news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Anggota pasukan DST saat "Operasi Penertiban" di Sulawesi Selatan tahun 1947..
Sumber :
  • Dok. Maarten Hidskes

Tragedi Pembantaian 40 Ribu Jiwa di Sulawesi Selatan 1946-1947, Begini Pengakuan Kapten Westerling

Monumen kekejaman Kapten Westerling itu masih tegak berdiri, menjadi semacam pengingat bagi masyarakat Sulawesi Selatan tentang rentetan peristiwa memilukan.
Rabu, 16 Agustus 2023 - 05:30 WIB
Reporter:
Editor :


Kesaksian Kapten Westerling Soal Pembantaian di Sulawesi Selatan

Awal musim panas 1970, di sebuah restoran yang terletak di belakang Ryks Museum, Amsterdam, Belanda. Pria tua dengan postur tubuh kekar dan berotot itu duduk di sudut restoran, ia menantikan seorang tamu dari jauh. 

Pria tua yang duduk didalam restoran itu adalah Kapten Raymond Pierre Paul Westerling, atau Kapten Westerling, sosok yang "melegenda" sebagai pembunuh 40 ribu jiwa di Sulawesi Selatan.

Tamu yang dinantikan itu adalah wartawan senior dan juga sejarahwan Salim Said.

"Sembari berjalan ke arahnya, saya memperhatikan bangun tubuh dan wajah mantan kapten pasukan khusus Belanda itu. Mengapa saya teringat pada wajah serigala? Tubuhnya kekar dengan otot yang kelihatan masih kencang. Usianya 51 tahun waktu itu." tulis Salim Said dalam bukunya, "Dari Gestapu ke Reformasi, Serangkaian Kesaksian". 

Westerling saat memimpin parade pada perayaan ulang tahun Ratu Juliana di Batavia. (Dok.Wikipedia)

Kapten Westerling, dalam catatan sejarah, tiba di Makassar pada 5 Desember 1946, memimpin 123  orang Pasukan Khusus  Depot Speciale Troepen atau DST. Dia mendirikan markasnya di Mattoangin Makassar, Sulawesi Selatan.  

Dari Mattoangin, Westerling kemudian menyusun strategi untuk Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan) dengan caranya sendiri.

Diketahui, cara Westerling itu tidak berpegang pada Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger - VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), mengenai ketentuan tugas intelijen serta perlakuan terhadap penduduk dan tahanan. 

Kapten Westerling tertawa ketika mendengar pertanyaan Salim Said bahwa Ia telah membantai 40 ribu korban dalam operasi militer yang Ia lakukan.  

“Tanyakan kepada Sarwo Edhie, Komandan Pasukan Khusus Indonesia, berapa banyak yang bisa dibunuh oleh pasukan khusus dalam waktu singkat,”  kata Westerling, sebagaimana yang dituturkannya kepada Salim Said. 

Menurut Salim, dalam wawancara tersebut, Kapten Westerling hanya mengaku membunuh 463 orang. Apakah yang 463 korban itu semua dihabisi oleh tangan Westerling sendiri? Tidak juga.  

Foto: Pemakaman Kapten Westerling pada 1987. (Dok.Wikipedia)

Westerling memang tidak selalu hadir pada setiap momen pembantaian. Tetapi ia yang memerintahkan langsung pembunuhan itu. 

Berita Terkait

1
2
3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:56
01:33
02:53
07:16
00:53
01:07

Viral