- tvOne/Lutfi
Metode Pembelajaran Berubah Akibat Pandemi Covid-19, Guru di Sumedang Dilatih Agar Tidak 'Gaptek'
Sumedang - Pandemi Covid-19 membuat hampir seluruh sektor berubah dalam hal metodenya, tak terkecuali sektor pendidikan. Di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sistem pembelajaran para siswanya dilakukan secara hibrid, yakni daring dan tatap muka yang dibagi dalam waktu tertentu.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Agus Wahidin, mengatakan pembelajaran di wilayah Sumedang menggunakan pendekatan berbeda antara di wilayah perkotaan dengan di wilayah perdesaan.
"Kami menerapkan ini berbagai metode, di perkotaan PTM Terbatas dengan bobot 30%, dan guru kunjung 10%. Sementara di pedesaan persentase guru kunjung lebih tinggi, akibat keterbatasan fasilitas alat daring," Ujarnya saat dikonfirmasi tvonenews.com di Puri Khatulistiwa Jatinangor, Sumedang, Selasa (28/12/21) siang.
Tidak hanya itu, pembelajaran di kabupaten Sumedang juga menerapkan protokol kesehatan ketat. Berbeda dengan wilayah lain, di Sumedang para siswa secara bergantian sesuai kelas, masuk sekolah selama pekan pertama hingga pekan ketiga sementara pekan keempat digunakan untuk sterilisasi ruangan.
"Jadi ada satu minggu semua siswa tidak masuk sekolah, itu untuk sterilisasi. Alhamdulillah selama 1 semester di Sumedang tidak ada kasus positif di lingkungan pelajar," Tuturnya.
Sementara terkait metode pembelajaran yang berubah akibat pandemi, Agus menambahkan, dilakukan pelatihan bagi guru dalam bentuk seminar maupun webinar. Hal tersebut diwajibkan bagi para guru di wilayah kabupaten Sumedang.
"Kewajiban guru itu sendiri untuk meningkatkan kompetensinya, bahkan berkewajiban menyisihkan 30% dari tunjangan profesi untuk pengembangan dirinya. Para guru juga antusias untuk meningkatkan itu," Ucapnya.
Untuk meningkatkan kemampuan para guru dalam mengajar dan beradaptasi dengan teknologi, serta pembelajaran di masa pandemi covid-19, ribuan guru di Sumedang mengikuti seminar, Selsa (28/12/2021). Seminar yang bertajuk Guru Hebat Milenial bertempat di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Puluhan kepala sekolah dan guru, mengikuti secara langsung, sementara ribuan peserta lainnya mengikuti secara daring selama 3 hari.
Herdinalsky, Founder Indonesia Milenial Teacher Festival, mengatakan pelatihan para guru ini menjadi upaya meningkatkan kualitas guru yang melek teknologi.
"Guru milenial harus kreatif. Para guru harus menyadari bahwa anak jaman sekarang tidak gaptek. Hal tersebut harus dimulai dari guru yang tidak gaptek pula," Katanya.
Terkait metode daring yang kini menjadi normal baru, Herdinalsky menuturkan, hal tersebut menjadi tantangan bagi para guru dan guru dituntut harus menjadi kreatif dan inovatif.
"Guru harus sekreatif mungkin, karena tidak tarap muka. jadi harus memberikan pelajaran yang menyenangkan agar anak menyukai apa yang disampaikan para guru," Tuturnya. (Lutfi/prs)