- Kolase tvOnenews.com / X @LambeSahamjja / Thread @hi.clarissa_
Siapa Hilda Clarissa Theopilus? Nakes yang Viral usai Komentar soal Pasien BPJS Akhirnya Minta Maaf
tvOnenews.com - Hilda Clarissa Theopilus menjadi sorotan publik setelah komentarnya terkait Yurizal, Pasien BPJS yang viral di media sosial, menuai kecaman luas. Usai polemik tersebut, tenaga kesehatan di bidang rekam medis itu akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun Threads pribadinya.
Hilda Clarissa Theopilus merupakan seorang petugas Perekam dan Informasi Kesehatan (Rekam Medis) yang bekerja di RSUD Umbu Rara Meha, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Namanya ramai diperbincangkan setelah diduga melontarkan komentar bernada sinis terhadap Yurizal Tri Chaerawan, Pasien BPJS yang sebelumnya mengeluhkan lamanya antrean ruang rawat inap.
Kasus Yurizal menjadi perhatian nasional setelah unggahannya di Threads mengenai antrean pelayanan rumah sakit viral. Setelah Yurizal Tri Chaerawan meninggal dunia pada 31 Juli 2026, sejumlah komentar dari oknum tenaga kesehatan kembali disorot, termasuk yang diduga ditulis oleh Hilda Clarissa.
Diketahui, Hilda Clarissa merupakan lulusan Program Studi Perekam dan Informasi Kesehatan, Fakultas Kesehatan dan Sains, Universitas Dhyana Pura, Bali. Ia menempuh pendidikan pada angkatan 2013 dan lulus pada periode akademik 2016/2017 sebelum berkarier sebagai tenaga rekam medis.
Dalam polemik tersebut, Hilda menjadi sasaran kritik publik setelah komentarnya mengenai pasien BPJS dianggap tidak menunjukkan empati. Menyusul ramainya reaksi masyarakat, pihak RSUD Umbu Rara Meha mengeluarkan klarifikasi bahwa pernyataan tersebut merupakan opini pribadi dan tidak mewakili institusi rumah sakit.
Manajemen rumah sakit juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kegaduhan yang terjadi. Selain itu, pihak rumah sakit menyatakan telah mengambil langkah penanganan dan memberikan sanksi internal kepada Hilda sesuai ketentuan yang berlaku.
Melalui akun Threads pribadinya @hi.clarissa_ pada 5 Agustus 2026, Hilda Clarissa akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat, pasien, rekan sejawat, dan institusi tempatnya bekerja.
"Saya Hilda Clarissa Theopilus, tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah Umbu Rara Meha, dengan ini menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas unggahan dan komentar saya di media sosial yang telah menyakiti hati masyarakat, pasien, rekan sejawat, maupun institusi tempat saya bekerja," ucap Hilda.
Hilda mengakui bahwa komentar yang ditulisnya merupakan sebuah kesalahan. Ia menyadari bahwa unggahan tersebut dibuat tanpa mempertimbangkan dampaknya serta tidak mencerminkan rasa empati kepada pihak lain.
"Saya menyadari bahwa apa yang saya tulis sama sekali tidak berpikiran panjang, tidak memiliki empati, merugikan pihak-pihak terkait. Saya sadar tindakan saya tersebut sepenuhnya salah dan tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun."
Ia juga mengakui bahwa sikap tersebut tidak mencerminkan profesionalisme yang seharusnya dimiliki oleh seorang tenaga kesehatan dalam menjalankan profesinya.
"Saya menyadari bahwa tindakan tersebut tidak mencerminkan sikap profesional yang seharusnya dijunjung tinggi oleh seorang tenaga kesehatan," tutur Hilda.
Dalam pernyataan yang sama, Hilda menyatakan siap menerima seluruh konsekuensi atas tindakannya. Ia juga berkomitmen untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial dan menjaga etika profesi ke depannya.
"Saya bertanggung jawab penuh atas kekeliruan ini dan menerima segala masukan, sanksi, serta evaluasi yang diberikan sebagai bentuk tanggung jawab. Saya sudah menghapus unggahan yang dimaksud, berkomitmen untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial, menjaga etika profesi, serta mematuhi peraturan yang berlaku."
Menutup pernyataannya, Hilda kembali menyampaikan permohonan maaf dan menegaskan bahwa pernyataan tersebut dibuat atas kesadaran pribadi tanpa adanya tekanan dari pihak mana pun.
"Demikian pernyataan ini saya sampaikan dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Terima kasih," tutupnya.
Kasus yang melibatkan Hilda Clarissa menjadi bagian dari polemik yang mencuat setelah meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan, pasien BPJS yang sebelumnya mengeluhkan lamanya antrean ruang rawat inap di rumah sakit. Peristiwa tersebut memicu perbincangan luas mengenai pentingnya empati, etika profesi tenaga kesehatan, serta penggunaan media sosial secara bertanggung jawab.
(anf)