- Abdul Gani Siregar-tvOne
AHY Sebut Kapasitas Tampungan Air di Indonesia Kurang, Ada Potensi Kekeringan hingga Banjir
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut kapasitas tampungan air Indonesia masih jauh dari kebutuhan ideal, sehingga berpotensi memperbesar risiko kekeringan hingga banjir di berbagai daerah.
AHY menjelaskan Indonesia membutuhkan kapasitas tampungan air sekitar 100–150 meter kubik per kapita agar kebutuhan nasional terpenuhi secara aman dan berkelanjutan.
Namun, kondisi saat ini masih jauh dari angka tersebut.
“Kebutuhan tampungan kita sebetulnya yang ideal itu kurang lebih 100 hingga 150 meter kubik per kapita. Jadi kalau dari 70 meter kubik per kapita, dibutuhkan satu setengah sampai dengan dua kali lipatnya,” ujar AHY dalam Water Townhall Meeting di Jakarta, dikutip Rabu (25/2/2026).
Mengacu laporan Bank Dunia 2021, kapasitas penampungan air Indonesia baru sekitar 71 meter kubik per kapita. Angka itu tertinggal dibanding sejumlah negara Asia Tenggara.
Vietnam memiliki kapasitas sekitar 310 meter kubik per kapita, Malaysia 710 meter kubik per kapita, dan Thailand mencapai 1.006 meter kubik per kapita.
Secara nasional, total tampungan air Indonesia saat ini diperkirakan hanya berada di kisaran 10–20 miliar meter kubik. Padahal kebutuhan optimal diperkirakan mencapai 30–40 miliar meter kubik.
Menurut AHY, peningkatan kapasitas tampungan menjadi langkah kunci untuk menutup kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan air sekaligus memperkuat perlindungan terhadap bencana hidrometeorologi.
Ia menilai persoalan air tidak hanya menyangkut pasokan, tetapi juga ketahanan wilayah terhadap perubahan iklim, terutama meningkatnya frekuensi kekeringan dan banjir.
Dalam forum yang sama, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air Retno Marsudi menekankan bahwa krisis air tidak bisa ditangani melalui pendekatan sektoral semata.
“Think and act outside the water box. Air itu tidak pernah berdiri sendiri, melainkan konektor dan enabler bagi banyak sektor,” kata Retno.
Ia menjelaskan air berhubungan langsung dengan sektor pertanian, kesehatan, energi, hingga industri.
Secara global, sektor pertanian menyerap sekitar 72 persen air tawar dunia.
Sementara dari sisi kesehatan, sekitar 1.000 anak di bawah lima tahun meninggal setiap hari akibat air tercemar dan sanitasi yang buruk.
Retno menilai hanya kolaborasi lintas sektor yang dapat menjawab kompleksitas krisis air, baik di tingkat nasional maupun global.
Tanpa langkah terpadu, persoalan air tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap ekonomi dan kualitas hidup masyarakat. (agr/nsi)