu tidak akan bersifat jangka panjang, tidak akan berhasil. Soalnya, berikutnya adalah rumah-rumah di bantaran sungainya harus dialihkan," bebernya.
KDM meyakini risiko banjir akan terus menghantui wilayah Bandung Raya, terutama setiap memasuki fase musim hujan. Hal ini bisa terjadi apabila langkah radikal menangani tata ruang ini tidak segera dilakukan oleh pemerintah.
Walau begitu, ia tidak mempersoalkan terkait kebijakan moratorium izin perumahan di Jabar yang kini masih berlanjut, khususnya di wilayah Bandung Raya.
Dedi Mulyadi sendiri pernah mengeluarkan kebijakan ini. Bukan tanpa alasan, tujuannya sebagai solusi memutus berbagai bencana alam termasuk banjir bandang yang menerpa Bandung Raya dan Jabar.
Diketahui, belakangan ini genangan air banjir merembes masuk ke sela-sela rumah di kawasan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung sejak Senin (13/4/2026).
Warga mengaku kesulitan untuk beraktivitas hingga melanjutkan untuk mencari nafkah akibat genangan banjir. Pada akhirnya, warga terpaksa menerjang banjir dengan membawa bekal pakaian ganti.
Rata-rata ketinggian air banjir yang mengepung Desa Dayeuhkolot, Citereup, Cangkuang Wetan hingga Kelurahan Pasawahan mencapai satu meter lebih, bahkan menyentuh 150 sentimeter.
Genangan air banjir berlangsung selama beberapa hari sehingga menimbulkan keresahan warga. Kegelisahan itu terjadi lantaran tidak adanya solusi dari pemerintah menangani genangan yang mengepung permukiman warga.
Selain di kawasan Dayeuhkolot, hujan deras terus-menerus membuat aliran Sungai Cibanjaran semakin kuat. Hal ini menyebabkan sejumlah warga dilaporkan terseret arus, tepatnya di Kampung Sasak Dua, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung pada Rabu (15/4/2026) sore hari WIB.