- Antara
Gubernur Dedi Mulyadi Geram Maraknya Pungli Manfaatkan Tempat Wisata di Jabar, Sebut Bikin Meresahkan: Jangan Persulit!
Subang, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyoroti pungutan liar (pungli) di tengah libur Lebaran 2026. Banyak warga memanfaatkan aktivitas ini di area tempat wisata di Jabar.
Perhatian ini tak lepas lantaran Dedi Mulyadi menerima kabar maraknya pungli yang menyebar di berbagai kawasan tempat wisata di wilayah Jabar.
Dedi Mulyadi memahami momentum mudik dan libur Lebaran sebagai waktu terbaik memanen ekonomi. Para warga memanfaatkan tempat wisata untuk meraup banyak keuntungan.
"Saya sampaikan kepada warga Jabar, pastinya ada yang panen dari kegiatan wisata, baik ke gunung, area perkebunan teh, pantai, kemudian juga ke warung-warung, pusat-pusat perbelanjaan dan kuliner di mana pun berada," ujar Dedi Mulyadi dalam keterangannya melalui Instagram pribadinya, Sabtu (28/3/2026).
Dedi Mulyadi Geram Pungli di Tempat Wisata Meresahkan Pengunjung
- Taufik Hidayat/tvOnenews.com
Akan tetapi, momentum ini harus dicederai dengan maraknya pungli. KDM sapaan akrabnya, tentu meluapkan kekesalannya akibat aktivitas ini semakin merajalela di tempat wisata.
KDM menegaskan, kehadiran pungli bukannya membuat nyaman, justru meresahkan para pengunjung maupun wisatawan.
Padahal para pengunjung ingin menikmati suasana dan berlibur di tempat wisata. Namun efek dimintai uang, mereka malas berwisata di Jabar.
Selain itu, mantan Bupati Purwakarta ini menegaskan, kehadiran pungli tidak hanya berdampak pada pengunjung, tetapi juga menghambat rezeki para pedagang maupun sektor lainnya.
Pungli sangat mempengaruhi pada perekonomian warga. Meski adanya keuntungan, tetapi berakibat fatal terhadap penghasilan di tempat wisata.
"Ingat, bahwa orang datang itu bisa membawa rezeki. Karena itu jangan persulit kedatangannya, jangan persulit di perjalanannya, jangan persulit masuk area pantainya," kesal KDM.
"Banyak sekali daerah masuk area pantai sibuk sekali dengan pungutan, yang pada akhirnya bikin orang malas datang ke situ. Akibatnya, para pedagangnya sepi tak ada pembeli," lanjut dia.
Ia mendapat laporan rata-rata pungli menyebar ke area pantai yang dijadikan sebagai tempat wisata. Sebab area tersebut sangat memicu keramaian.
Kebetulan saat ini masih dalam suasana Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Para pemudik memanfaatkan libur Lebaran bersama keluarga ke tempat wisata berbasis pantai.
Area tempat wisata lainnya yang menjadi sasaran pemudik maupun wisatawan di momen Lebaran, mulai dari tempat rekreasi, pegunungan, dan sebagainya.
Sayangnya tujuan membantu perekonomian warga dan pendapatan daerah terhambat akibat adanya aktivitas pungli. Bagi KDM, sikap tersebut tidak terpuji.
KDM menambahkan, semua aktivitas yang mempengaruhi ekonomi sudah ada koridor masing-masing. Maka dari itu, pungli hanya dianggap sebagai tindakan membawa malapetaka.
"Untuk itu, semua pihak harus memahami bahwa sikap-sikap yang selalu ingin mengambil keuntungan pada setiap keramaian adalah sikap-sikap bunuh diri," tegasnya.
Lebih lanjut, KDM mencontohkan pungli yang sering membuat pengunjung resah. Rata-rata terjadi di area parkir.
Tidak hanya di tempat parkir, pungli juga terjadi di bagian tiket masuk hingga kawasan wisata. Mereka hanya mengandalkan keuntungan tanpa menjalani tanggung jawabnya.
"Tiket parkir berebut, banyak tiket masuk yang dibuat, tapi giliran menata, merawat, membersihkan, menjaga keamanan lingkungannya tidak pada mau," sentil dia.
Ia menganggap sikap tersebut sebagai tanda adanya mentalitas buruk. Pungli hanya membuat seseorang nyaman dengan kondisi kemiskinan.
"Karena keindahan tanpa keamanan adalah kesia-siaan," ucapnya.
Oleh karena itu, Dedi Mulyadi hanya bisa menyampaikan harapannya kepada warga Jabar. Jika ingin menjadikan Jabar sebagai provinsi yang maju, jangan menanamkan mentalitas kemiskinan.
"Untuk itu, saya minta kepada seluruh warga Jabar, andai kata ingin Jawa Barat maju, bersikaplah yang menjadi sikap maju. Untuk yang terbelakang hanya mementingkan kepentingan sesaat, itu mengorbankan kepentingan jangka panjang," pesannya.
Ia selaku Gubernur Jabar tentu terus berupaya menciptakan tempat wisata yang nyaman hingga membantu perekonomian warga. Hal ini sebagai upaya agar wisata di Jabar mendapat citra baik dari masyarakat Indonesia.
"Wisata yang bebas pungutan adalah sebuah harapan. Orang datang itu ingin mendapat kenyamanan. Bukan karena uang Rp20 ribu, tetapi karena rasa terintimidasi yang membuat para warga ingin berwisata seringkali enggan datang kembali," tukasnya.
(hap)