- Istimewa
Perkembangan AI, Masyarakat Diimbau Tak Lupa Nilai-nilai Pancasila
Jakarta, tvOnenews.com - Kehadiran kecerdasan buatan atau AI dinilai menjadi sarana yang dapat memudahkan aktifitas kehidupan manusia.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PP Pemuda Katolik, Stefanus Gusma dalam diskusi bertajuk 'Navigasi Masa Depan: Bernegara Era AI dengan Kompas Pancasila dan Prinsip Magnifica Humanitas (Telaah Dialektis Ensiklik Perdana Paus Leo XIV)' di Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
Kendati demikian, Gusma mengingatkan agar pemanfaatan AI harus tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila sebagai panduan etik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“AI adalah sarana yang memudahkan kehidupan manusia. Pancasila adalah navigasi yang ideal untuk dijadikan panduan etik dalam pemanfaatan AI di berbagai lini kehidupan masyarakat,” ujar Gusma.
Gusma menekankan kemajuan teknologi tidak boleh mengurangi semangat kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
Ia mengingatkan bahwa manusia diciptakan serupa dengan Tuhan sehingga perkembangan AI harus tetap diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan gotong royong.
“Jangan sampai kemajuan AI mengurangi semangat membangun kemanusiaan dan semangat gotong royong,” katanya.
Senada Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional, Sabrang Mowo Damar Panuluh menilai AI merupakan teknologi yang memiliki karakter berbeda dibandingkan teknologi-teknologi sebelumnya.
Menurutnya kehadiran AI menantang manusia untuk meninjau kembali pemahaman tentang kecerdasan dan entitas.
Dirinya turut mengingatkan bahaya perkembangan AI berkembang tanpa kontrol yang memadai.
Sebab, kata Sabrang, persoalan utama bukan hanya pada kecanggihan teknologi, melainkan siapa yang mengendalikan teknologi tersebut.
“Ketika AI menjadi sangat powerful untuk membuat keputusan, siapa yang mengontrol AI? Yang bahaya adalah ketika AI dikontrol oleh kapital. Kita tidak bisa membuat kapitalisme lebih besar dari Pancasila,” tegasnya.
Sementara itu, Anggota Komisi I DPR RI, Nurul Arifin Nurul Arifin memberikan apresiasi terhadap Paus Leo XIV yang melalui ensiklik perdananya mengangkat isu kemanusiaan dalam perkembangan AI.
Menurutnya perhatian terhadap dampak sosial AI masih belum banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi internasional.
“Saya mengapresiasi Paus karena tidak banyak organisasi tingkat internasional yang merespons kekhawatiran manusia tentang AI yang semakin mendrive hidup kita,” kata Nurul.
Ia mengingatkan bahwa perkembangan AI berpotensi mendehumanisasi manusia apabila tidak diatur secara bijaksana.
“Kalau tidak dijaga betul-betul, ini bisa mendorong konflik sosial bahkan perang saudara,” ujarnya.(raa)