- Anadolu
Paus Leo XIV Sebut Yesus Tolak Doa Orang-Orang yang Berperang: Tangan Mereka Penuh Darah
Jakarta, tvOnenews.com - Paus Leo XIV mengungkapkan bahwa Tuhan tidak akan mendengarkan doa orang-orang yang memulai peperangan dan akan menolaknya. Diketahui, saat ini perang tengah bergejolak di Asia Barat antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
"Ini adalah Tuhan kita, Yesus, Raja Perdamaian, yang menolak perang, yang tidak bisa digunakan oleh siapa pun untuk membenarkan peperangan," kata Paus Leo, dalam ceramahnya di hadapan puluhan ribu orang di Lapangan Santo Petrus dalam rangka memperingati Minggu Palma, dikutip dari Reuters, Minggu (29/3/2026).
Pemimpin 1,4 miliar umat Katolik di dunia itu menegaskan bahwa konflik atau dalam hal ini peperangan, adalah hal yang mengerikan.
Di dalam kesempatan itu, Paus Leo juga mengatakan bahwa Yesus tidak akan mendengarkan doa orang-orang yang memulai peperangan, bahkan akan menolaknya.
"(Yesus) tidak mendengar doa dari orang-orang yang berperang dan akan menolaknya," kata dia.
Paus pertama dari Amerika Serikat itu juga mengutip ayat dari Alkitab bahwa Tuhan berkata pada umatnya walaupun mereka (orang-orang yang berperang) berdoa, doa itu tidak akan didengarkan.
"(Tuhan) berkata, 'walaupun kamu memanjatkan banyak doa, Aku tidak akan mendengarkannya, tangan-tanganmu penuh dengan darah,'" katanya, mengutip Alkitab.
Meski tak menyebut nama pemimpin dunia yang dimaksud, namun Paus Leo diketahui aktif menolak perang yang terjadi di Iran beberapa pekan terakhir.
Ia mengatakan, umat Katolik di Asia Barat telah banyak menderita gara-gara konflik yang terus-terusan terjadi. Mereka bahkan sulit untuk merayakan Paskah.
Dirinya meminta agar gencatan senjata segera dilakukan. Ia juga pernah mengatakan bahwa serangan yang dilakukan harus dilarang.
Adapun sebelumnya, Sekretaris Pertahanan AS, Pete Hegseth memimpin doa kebaktian di Pentagon pada Rabu lalu. Di kesempatan itu ia mengatakan soal "tindakan kekerasan yang luar biasa terhadap mereka yang tidak panas mendapat belas kasihan".
Pernyataan di agenda kebaktian itu dinilai sebagai cara AS membenarkan serangan pihaknya terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu. (iwh)