- Kolase Instagram/@sasetyaningtyas & Tangkapan layar YouTube Mahfud MD Official
Sikapi Alumni LPDP yang Kena Sanksi dan Daftar Hitam, Mahfud MD Marah tapi Ungkap Alasan Nasionalisme WNI Pudar
Ia melihat dari polemik DS. Hal ini berkaitan dengan keresahan masyarakat yang sempat meramaikan tagar #KaburAjaDulu. Saking semerawutnya, mereka memilih kabur atau tinggal di luar negeri.
"Pemerintahnya sudah terlalu steril terhadap kritik-kritik itu. Apa yang dikatakan Bu Tyas ini sebenarnya berangkat dari fakta-fakta," ucapnya.
Ia kembali mengingat ucapan di masa lalunya berkaitan dengan alasan nasionalisme seorang WNI terhadap negaranya luntur, sebut saja semakin tidak menyukai RI.
Dengan adanya fenomena itu, ia tentu mengartikan penyebabnya akibat pemerintah negara tidak mampu mengayomi hingga memenuhi hak hidup masyarakatnya.
Ia mencontohkan, banyak masyarakat yang masih susah mencari pekerjaan, mengeksekusi vonis pada kasus berujung pungli, dan sebagainya.
"Apa yang terjadi di negara ini sehingga orang kabur aja dulu? Kabur aja itu keperluan dasarnya orang nomor satu itu kan hidup. Kalau nggak bisa hidup, saya nggak bisa memenuhi sandang-pangan. Ini sama sebenarnya," bebernya.
Mantan Ketua MK itu meyakini keresahan tersebut tidak hanya terjadi dialami Dwi Sasetyaningtyas. Ia mendapat banyak aduan dari masyarakat yang semakin resah pada kondisinya.
Ia mengambil fenomena di mana mereka menjadi korban kesewanangan oknum aparat. Karena tidak kuat pada statusnya, mereka takut menyuarakan keadilan ke ruang publik.
Ia menyinggung dua kasus nyata belakangan ini. Pertama, kasus di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana rakyat kecil ditindak aparat hanya perkara jualan sayur di halaman kediamannya sendiri.
Kasus kedua menyasar pada seorang pengusaha hotel di Jawa Timur. Mahfud MD tidak bisa membayangkan pengusaha tersebut didatangi hingga diperat oleh oknum aparat dengan dalih "dana keamanan".
Mahfud melanjutkan motif dari kasus kedua. Oknum aparat kerap meneror hingga mengancam penutupan usaha apabila tidak ada uang setoran yang masuk.
Ia sangat miris ketika pernah menawarkan diri menuntaskan kasus seperti itu ke ruang publik. Para pelapor justru takut dan khawatir terhadap adanya indikasi ancaman terhadap nyawanya.
"Saya dapat laporan kasus yang terjadi di meja segini, orang laporan tapi minta namanya enggan disebutkan karena takut dihabisi dengan segala cara," tuturnya.