- Goodreads.com
Review Buku Lebih Senyap Dari Bisikan, Ketika Menjadi Ibu Berarti Menanggung Dunia Sendirian
Jakarta, tvOnenews.com - “Di akhirat nanti, kalau aku ketemu Tuhan, akan kutanyakan kenapa Dia bikin tubuh perempuan seperti makanan kaleng. Kubayangkan di bawah pusar atau pantatku ada tulisan: Best Before: Mei 2026.”
Kalimat yang tertera di sampul belakang novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma ini langsung menarik perhatian saya.
Lucu, sinis, tetapi juga menyimpan kegetiran yang nyata. Sebuah kegelisahan yang mungkin pernah dan masih dirasakan banyak perempuan ketika usia mereka mulai dihubungkan dengan pernikahan, kehamilan, dan kemampuan memiliki anak.
Dari kalimat itu saja, mungkin pembaca sudah bisa menebak bahwa novel ini akan berbicara tentang perempuan. Bukan perempuan yang sempurna, melainkan perempuan yang lelah menghadapi berbagai tuntutan yang datang dari lingkungan sekitarnya.
Sinopsis
Novel ini bercerita tentang Amara dan suaminya, Baron. Setelah bertahun-tahun menanti kehadiran anak, mereka akhirnya memiliki seorang putri bernama Yuki.
Namun sang penulis, Andina Dwifatma, tidak menjadikan kelahiran anak sebagai akhir yang bahagia seperti banyak cerita lainnya.
Justru setelah Yuki lahir, berbagai persoalan baru mulai muncul. Amara harus menghadapi perubahan besar dalam hidupnya sebagai seorang ibu, sementara hubungan dengan Baron juga ikut berubah seiring waktu.
Di tengah tuntutan mengurus anak, menjaga rumah tangga, dan menjalani kehidupan sehari-hari, Amara mulai mempertanyakan banyak hal tentang dirinya sendiri, tentang pernikahannya, dan tentang peran perempuan dalam keluarga.
Menjadi Ibu Ternyata Tidak Menghapus Masalah
Salah satu hal yang saya sukai dari novel ini adalah keberaniannya menggambarkan pengalaman menjadi ibu secara jujur.
Dalam banyak cerita, perempuan yang akhirnya memiliki anak digambarkan seolah telah mendapatkan kebahagiaan yang lengkap.
Lebih Senyap dari Bisikan menunjukkan kenyataan yang lebih rumit. Memiliki anak tidak serta-merta membuat semua masalah selesai.
Amara tetap merasa lelah. Ia tetap merasa bingung. Kadang ia bahkan merindukan dirinya yang dulu.
Menurut saya, bagian ini menjadi kekuatan utama novel. Andina tidak berusaha membuat Amara terlihat sempurna. Ia membiarkan tokohnya menjadi manusia biasa yang bisa marah, kecewa, dan merasa kewalahan. Karena itulah Amara terasa dekat dan mudah dipahami.