- (Pixabay)
Meski Ekonomi Global Bergejolak Minat Liburan Warga ASEAN Tetap Tinggi, Ini Polanya
Jakarta, tvOnenews.com – Meski dinamika ekonomi global masih membayangi berbagai sektor, minat masyarakat di kawasan Asia Tenggara untuk bepergian tetap tinggi.
Bedanya, pola liburan kini mengalami perubahan. Wisatawan semakin cermat dalam mengatur pengeluaran, memilih destinasi yang mudah dijangkau, serta merencanakan perjalanan lebih awal demi memperoleh biaya yang lebih efisien.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa faktor nilai (value) kini menjadi pertimbangan utama dalam merencanakan liburan. Tidak hanya soal harga, wisatawan juga mulai memperhitungkan waktu tempuh, kenyamanan, hingga momentum yang tepat untuk melakukan perjalanan.
Kecenderungan itu juga tercermin dalam data pemesanan AirAsia MOVE (MOVE) untuk periode perjalanan 1 Juli hingga 31 Desember 2026. Data tersebut menunjukkan wisatawan di kawasan ASEAN semakin mengedepankan perencanaan yang matang dalam setiap keputusan perjalanan, mulai dari pemilihan destinasi, waktu keberangkatan, hingga pengelolaan anggaran.
Salah satu perubahan yang terlihat adalah pola pengeluaran wisatawan. Berdasarkan data tersebut, rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk tiket pesawat sekitar 35 persen lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk akomodasi. Hal ini mengindikasikan bahwa wisatawan masih bersedia mengalokasikan dana lebih besar demi mencapai destinasi yang diinginkan, namun lebih selektif saat memilih tempat menginap.
Mayoritas wisatawan memilih akomodasi yang menawarkan keseimbangan antara harga dan kenyamanan. Dari sekitar satu juta pilihan hotel yang tersedia di platform tersebut, sebanyak 76 persen pemesanan dilakukan pada hotel berbintang tiga dan empat.
Selain memerhatikan anggaran, waktu keberangkatan juga kini dipilih lebih strategis. Data menunjukkan hampir 40 persen pemesanan penerbangan dilakukan untuk keberangkatan pada rentang tanggal 25 hingga 5 setiap bulannya, bertepatan dengan periode penerimaan gaji di banyak negara ASEAN.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kondisi keuangan menjadi salah satu faktor yang semakin memengaruhi keputusan masyarakat untuk berlibur. Momentum setelah menerima gaji dinilai menjadi waktu yang paling ideal untuk merealisasikan rencana perjalanan.
Di sisi lain, minat terhadap destinasi dengan waktu tempuh singkat juga terus meningkat. Penerbangan internasional berdurasi kurang dari empat jam mengalami kenaikan pemesanan sebesar 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan, perjalanan jarak dekat kini menyumbang sekitar 62 persen dari total pemesanan penerbangan internasional.
Tren tersebut menunjukkan bahwa wisatawan kini lebih mengutamakan efisiensi waktu dan biaya tanpa harus mengurangi kualitas pengalaman berlibur. Destinasi regional dinilai mampu memenuhi kebutuhan tersebut karena lebih mudah dijangkau dan menawarkan beragam pilihan atraksi wisata.
Kebiasaan merencanakan perjalanan jauh sebelum hari keberangkatan juga semakin menguat. Data menunjukkan semakin banyak wisatawan yang memesan tiket lebih dari 120 hari sebelum jadwal keberangkatan. Langkah tersebut dinilai sebagai strategi untuk memperoleh harga yang lebih kompetitif sekaligus memastikan ketersediaan tiket dan akomodasi.
Untuk paruh kedua 2026, Malaysia, Thailand, Indonesia, Jepang, dan Filipina diperkirakan masih menjadi destinasi favorit wisatawan. Konektivitas penerbangan yang semakin baik serta beragam pilihan destinasi menjadi faktor yang mendorong tingginya minat masyarakat untuk berkunjung ke negara-negara tersebut.
Sementara itu, dari sisi demografi, generasi produktif masih menjadi penggerak utama industri perjalanan. Kalangan milenial tercatat menyumbang sekitar 43 persen dari total pemesanan perjalanan, sedangkan Generasi Z berkontribusi sebesar 23 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas bepergian masih menjadi bagian penting dari gaya hidup kedua generasi tersebut. Namun, dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, mereka kini cenderung lebih rasional dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan anggaran, waktu, serta manfaat yang diperoleh dari setiap perjalanan. (cmi)