- Kolase Instagram/@sasetyaningtyas & Tangkapan layar YouTube Mahfud MD Official
Sikapi Alumni LPDP yang Kena Sanksi dan Daftar Hitam, Mahfud MD Marah tapi Ungkap Alasan Nasionalisme WNI Pudar
Jakarta, tvOnenews.com - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD ikut menyoroti kontroversi konten alumni penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas alias DS.
Mahfud MD mengetahui Dwi Sasetyaningtyas bangga anaknya mendapat paspor warga negara asing (WNA) Inggris. Sayangnya ucapan "Cukup aja yang WNI, anak-anakku jangan" berbuah kontroversi.
Efek dari ucapannya menyebabkan alumni LPDP itu masuk daftar hitam atau blacklist dari negara. Bahkan suami DS, Arya Iwantoro disanksi segera mengembalikan dana beasiswa LPDP.
Melalui konten YouTube pribadinya, Selasa (24/2/2026), Mahfud tidak menutupi sikapnya lagi. Ia marah besar atas sikap alumni penerima beasiswa LPDP tersebut.
"Pertama, ketika saya mendengar itu, saya ikut marah sebagai WNI yang telah mencicipi nikmatnya Indonesia ini sesudah merdeka. Itu bertentangan dengan prinsip yang sering kita nyatakan, 'jangan pernah lelah mencintai Indonesia'," ujar Mahfud MD dilansir tvOnenews.com, Kamis (26/2/2026).
Ia memahami DS terlihat sangat lelah sebagai WNI. Sebab dalam konten tersebut, pendiri Sustaination itu lebih bahagia anak keduanya bertatus sebagai WNA.
Akan tetapi, ia tidak mendukung sikap DS. Ia geram apabila ada pihak luar apalagi WNI yang tidak menyukai Indonesia, yang memiliki latar menerima manfaat dari negara.
"Padahal dia sendiri itu mendapatkan kenikmatan sekolah karena Indonesia, lalu dia melecehkan Indonesia di depan publik dengan parah, begitu menyakitkan bagi kita," tegasnya.
Mahfud MD Bicara Nasionalisme WNI Luntur
- Istimewa
Namun demikian, ia tidak sepenuhnya marah dan menyalahi DS. Justru dari polemik ini sebagai bagian representasi jeritan publik yang selama ini masih diam diwakilkan oleh seseorang.
Akibatnya, hati seorang hati WNI tidak menunjukkan nasionalisme yang tinggi. Ironisnya, keresahan itu membawa malapetaka berujung melecehkan negaranya sendiri.
Mahfud berpendapat, suara dari Tyas sapaan akrabnya, menjadi tamparan bagi pemerintah terhadap masyarakat khususnya dari kelompok kecil.
"Kita harus sadar diri lah. Pemerintah pengelola negara ini dia katakan kenapa dia melakukan itu? Karena perkembangan akhir membuat putus asa. Pemerintah melakukan langkah-langkah sesudah itu dikritik nggak peduli, perbaikan nggak dilakukan," jelasnya.