news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Korban dugaan penipuan berkedok agama dilakukan oleh pria asal Bangkalan yang mengaku sebagai Imam Mahdi.
Sumber :
  • tvOneNews

Berkaca dari Kasus Pria 'Imam Mahdi' Bangkalan, Kenapa Masih Banyak yang Mudah Percaya? MUI Beri Penjelasan

Waketum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis menjelaskan pelajaran dari kasus FF, pria mengaku Imam Mahdi asal Bangkalan hingga melakukan penipuan.
Senin, 26 Oktober 2026 - 14:44 WIB
Reporter:
Editor :

Berdasarkan kronologi yang diberitakan, peristiwa itu bermula ketika Halimi ingin memperdalam ilmu agama dan berguru kepada seorang pria berinisial GY. Awalnya Halimi menilai ajaran dari GY masih tergolong wajar karena dianggap sesuai dengan syariat Islam.

Namun, setelah GY meninggal dunia pada 2019, Halimi dan sejumlah pengikut lainnya diminta mendatangi rumah FF. Sejak saat itu, mereka diduga mulai menerima doktrin yang menyimpang dari ajaran agama.

Dalam pertemuan tersebut, para pengikut disebut diminta memanggil FF dengan sebutan Imam Mahdi, sementara ayahnya yang berinisial AS disebut sebagai Ratu Adil.

Sejumlah modus yang diduga digunakan untuk meminta uang kepada para pengikutnya, antara lain melalui tawaran top up umur panjang, kemampuan melihat takdir, jual beli tiket surga, pembebasan dari siksa kubur, hingga janji pengangkatan sebagai wali. Berbagai klaim tersebut diduga memperkuat kepercayaan para pengikut, sehingga mereka semakin mudah menuruti permintaan FF.

Cholil Nafis menyayangkan sikap para pengikut yang dinilai tidak mempertanyakan secara mendalam ajaran yang disampaikan, terutama ketika ajaran tersebut bersifat tertutup atau memuat klaim yang tidak masuk akal.

"Kalau sekarang saya pikir tidak bertanya, itu salah kalau yang diajarkan dirasa pemaksaan hingga bertentangan Al-Quran dan hadis," katanya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih tergolong awam dalam memahami persoalan keagamaan. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat menjadi tantangan tersendiri ketika masyarakat memiliki akses terbatas terhadap informasi dan pendidikan agama yang memadai.

"Di tempat itu biasanya ketika orang tuanya atau keluarganya itu dikagumi dan ditokohkan oleh masyarakat, itu terus turun-menurun ke keluarganya," terangnya.

Untuk mencegah kasus serupa terulang, Cholil Nafis menilai masyarakat perlu mendapatkan pendampingan dan edukasi keagamaan yang memadai. Ia mencontohkan upaya MUI yang terus memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi agar masyarakat lebih waspada terhadap ajaran yang menyimpang.

"Saya yakin yang bayar itu bukan orang-orang kaya sampai dia bayar ratusan juta ya begini di masyarakat awam. Itu kita kasihan sekali. Oleh karena itu, kita masyarakat yang mengetahui ajaran menyimpang itu segera turun tangan bisa berkoordinasi," ucapnya.

Berita Terkait

1
2
3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:02
14:03
08:06
08:08
08:29
08:13

Viral