- Istimewa
Gelar Reses Ramadhan 2026, Wakil Ketua MPR RI: Petani Kuat, Pangan Berdaulat, Rakyat Bahagia
Jakarta, tvOnenews.com - Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edy Baskoro Yudhoyono (Ibas), memulai rangkaian reses bulan Ramadan tahun 2026 di Kabupaten Ngawi dengan menggelar dialog bersama petani, penyuluh pertanian, serta petani milenial dan Gen Z.
Dialog bersama petani tersebut bertajuk “Petani Kuat, Pangan Berdaulat, Rakyat Bahagia” dan dilaksanakan pada 26 Februari 2026.
EBY menyampaikan pangan adalah fondasi kekuatan bangsa.
“Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri. Kedaulatan pangan adalah syarat kemerdekaan sejati,” tegas dia dalam keterangannya, Sabtu (28/2/2026).
Menurutnya, dunia saat ini sedang menghadapi ketidakpastian akibat perubahan iklim, krisis pangan global, dan gangguan distribusi.
Berdasarkan data FAO menunjukkan lebih dari 700 juta orang di dunia masih mengalami rawan pangan. Indonesia, kata EBY, tidak boleh masuk dalam angka tersebut.
Secara nasional, produksi beras Indonesia tahun 2025 mencapai sekitar 34–35 juta ton, naik lebih dari 10 persen dibanding tahun sebelumnya.
Luas panen nasional telah menembus lebih dari 11 juta hektar, dengan sektor pertanian menyerap lebih dari 29 persen tenaga kerja nasional.
“Artinya satu dari tiga pekerja Indonesia ada di sektor pertanian. Ini tulang punggung bangsa. Tetapi nilai tukar petani masih fluktuatif di angka 110–120. Kesejahteraan belum sepenuhnya stabil. Ini tantangan bersama,” ujarnya.
EBY menyebut Ngawi sebagai salah satu lumbung pangan strategis Jawa Timur.
Namun ia menegaskan bahwa Ngawi tidak boleh hanya bergantung pada padi.
Ia juga mendorong pengembangan sektor jagung hibrida, kedelai lokal, hortikultura, peternakan terpadu, hingga pertanian organik dan beras premium yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Jangan hanya menanam yang biasa, tanamlah yang memberi nilai. Petani harus masuk ke nilai tambah, bukan hanya produksi mentah,” katanya.
Ia juga menyerap aspirasi kritis petani, mulai dari persoalan distribusi pupuk, harga gabah saat panen raya, perbaikan irigasi, keterbatasan alsintan, hingga akses permodalan.
Sebagai bentuk komitmen, ia memaparkan realisasi bantuan di Ngawi dalam beberapa tahun terakhir, antara lain pompa air, traktor roda 4, traktor roda 2, handsprayer, power thresher, corn sheller, bioflok, UPPO, vitalisasi tambak, bantuan alat pertanian dan vitamin tanaman.
“Ini bukan sekadar program. Ini bentuk kawalan dan keberpihakan nyata. Tapi kita tidak boleh berhenti,” terangnya.
Ibas juga menyoroti peluang besar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan proyeksi puluhan juta penerima, kebutuhan beras nasional diperkirakan mencapai ratusan ribu ton per bulan.
“Ini peluang besar bagi petani Ngawi. Beras lokal bisa masuk rantai pasok sekolah. Sayur, telur, dan daging dari desa sendiri. Pasar terjamin, harga lebih stabil,” jelasnya.
Ia turut mengajak Gen Z dan Gen Alpha untuk melihat pertanian sebagai profesi modern dan menjanjikan.
“Pertanian hari ini bukan sekadar cangkul. Ada drone, sensor tanah, aplikasi digital, marketplace online. Smart farming. Precision agriculture. Kalian anak muda bisa jadi agropreneur, eksportir, bahkan CEO pertanian,” ungkapnya.
EBY menegaskan optimismenya terhadap masa depan pertanian Ngawi.
“Jika petani kuat, pangan berdaulat. Jika pangan berdaulat, negeri kuat. Jika negeri kuat, rakyat bahagia. Ramadan religi, menguatkan negeri,” pungkasnya.
Selain menyampaikan sambutannya, Ibas juga mendengarkan langsung keluh kesah dari para peserta.
Salah satunya disampaikan oleh Wahdiono, seorang petani asal Ngawi yang mengeluhkan anjloknya harga beras saat musim panen berlangsung sehingga petani tidak memiliki posisi tawar dalam menentukan harga jual.
Wahdiono berharap kehadiran pemerintah dapat lebih dirasakan pada setiap musim panen agar kesejahteraan petani tetap terjaga.
Tidak hanya itu, aspirasi juga datang dari petani di wilayah pesisir yang menyampaikan kebutuhan bantuan berupa pengering hasil panen guna menjaga kualitas gabah agar lebih awet serta mengurangi potensi kerugian akibat kadar air yang tinggi setelah panen.
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh, termasuk Angga Ramadona selaku Kepala Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, Susana Ika Herawati sebagai Kepala Bidang Tata Niaga Perdagangan yang mewakili Kadin DPPTK, anggota DPRD Ngawi dari Fraksi Demokrat seperti Haris Agus Susilo, dan Arofik, serta para petani milenial Ngawi, Wahdiono sebagai Ketua HKTI, dan Sutrisno sebagai Koordinator Gapoktan, PPL, dan petani Kecamatan Ngawi.