news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

PERTASINDO menggelar SIERA III 2026 di Jakarta.
Sumber :
  • Istimewa

SIERA III 2026 Resmi Digelar, PERTASINDO Dorong Penguatan Ketahanan Kesehatan Indonesia

PERTASINDO menggelar SIERA III 2026 di Jakarta untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional melalui kerangka 5M dan kolaborasi lintas sektor.
Senin, 26 Oktober 2026 - 16:24 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA) resmi dibuka di Jakarta pada 21 Oktober 2026. Mengangkat tema “Advancing Health Resilience Through the 5M Framework: Man, Money, Material, Machine, and Methods”, kegiatan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Ketahanan Kesehatan Indonesia (PERTASINDO) ini mempertemukan para pembuat kebijakan, praktisi kesehatan militer dan sipil, akademisi, serta pakar internasional.

Forum tersebut menjadi wadah untuk membahas berbagai strategi terpadu dalam memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia melalui pendekatan yang menyeluruh.

Selama tiga hari pelaksanaan, SIERA 2026 menghadirkan simposium, diskusi ilmiah, dan lokakarya yang mengangkat sejumlah isu strategis. Pembahasan mencakup kebijakan kesehatan berbasis bukti, kesiapan layanan medis dalam menghadapi bencana, pengembangan inovasi teknologi, hingga peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.

Acara pembukaan berlangsung di Grand Hermina Ballroom, Jakarta, dengan kehadiran sejumlah tokoh di bidang ketahanan kesehatan. Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Mayjen (Purn.) Dr. dr. Prihati Pujowaskito menghadiri kegiatan secara langsung. Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Prof. dr. Taruna Ikrar serta Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus menyampaikan sambutan melalui video.

Rangkaian pembukaan turut diisi paparan dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI Tahun 2024 Marsekal TNI (Purn.) Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto, Profesor Kardiologi di University College London (UCL) Prof. John Deanfield, serta Direktur Kesehatan Direktorat Jenderal Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Marsekal Pertama TNI dr. Mukti Arja Berlian.

Hadir pula Ketua PERTASINDO Mayjen TNI (Purn.) Dr. Dr. dr. Dian Andriani Ratna Dewi, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Nannie Hadi Tjahjanto, dan Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama, Kelembagaan, Inovasi, dan Teknologi Universitas Pertahanan Republik Indonesia Laksda TNI Dr. Buddy Susetyo, bersama sejumlah pakar kesehatan dari kalangan militer dan sipil.

Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus dalam sambutan videonya menyampaikan bahwa ketahanan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional. Pengalaman Indonesia dalam menghadapi bencana alam, ancaman penyakit menular, serta beragam krisis kesehatan menjadi pelajaran penting mengenai perlunya sistem kesehatan yang mampu mengantisipasi ancaman, memberikan respons, dan memulihkan keadaan secara cepat serta efektif.

“Untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional, kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap krisis kesehatan, memperkuat sinergi kesehatan sipil dan militer, mendorong inovasi serta kemandirian teknologi kesehatan, dan membangun kolaborasi global. Ancaman kesehatan tidak mengenal batas wilayah sehingga pertukaran pengetahuan, penelitian bersama, dan kerja sama internasional menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia berharap SIERA 2026 dapat melampaui fungsi sebagai forum pertukaran pemikiran dan menghasilkan rekomendasi konkret untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta ketahanan kesehatan Indonesia. Dengan dukungan dan sinergi berbagai pemangku kepentingan, simposium ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan sistem kesehatan nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Pentingnya kerja sama antarpihak juga disoroti Kepala BPOM Prof. dr. Taruna Ikrar. Dalam sambutan yang disampaikan melalui video, ia menekankan bahwa penguatan ketahanan kesehatan nasional membutuhkan sistem pengawasan yang efektif, inovasi yang berlandaskan ilmu pengetahuan, serta kolaborasi lintas sektor.

“Melalui kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah, saya yakin kita dapat mencapai banyak hal, seperti pengembangan teknologi baru, obat-obatan baru, vaksin baru, dan berbagai inovasi lainnya. Karena itu, saya mengajak seluruh pihak untuk memanfaatkan pendekatan kolaboratif ini sebagai bagian dari upaya pengembangan dan peningkatan kapasitas nasional,” ungkap Taruna.

Ia juga menegaskan bahwa ketahanan kesehatan tidak sebatas kemampuan menghadapi penyakit dan krisis. Lebih dari itu, ketahanan kesehatan mencakup upaya membangun masyarakat yang mampu mempertahankan kesehatannya pada masa mendatang.

“Ketahanan kesehatan tidak hanya berarti kemampuan menghadapi penyakit dan krisis, tetapi juga membangun masyarakat yang mampu menjaga kesehatan di masa depan. Kita perlu menggeser fokus dari mengobati penyakit menjadi mengoptimalkan kesehatan melalui pencegahan sejak dini, pengurangan faktor risiko, dan kemitraan lintas sektor,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI Tahun 2024 Marsekal TNI (Purn.) Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto menjelaskan bahwa ketahanan kesehatan nasional memerlukan kerja sama lintas sektor yang terintegrasi, bukan hanya penguatan sistem pelayanan kesehatan.

Menurutnya, pengalaman selama pandemi COVID-19 memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi krisis sangat ditentukan oleh koordinasi antarlembaga, kejelasan pembagian peran, serta keterpaduan sumber daya dan kompetensi dari berbagai sektor.

