news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Surat BEM UGM ke UNICEF soal anak SD bunuh diri di NTT dan MBG.
Sumber :
  • Instagram @bem.ugm

Bersurat ke UNICEF, Ketua BEM UGM Harap Peristiwa Anak SD Bunuh Diri di NTT dan MBG Jadi Percakapan Pemimpin Dunia

Setelah bersurat ke UNICEF, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto berharap peristiwa anak SD bunuh diri di NTT dan persoalan Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa menjadi percakapan dunia.
Selasa, 24 Februari 2026 - 10:01 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Setelah bersurat ke UNICEF, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto berharap peristiwa anak SD bunuh diri di NTT dan persoalan Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa menjadi percakapan dunia.

Dalam suratnya yang diunggah secara terbuka di Instagram @bem.ugm pada 6 Februari 2026 lalu, BEM UGM menyoroti peristiwa anak SD bunuh diri di NTT karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10 ribu. 

BEM UGM menilai peristiwa tersebut mencerminkan kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak khususnya hak pendidikan. 

Dituliskan juga dalam surat tersebut bahwa Presiden RI Prabowo Subianto memangkas anggaran pendidikan untuk MBG.

Menurutnya, program MBG merupakan sebuah kebijakan yang berisiko menghabiskan anggaran tinggi dan berpotensi menyebabkan keracunan makanan.  

“Dan yang terpenting, tolong sampaikan kepada Prabowo Subianto betapa bodohnya dirinya sebagai seorang Presiden. Kebodohannya telah melahirkan masalah-masalah mendasar yang berujung pada hilangnya nyawa tak bersalah—sebuah kejahatan yang tak termaafkan terhadap kemanusiaan,” demikian potongan paragraf dalam surat tersebut. 

Di tayangan YouTube Abraham Samad SPEAK UP berjudul “Diteror & Dapat Ancaman Pembunuhan. Ketua BEM UGM: MBG, Maling Berkedok Gizi? | #SPEAKUP” pada 19 Februari 2026 lalu, Tiyo ditanya apa harapannya usai mengirimkan surat tersebut. 

Tiyo pun menjawab dengan tegas dia ingin suratnya menjadi percakapan publik pemimpin-pemimpin dunia. 

“Yang mengendalikan kekuasaan itu mestinya percakapan publik. Menghendaki MBG atau pendidikan itu yang seharusnya mengendalikan kekuasaan kita. Kekuasaan kita ini berjarak dengan percakapan publik di realitas sosial masyarakat,” katanya. 

“Sehingga meletakkan isu ini ke UNICEF adalah upaya untuk menjadiannya bagiannya dari percakapan publik pemimpin-pemimpin dunia karena presiden kita sudah me-makeup diri di depan pemimpin-pemimpin dunia. Bertemu Trump, Netanyahu, Jinping,” sambungnya. 

Tiyo berharap pemimpin-pemimpin dunia ada yang membahasnya lalu memberitahukannya ke Prabowo. 

“Saya harap mereka pas ngopi ngasih tahu ke presiden kita. ‘Eh kok ada yang kirim surat katanya kamu enggak kompeten’. Saya yakin presiden enggak tahu itu (surat) ada. Kita butuh kanal-kanal untuk sampai ke telinga presiden,” ucap Tiyo. 

Saat ditanya kenapa mengirimkan surat ke UNICEF alih-alih mengirimkannya ke DPR atau pihak-pihak terkait di dalam negeri, Tiyo menjawab karena menurut dia ada kemampatan di kanal-kanal perbaikan.

“Ringkasnya, ada kemampatan di bangsa kita. Kanal perubahan atau perbaikan buntu. Pascademo Agustus tuntutan publik 17+8 saja sampai sekarang kita tidak bisa percaya sama DPR,” jawab Tiyo. 

Ketua BEM UGM Jadi Sasaran Teror Usai Kirim Surat ke UNICEF

Tiyo disebut-sebut menjadi sasaran teror usai mengirimkan surat ke UNICEF. Dia disebut agen asing, tukang cari panggung hingga disebut anak problematik. 

Meski demikian, Tiyo mengaku menanggapinya dengan santai. Dia tidak takut karena sudah menghitung apapun risikonya. Di samping itu, kata dia, LPSK hingga pihak kampus melindunginya. 

“Bagi saya, menghadapi ini dengan takut artinya teror itu berhasil. Saya harus menghadapi ini secara ksatria untuk menunjukkan teror itu gagal. Apapun risiko sudah kita hitung. Semoga bukan risiko terburuk yang kita alami,” katanya. 

Pada Rabu (18/2/2026), pihak Istana merespons kabar teror terhadap Tiyo. 

Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, penyampaian kritik oleh mahasiswa merupakan hal yang sah.

Namun, menurut dia, perlu dilakukan secara bertanggung jawab dengan mengedepankan etika dan adab.

"Hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik gitu. Ini berlaku untuk siapapun ya. Tidak hanya untuk adik saya yang dari BEM UGM," ucapnya.

Dia menegaskan bahwa penyampaian pendapat dan kritik merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi.

Soal teror terhadap mahasiswa tersebut, Prasetyo menyebut hal ini akan dicek lebih lanjut.

"Nanti kita kita cek," pungkasnya. (nsi)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:20
05:27
04:09
02:42
12:50
05:05

Viral