- Istimewa
Kasus Kanker Melonjak, Pemerintah Genjot Deteksi Dini dan Pemenuhan SDM Medis
Dalam satu tahun jumlah tindakan transplantasi hati di Indonesia masih relatif terbatas, yaitu sekitar delapan sampai dua belas kasus saja.
Oleh karena itu, kerjasama internasional diharapkan mampu meningkatkan kapasitas layanan melalui pertukaran ilmu pengetahuan, pengalaman klinis, dan penguasaan teknologi bedah terkini.
"Kolaborasi ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan pusat transplantasi di Indonesia sehingga makin banyak pasien yang bisa menikmati pelayanan di dalam negeri tanpa harus berobat ke luar negeri," jelas dr. Wifanto.
Apa yang disampaikan dr. Wifanto sejalan dengan pernyataan Profesor Zhang Fu Jun, Director of China Anti-Cancer Association (CACA) Belt and Road International Training & Cooperation Unit.
Dalam sesinya, Profesor Zhang Fu Jun menjelaskan tentang metode implan partikel radioaktif (brachytherapy) dalam pengobatan kanker, seperti kanker prostat dan paru-paru.
Metode ini membantu mempertahankan fungsi organ vital pada pasien. Bahkan, di Tiongkok teknik tersebut masuk dalam panduan resmi penanganan kanker hati stadium lanjut.
Dalam sesi diskusi, Profesor Zhang Fu Jun menegaskan kesediaannya untuk berbagi pengalaman terkait standar keamanan, regulasi, dan prosedur pengelolaan pasien pada teknik brachytherapy tadi.
Di sinilah peran Modern Cancer Hospital Guangzhou (MCHG) menjadi penting. Sebagai platform utama pertukaran ilmu kedokteran onkologi antara Indonesia dan Tiongkok, MCHG fokus mengembangkan layanan diagnosis dan pengobatan kanker berskala global. Termasuk teknologi minimal invasif terkini seperti brachytherapy.
Kebutuhan SDM Multidisiplin
Menyikapi kesiapan kolaborasi antarnegara, keberadaan SDM kesehatan sebagai fondasi pelayanan kanker perlu mendapat atensi. Apalagi, penanganan kanker modern tidak lagi bisa dilakukan secara sektoral.
Ekosistem kesehatan nasional membutuhkan penguatan dari hulu ke hilir. Mulai dari dokter spesialis, radiografer, fisikawan medis, hingga perawat onkologi. Artinya, tren lonjakan kanker perlu diantisipasi melalui kesiapan SDM yang terlibat.
Ketua Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), drg. Arianti Anaya, MKM menyatakan bahwa menghadapi tren lonjakan kanker adalah tugas besar lintas disiplin.
Untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan ini, KKI menggalakkan program fellowship dan hospital-based training guna mencetak tenaga medis kompeten.