“Ketahanan kesehatan nasional bukan sekadar kemampuan menghadapi krisis, tetapi kemampuan bangsa untuk mengantisipasi, merespons, dan pulih. Tidak ada satu institusi atau sektor yang mampu menghadapi tantangan tersebut sendiri. Karena itu, kita membutuhkan tata kelola yang kuat, komitmen lintas sektor, serta aksi kolektif yang terintegrasi dan berkelanjutan,” kata Hadi.

Ketua PERTASINDO Mayjen TNI (Purn.) Dr. Dr. dr. Dian Andriani Ratna Dewi menyampaikan bahwa penguatan ketahanan kesehatan nasional semakin mendesak di tengah beragam tantangan yang kian kompleks. Tantangan tersebut meliputi ancaman penyakit menular, penuaan populasi, perubahan iklim, serta berbagai persoalan kesehatan lainnya.

Untuk menjawab tantangan itu, diperlukan sinergi lima elemen utama yang terangkum dalam kerangka 5M.

“Kolaborasi lintas sektor dan lintas negara kami wujudkan melalui SIERA III, sebagai wadah menyatukan berbagai pihak dalam kemitraan. Melalui wadah ini, kita dapat mempertemukan para tenaga profesional kesehatan, akademisi, instansi pemerintah dan militer, sektor industri, serta organisasi internasional. Harapannya, kolaborasi ini bisa menjembatani bukti ilmiah dengan kebijakan dan inovasi, serta meningkatkan kualitas kesehatan,” ujarnya.

Dari perspektif kesehatan internasional, Profesor John Deanfield menyoroti perlunya perubahan pendekatan menuju pencegahan penyakit melalui penyesuaian gaya hidup sejak dini yang berorientasi pada pengurangan bahaya.

Menurutnya, langkah tersebut memerlukan intervensi berkelanjutan untuk menekan risiko kesehatan yang berkaitan dengan kebiasaan masyarakat. Upaya ini juga perlu ditopang oleh inovasi medis, kebijakan yang tepat, serta kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan industri.

Deanfield menekankan bahwa pendekatan pencegahan harus realistis dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat agar dapat diterapkan secara efektif serta memberikan manfaat dalam jangka panjang. Menurutnya, perubahan menuju pola hidup yang lebih sehat tidak harus selalu dilakukan secara drastis, tetapi dapat dimulai melalui langkah-langkah sederhana yang lebih mudah dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dalam survei yang dilakukan kepada 2.000 penduduk Indonesia, 92% mengapresiasi program Cek Kesehatan Gratis yang dilakukan oleh Pemerintah. Di sisi lain, 77% masyarakat Indonesia juga berharap rekomendasi kesehatan dari Pemerintah dapat disesuaikan agar lebih realistis untuk diterapkan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kebijakan kesehatan perlu mempertimbangkan ketersediaan pilihan alternatif yang dapat membantu masyarakat menerapkan kebiasaan yang lebih baik. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 82% masyarakat Indonesia meyakini alternatif yang lebih baik dapat mendukung peralihan menuju gaya hidup yang lebih sehat.

Pilihan yang dimaksud antara lain produk rendah atau tanpa gula, beras multigrain, serta produk tembakau alternatif bagi perokok dewasa yang memilih untuk tetap mengonsumsi nikotin. Pendekatan tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko kesehatan dan memberikan dampak positif bagi individu maupun masyarakat secara luas.

“Ketahanan kesehatan bukan hanya tentang kemampuan menghadapi penyakit dan krisis, tetapi juga tentang kemampuan menjaga masyarakat tetap sehat dalam jangka panjang. Karena itu, kita perlu menggeser fokus menuju upaya pencegahan yang menawarkan tujuan yang realistis, dapat dicapai, dan didukung oleh bukti ilmiah,” pungkasnya.

Dari sisi pertahanan, Direktur Kesehatan Direktorat Jenderal Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia Marsekal Pertama TNI dr. Mukti Arja Berlian menekankan pentingnya kesiapan dan peningkatan kapasitas kesehatan untuk menghadapi tantangan yang semakin beragam.

Ia menjelaskan bahwa pengalaman menghadapi pandemi menjadi pembelajaran bagi Indonesia untuk terus memperkuat pengetahuan, kemampuan, dan kesiapan institusi dalam mengantisipasi berbagai ancaman kesehatan.

“Ketahanan kesehatan dan kesehatan pertahanan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga kita perlu memahami keduanya secara tepat. Tantangan kesehatan yang terus berkembang harus dihadapi dengan kesiapan dan penguatan kapasitas nasional. Kita tidak bisa hanya diam, tetapi harus terus belajar dan mengembangkan kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut,” kata Mukti.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama, Kelembagaan, Inovasi, dan Teknologi Universitas Pertahanan Republik Indonesia Laksda TNI Dr. Buddy Susetyo turut menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi unsur penting dalam memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

“Ketahanan kesehatan merupakan fondasi utama kedaulatan bangsa. Tanpa ketahanan kesehatan yang tangguh, tidak mungkin tercipta stabilitas di tengah berbagai tantangan global saat ini. Ketahanan kesehatan kini merupakan isu strategis bagi pertahanan dan ketahanan nasional,” ucapnya.

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:02
14:03
08:06
08:08
08:29
08:13

Viral