- Antara
Cerita Jalur Mudik di Pantura yang Nyaris Lenyap Ditinggal Pemudik Lebaran
“Kalau sekarang paling Rp50.000 sudah ada, tapi kalau Rp100.000 jarang,” katanya.
Meski demikian, ia tetap bertahan. Menjelang musim mudik, ia masih menambah stok dagangan, meski dengan perhitungan yang lebih hati-hati.
“Paling dilebihin sekitar 50 persen, tapi nggak tentu juga. Kalau ramai ya beli lagi,” ujarnya.
Selain berjualan, ia juga kerap membantu pemudik yang singgah untuk beristirahat.
“Ada yang numpang istirahat, ya dikasih. Kasihan kan capek,” katanya.
Di tengah perubahan yang terjadi, Alas Roban masih menyimpan sisa-sisa perannya sebagai jalur perjalanan. Bukan lagi tentang keramaian yang padat seperti dulu, tetapi tentang perjalanan yang terus berjalan, dengan cerita yang berbeda.
Bagi sebagian orang, melintasi Alas Roban hari ini mungkin terasa lebih cepat dan lebih lengang. Namun bagi mereka yang pernah merasakan ramainya jalur ini di masa lalu, setiap tikungan dan setiap warung di pinggir jalan masih menyimpan ingatan tentang perjalanan yang pernah begitu hidup.(ant/raa)