- Gambar ilustrasi AI
Ketika AI Bisa Mengerjakan Semua Tugas, tetapi Bisakah Menggantikan Kemampuan Berpikir Kritis?
Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalannya bukan sekadar penggunaan AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan dalam proses belajar. AI dapat meningkatkan produktivitas, tetapi ketergantungan terhadap jawaban instan berpotensi mengurangi kesempatan seseorang melatih keterampilannya sendiri.
Penelitian lain dari Microsoft Research dan Carnegie Mellon University yang dipublikasikan dalam konferensi CHI 2025 juga mengangkat persoalan kemampuan berpikir kritis.
Survei terhadap 319 pekerja profesional dengan 936 contoh pengalaman penggunaan AI menemukan bahwa tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap hasil AI berkaitan dengan lebih rendahnya upaya berpikir kritis.
Riset tersebut menunjukkan bahwa pengguna tetap perlu memeriksa informasi, mengintegrasikan jawaban, dan mengevaluasi hasil yang diberikan teknologi.
Dengan kata lain, kemampuan berpikir kritis tidak hilang karena kehadiran AI, tetapi dapat kurang digunakan ketika seseorang terlalu mudah mempercayai hasilnya.
Mengapa Metode Penilaian di Kampus Perlu Berubah?
Tantangan penggunaan AI juga mulai terlihat dalam dunia pendidikan tinggi. OECD melalui laporan PISA 2025 menyoroti bahwa penggunaan chatbot AI untuk membantu tugas sekolah memiliki hubungan yang kompleks dengan capaian akademik.
Siswa yang tidak menggunakan chatbot untuk mengerjakan tugas tertentu cenderung memperoleh hasil sains lebih baik dibandingkan pengguna AI untuk keperluan tersebut di banyak negara. Namun, siswa yang menggunakan AI untuk membantu proses belajar secara rutin menunjukkan capaian yang relatif serupa dengan mereka yang tidak menggunakannya.
OECD juga menemukan bahwa siswa yang mendapatkan kesempatan belajar mengevaluasi kualitas informasi dari AI di sekolah cenderung memiliki capaian sains sedikit lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan pentingnya literasi AI, bukan sekadar memberikan akses terhadap teknologi.
Karena itu, metode penilaian yang hanya mengandalkan hasil akhir mulai perlu dievaluasi. Dosen dapat mengembangkan tugas berbasis studi kasus nyata, meminta mahasiswa menjelaskan proses penyelesaian, melakukan presentasi, hingga menguji pemahaman melalui diskusi langsung.
Pendekatan tersebut bukan bertujuan melarang penggunaan AI, melainkan memastikan mahasiswa tetap terlibat dalam proses pembelajaran. Mahasiswa perlu mampu menjelaskan alasan di balik jawaban, memeriksa kebenaran informasi, dan mempertanggungjawabkan hasil analisisnya.
AI-Resistant Assessment, Cara Baru Mengukur Kemampuan Mahasiswa