- Tangkapan Layar Instagram @lambe_turah
Viral Pak Ogah di Exit Tol Rawa Buaya, Polisi Pastikan Penutupan Bukan Ulah Preman Jalanan
-
Uang tunai
-
Telepon seluler
Keenam orang itu kemudian dibawa ke Polsek Cengkareng untuk proses pendataan dan pembinaan. Polisi menegaskan, langkah ini dilakukan demi menciptakan ketertiban lalu lintas dan mencegah praktik pungutan liar di sekitar exit Tol Rawa Buaya.
Penjelasan Dishub DKI soal Penutupan Exit Tol Rawa Buaya
Kepala Dishub DKI Jakarta Syafrin Liputo menjelaskan bahwa penutupan exit Tol Rawa Buaya merupakan bagian dari manajemen lalu lintas. Kebijakan tersebut diambil karena pintu keluar tol itu kerap memicu kemacetan parah di ruas Jalan Outer Ring Road.
“Penutupan dilakukan pada jam sibuk pagi hari karena exit tol tersebut menyebabkan antrean panjang dan perlambatan lalu lintas,” ujar Syafrin, Jumat (16/1/2026).
Ia menjelaskan, jadwal penutupan sebelumnya berlangsung pukul 06.00 WIB hingga 11.00 WIB. Namun Dishub kini tengah mengevaluasi kebijakan tersebut dan berencana mengubah jam penutupan.
“Kami akan koordinasi dengan Sudishub Jakarta Barat untuk mengatur ulang jam penutupan menjadi pukul 07.00 WIB sampai 10.00 WIB,” katanya.
Exit Tol Rawa Buaya Kembali Dibuka, Pak Ogah Masih Terlihat
Pantauan di lokasi pada Jumat (16/1/2026) pagi menunjukkan exit Tol Rawa Buaya sudah kembali dibuka. Arus kendaraan dari arah tol menuju jalan arteri terpantau ramai lancar, meski sesekali terjadi perlambatan pada jam sibuk.
Namun, di sekitar lokasi, pak ogah di exit Tol Rawa Buaya masih terlihat membantu mengatur kendaraan. Sejumlah pengendara tampak memberikan uang receh secara sukarela, meskipun tidak ada lagi rantai atau gembok penutup akses tol.
Situasi ini menunjukkan bahwa keberadaan pak ogah di exit Tol Rawa Buaya masih menjadi fenomena sosial yang sulit dihilangkan sepenuhnya, meski penertiban sudah dilakukan aparat.
Warga Minta Penertiban Pak Ogah Dilakukan Berkelanjutan
Sejumlah warga berharap penertiban terhadap pak ogah di exit Tol Rawa Buaya tidak berhenti pada operasi sesaat. Ranto (60), warga sekitar, menilai keberadaan mereka justru kerap membuat lalu lintas semakin semrawut.
“Kadang membantu, tapi sering juga bikin macet. Ada yang maksa minta uang, kalau nggak dikasih, kendaraan nggak dikasih jalan,” ujarnya.