- Antara
Gunung Semeru Erupsi Puluhan Kali, Status Siaga Bertahan dan Warga Diminta Waspada
Lumajang, tvOnenews.com - Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini mengalami erupsi pada Jumat (16/1/2026) pukul 01.38 WIB. Dalam sepekan terakhir, aktivitas Gunung Semeru tercatat mencapai 35 kali letusan, menjadikannya gunung api dengan aktivitas tertinggi di Indonesia sepanjang awal 2026.
Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui aplikasi MAGMA Indonesia, tinggi kolom abu Gunung Semeru teramati mencapai sekitar 800 meter di atas puncak atau setara 4.476 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna putih dengan intensitas sedang mengarah ke utara. Hingga laporan ini dibuat, erupsi Gunung Semeru masih terus berlangsung.
Status Gunung Semeru Masih Level III (Siaga)
PVMBG menetapkan status aktivitas Gunung Semeru tetap berada pada Level III (Siaga). Status ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih cukup tinggi dan berpotensi memicu bahaya lanjutan seperti awan panas guguran, guguran lava, hingga aliran lahar.
Dalam pengamatan kegempaan pada 16 Januari 2026 pukul 18.00–23.59 WIB, tercatat:
-
35 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 15–22 milimeter dan durasi 55–150 detik
-
5 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–6 milimeter dan durasi 34–78 detik
-
2 kali gempa hembusan dengan amplitudo 3–6 milimeter dan durasi 47–67 detik
Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas internal Gunung Semeru masih fluktuatif dan berpotensi memicu erupsi lanjutan dalam waktu dekat.
Awan Panas Guguran Masih Terjadi
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyebutkan bahwa Gunung Semeru kembali mengalami awan panas guguran pada Kamis (15/1/2026) dengan jarak luncur hingga 4 kilometer dari puncak. Sehari sebelumnya, awan panas Gunung Semeru terjadi dua kali dengan jarak luncur mencapai 5 kilometer.
Arah luncuran awan panas Gunung Semeru dominan menuju sektor tenggara, tepatnya ke aliran Besuk Kobokan. Selama periode 7–14 Januari 2026, awan panas guguran Gunung Semeru teramati beberapa kali dengan jarak terjauh hingga 5 kilometer, disertai guguran material vulkanik dari puncak.
Menurut Lana, aktivitas kegempaan Gunung Semeru didominasi oleh gempa letusan, gempa guguran, gempa embusan, serta tremor harmonik. Hal ini mengindikasikan masih adanya suplai magma dari bawah permukaan Gunung Semeru yang dilepaskan melalui letusan dan embusan.