news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Presiden RI Ke-4 Abdurahman Wahid (Gus Dur).
Sumber :
  • tim tvOne

Profil Presiden Ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Bapak Pluralisme

Abdurrahman Wahid hanya bertahan sebagai presiden selama 20 bulan. Lawan-lawan politiknya memanfaatkan kasus Bruneigate dan Bulloggate untuk melengserkannya.
Senin, 9 Mei 2022 - 13:15 WIB
Reporter:
Editor :

Gus Dur mendapat beasiswa dari Kementerian Agama untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Syari’ah Al Azhar University, Cairo, Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Gus Dur juga pernah bekerja di Kedutaan Besar Indonesia. Hingga suatu ketika terjadilah gerakan komunis pada bulan September, dikenal dengan sebutan G 30 S PKI, pada tahun 1965. Upaya pemberantasan komunis dilakukan di Jakarta. Segalanya ditangani oleh Mayor Jenderal Soeharto. Untuk mendukung upaya tersebut, Gus Dur diminta menginvestigasi para mahasiswa dan memberikan laporan kedudukan politik mereka.

Namun, pada akhirnya Gus Dur mengalami kegagalan dalam pendidikannya. Hal ini karena Ia tidak setuju dengan tata cara dan metode pembelajaran yang diterapkan di sana. Pada tahun 1966, Ia harus mengulang pendidikannya dan pendidikan sarjananya diselamatkan oleh beasiswa di Universitas Baghdad, Irak.

Untuk menebus kegagalannya di masa lalu, Gus Dur dikatakan sukses di universitas barunya. Ia juga masih bergabung dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dengan posisi yang sama. Setelah lulus tahun 1970, Gus Dur ingin melanjutkan studinya ke Universitas Leiden, Belanda. Namun, sayang sekali keinginan itu harus dikubur karena pendidikan di Universitas Baghdad tidak diakui oleh universitas tersebut. 

Pengabdian Sebagai Guru

Sepulangnya dari mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih untuk menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. 

Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagai penulis dan kolumnis. Melalui tulisan-tulisan ini gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak khalayak.

Kemudian, setelah ia membantu pamannya menjadi seorang sekretari di pesantren Tebu Ireng Jombang, dari sinilah Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi narasumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. 

Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES. Sebuah organisasi yang berisikan orang-orang intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. Gus Dur pun terlibat sebagai kontributor utama majalah Prisma terbitan lembaga tersebut. Ia juga berkeliling pesantren seluruh Jawa.

Berita Terkait

1
2
3 4 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:50
05:20
07:41
02:19
00:36
05:45

Viral