- Kemendagri
Sistem Pangan Lokal untuk MBG di Daerah 3T Diperkuat, BSKDN Ajak Kemendes PDT hingga BNPP Kolaborasi
Jakarta, tvOnenews.com - Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri menggelar Focus Group Discussion (FGD) Strategi Percepatan Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Forum tersebut membahas penguatan pelaksanaan MBG sekaligus pemanfaatannya untuk mendukung sistem pangan lokal di daerah 3T.
Kepala BSKDN Yusharto Huntoyungo mengatakan, implementasi MBG di wilayah 3T membutuhkan pendekatan yang adaptif dan inklusif dengan mempertimbangkan kondisi geografis, sosial, ekonomi, infrastruktur, serta indeks kemahalan wilayah.
Karena itu, percepatan program perlu dilakukan melalui kolaborasi lintas kementerian, lembaga dan pemerintah daerah.
"Pada kesempatan ini, saya secara khusus mengajak Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) yang membina daerah tertinggal, BNPP (Badan Nasional Pengelola Perbatasan) selaku yang mengawal daerah terdepan, serta BGN (Badan Gizi Nasional) dan instansi terkait lainnya untuk membentuk sinergi, baik dari sinergi program, sinergi data, dan sinergi pembinaan," ujar Yusharto di Horison Ultima Menteng pada Rabu (23/9/2026)..
Sementara itu, Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDT Samsul Widodo menilai MBG di daerah 3T memiliki peluang lebih luas untuk memperkuat sistem pangan masyarakat.
Menurutnya, pengembangan pangan lokal penting dilakukan agar pelaksanaan MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan asupan gizi, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat dan menggerakkan aktivitas ekonomi di daerah.
"MBG ini sebenarnya bukan sekadar memberikan asupan nutrisi, ada yang jauh lebih dalam yang mau kita lawan. Daerah tertinggal ini harus diprioritaskan," ujarnya.
Dia menjelaskan, Kemendes PDT tengah mengembangkan sistem pangan di Papua, antara lain melalui penguatan local champion atau tokoh penggerak lokal di tingkat desa yang dapat membantu masyarakat mengembangkan pertanian dan mengolah bahan pangan lokal.
"Lepas dari pada perdebatan terkait MBG, tapi bagi saya ini adalah momentum, tinggal bagaimana kita memanfaatkan momentum untuk industrialisasi bidang pangan," katanya.
Pemerhati Kebijakan Publik dan Pemberdaya Masyarakat Gatot Tri Laksono menambahkan, pelaksanaan MBG di wilayah 3T perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan manusia yang terintegrasi. Menurutnya, program tersebut dapat diarahkan untuk mendukung intervensi gizi dan kesehatan sekaligus memperkuat ketahanan pangan serta pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.