- tim tvOne
Profil Presiden Ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Bapak Pluralisme
Jakarta - Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur merupakan Presiden Republik Indonesia ke-4 setelah B.J Habibie, sejak 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001.
Presiden Abdurrahman Wahid lahir pada tanggal 7 September 1940 di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, dengan nama lahir Abdurrahman Addakhil.
Namun, karena Addakhil terdengar asing, maka diganti menjadi Abdurrahman Wahid. Beliau merupakan putra pertama dari enam bersaudara.
Diketahui ayahnya merupakan seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, yang bernama KH. Wahid Hasyim. Sedangkan ibunya bernama Hj. Sholehah merupakan putri dari pendiri Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur, K.H. Bisri Syamsuri. Beliau kemudian dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang putri.
Saat masa kanak-kanak, Gus Dur memiliki kegemaran membaca. Beliau juga rajin datang ke perpustakaan pribadi milik ayahnya. Selain itu Gus Dur juga sering berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta.
Pada saat usia belasan Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi.
Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.
Pendidikan Gus Dur
Beliau menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Kris Jakarta, tapi tidak selesai, kemudian pindah ke SD Matraman Perwari. Kemudia, tahun 1952, Gus Dur memilih tetap tinggal di Jakarta meskipun sang ayah sudah tidak menjabat sebagai Menteri Agama. Setahun kemudian, Ayah Gus Dur mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan ayahnya wafat.
Kemudian, Gus Dur melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama, namun beliau tidak naik kelas. Oleh sebab itu, ibunya mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan mengaji bersama KH. Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak dan belajar di SMP juga.
Pada tahun 1957 Gus Dur melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah hingga tahun 1959. Ia melanjutkan ke pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, sampai melanjutkan pendidikannya di Mesir.
Gus Dur mendapat beasiswa dari Kementerian Agama untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Syari’ah Al Azhar University, Cairo, Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.
Gus Dur juga pernah bekerja di Kedutaan Besar Indonesia. Hingga suatu ketika terjadilah gerakan komunis pada bulan September, dikenal dengan sebutan G 30 S PKI, pada tahun 1965. Upaya pemberantasan komunis dilakukan di Jakarta. Segalanya ditangani oleh Mayor Jenderal Soeharto. Untuk mendukung upaya tersebut, Gus Dur diminta menginvestigasi para mahasiswa dan memberikan laporan kedudukan politik mereka.
Namun, pada akhirnya Gus Dur mengalami kegagalan dalam pendidikannya. Hal ini karena Ia tidak setuju dengan tata cara dan metode pembelajaran yang diterapkan di sana. Pada tahun 1966, Ia harus mengulang pendidikannya dan pendidikan sarjananya diselamatkan oleh beasiswa di Universitas Baghdad, Irak.
Untuk menebus kegagalannya di masa lalu, Gus Dur dikatakan sukses di universitas barunya. Ia juga masih bergabung dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dengan posisi yang sama. Setelah lulus tahun 1970, Gus Dur ingin melanjutkan studinya ke Universitas Leiden, Belanda. Namun, sayang sekali keinginan itu harus dikubur karena pendidikan di Universitas Baghdad tidak diakui oleh universitas tersebut.
Pengabdian Sebagai Guru
Sepulangnya dari mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih untuk menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang.
Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagai penulis dan kolumnis. Melalui tulisan-tulisan ini gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak khalayak.
Kemudian, setelah ia membantu pamannya menjadi seorang sekretari di pesantren Tebu Ireng Jombang, dari sinilah Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi narasumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri.
Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES. Sebuah organisasi yang berisikan orang-orang intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. Gus Dur pun terlibat sebagai kontributor utama majalah Prisma terbitan lembaga tersebut. Ia juga berkeliling pesantren seluruh Jawa.
Hingga pada saat itu, diketahui nilai-nilai pesantren semakin luntur. Melihat kemiskinan yang melanda pesantren-pesantren tersebut, Gus Dur pun urung untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan lebih fokus untuk mengembangkan pesantren.
Kemudian, Gus Dur melanjutkan karirnya sebagai penulis untuk menulis artikel Majalah Tempo dan Harian Kompas. Meski tergolong sukses, ia merasa masih kurang untuk memenuhi kehidupannya sehingga ia mencari pekerjaan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es.
Pada tahun 1974, ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pesantren Tebuireng hingga tahun 1980. Ia juga pernah menjadi guru kitab di Al Hikam.
Jejak Politik Gus Dur
Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Pada awalnya beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin.
Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap `menyimpang`-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.
Gus Dur juga mendapat pengalaman politik pertamanya karena berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada pemilihan umum legislatif 1982. PPP sebuah partai Islam yang dibentuk dari gabungan 4 himpunan Islam termasuk NU. Setahun kemudian Gus Dur sukses menduduki kursi Ketua PBNU dan pada tahun 1989 akhirnya ia sukses duduk di kursi MPR-RI.
Memasuki Era Reformasi 1998, banyak orang NU meminta Gus Dur untuk membentuk partai politik baru, makan dibentuklan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada awal tahun berikutnya, PKB secara resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat untuk pemilihan presiden.
Kemudian, pada tahun 1999 pemilu kembali dilaksanakan, Gus Dur terpilih sebagai presiden melalui sidang MPR RI. Gus Dur sebagai presiden dan Megawati Soekarnoputri sebagai wakilnya. Sebagai seorang presiden, Gus Dur memiliki cara yang berbeda untuk menyikapi suatu masalah. Ia melakukan pendekatan simpatik kepada GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan mengayomi etnis Tionghoa.
Gus Dur hanya bertahan sebagai presiden selama 20 bulan. Lawan-lawan politiknya memanfaatkan kasus Bruneigate dan Bulloggate untuk melengserkannya. Hubungannya dengan TNI juga kurang baik. Gus Dur juga sempat mengeluarkan dekrit bubarkan DPR.
Isi dekritnya;
(1) pembubaran MPR/DPR
(2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun
(3) membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR. Namun, dekrit tersebut tidak memperoleh dukungan.
Maka dari itu, pada tanggal 23 Juli 2001, MPR secara resmi memberhentikan Gus Dur dan menggantinya dengan Megawati Soekarnoputri.
Abdurrahman Wahid atau biasa disebut Gus Dur wafat pada saat usianya ke 69, pada tanggal 30 Desember 2009 pukul 18.40 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. (mg4/ito)