- Istimewa
Ramadan di Bawah Langit Ka’bah: Kisah Salsabila, Umrah Khusyuk di Tengah Isu Konflik Timur Tengah
“Paling tantangannya kalau misalnya ngantuk aja karena ya tarawih di sini itu lebih lama dibanding di masjid-masjid umumnya di Indonesia. Karena satu hari satu juz, tarawih di sini disebutnya qiyamul lail,” imbuh dia.
Di tengah pemberitaan soal eskalasi konflik di Timur Tengah, kekhawatiran tentu sempat terlintas. Namun, ia memilih menaruh kepercayaan pada perlindungan Ilahi dan tetap memantau informasi resmi.
“Sejujurnya saat menjalani aktivitas ibadah umrah itu enggak ada kekhawatiran, karena yang pertama berada di tanah suci yang mana ini rumah Allah dan dijaga sama Allah,” ungkapnya.
“Yang kedua kita terus memantau perkembangan, kondisi, ya rasa khawatir ada untuk nanti tanggal kepulangan sih, besok kebetulan,” lanjut dia.
Ia memastikan situasi di Mekah tetap terkendali. Keramaian lebih karena membludaknya jemaah Ramadan, bukan karena pengetatan keamanan luar biasa.
“Di sini aman-aman aja, di Mekah al Mukaromah enggak ada peningkatan keamanan, enggak ada pengetatan penjagaan dan lain-lain, ada petugas askar dan kepolisian memang terus berjaga karena jamaah umroh Ramadan itu memang lebih banyak, ramai dan padat dan itu udah menjadi hal yang biasa, selalu ada penjagaan pengamanan dari askar atau kepolisian Arab Saudi, enggak ada peningkatan penjagaan pengamanan atau yang lainnya,” jelas Salsabila.
“Di sini Alhamdulillah aman dan kita terus memantau perkembangan dari pemerintah Indonesia, dari pemerintah Arab Saudi juga, apabila nantinya ada kemungkinan-kemungkinan imbauan atau arahan lebih lanjut,” tandasnya.
Bagi Salsabila, Ramadan di Tanah Suci adalah tentang jeda dari kebisingan dunia. Tentang duduk di lantai dingin Masjidil Haram, berbuka bersama orang-orang yang tak saling mengenal, namun disatukan oleh iman.(agr/raa)