- Antara
BGN Sebut MBG Akan Diberikan 5 Hari Sekolah, Kecuali Daerah Ini
Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap disalurkan pada hari Sabtu khusus untuk sekolah di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) yang memiliki tingkat stunting tinggi.
Kebijakan khusus ini diambil agar anak-anak di daerah prioritas tetap memperoleh asupan gizi harian secara berkelanjutan di tengah skema penyaluran reguler lima hari sekolah.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, mengatakan tambahan distribusi pada akhir pekan merupakan langkah strategis untuk memperkuat intervensi gizi di wilayah yang paling membutuhkan.
“Pemberian MBG di hari Sabtu untuk daerah dengan risiko stunting tinggi merupakan langkah strategi memastikan anak-anak menerima gizi yang cukup setiap hari,” kata Dadan dikutip dari laman resmi BGN, Senin (30/3/2026).
Menurut dia, penentuan wilayah penerima kebijakan tersebut akan berbasis pendataan rinci dan terbaru. BGN bakal memakai acuan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dari Kementerian Kesehatan untuk memetakan daerah prioritas, terutama kawasan dengan angka stunting yang masih tinggi di Indonesia Timur, Sumatera, dan Papua.
Proses verifikasi akan dilakukan bersama dinas pendidikan dan dinas kesehatan daerah agar bantuan benar-benar tepat sasaran. Data yang dihimpun mencakup jumlah sekolah, total siswa penerima, hingga prevalensi stunting di masing-masing wilayah.
“Tim kami akan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kesehatan setempat untuk memastikan data akurat, sehingga MBG tepat sasaran,” ujarnya.
BGN menegaskan validitas data menjadi fondasi utama kebijakan tersebut karena berkaitan langsung dengan kesehatan anak dan target penurunan stunting nasional.
“Integritas data sangat penting, karena program ini menyangkut kesehatan dan masa depan generasi muda. Kami tidak ingin ada anak yang kekurangan gizi,” ungkapnya.
Kebijakan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa efisiensi program MBG menjadi lima hari per pekan tidak berlaku seragam untuk seluruh wilayah.
Daerah dengan kerentanan gizi tinggi tetap akan memperoleh perlakuan khusus agar kualitas tumbuh kembang anak tidak terganggu. Wacana efisiensi lima hari sebelumnya disebut berpotensi menghemat sekitar Rp40 triliun per tahun.