- tvOnenews.com/Rika Pangesti
Harga Plastik Melonjak Picu Industri Stop Produksi, Puan: Ini Bukan Situasi Mudah
Jakarta, tvOnenews.com - Lonjakan harga plastik imbas konflik di Timur Tengah mulai menekan industri dalam negeri. Bahkan, kalangan pengusaha memperingatkan potensi pabrik berhenti produksi pada Mei jika kondisi tak membaik.
Ketua DPR RI, Puan Maharani, tidak menampik situasi tersebut serius. Namun, ia menekankan bahwa tekanan yang terjadi bukan hanya dialami Indonesia, melainkan bagian dari gejolak global.
“Ya tentu saja semua kondisi yang ada dalam situasi global ini harus dicermati dengan baik, bukan hanya oleh pemerintah, namun juga semua masyarakat dan pemangku atau yang menjalankan ekonomi,” kata Puan di Gedung DPR/MPR RI, Kamis (16/4/2026).
Kendati demikian, Puan Maharani tidak merinci langkah konkret terkait potensi berhentinya produksi di sektor industri plastik.
Ia lebih menekankan bahwa situasi yang terjadi merupakan dampak kondisi global yang perlu disikapi bersama.
“Karena ini bukan hanya terjadi di Indonesia tapi ini situasi global. Jadi mari mulai sekarang ya kita mulai mencermati apa saja kekhasan lokal yang kemudian kita bisa efektifkan kembali,” ujarnya.
Puan menegaskan bahwa tekanan terhadap sektor industri tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga negara lain.
“Namun bagaimana, apa, ya memang itu harus menjadi satu hal yang kita lakukan bersama-sama. Jadi memang situasi ini bukan situasi yang mudah, terjadi bukan hanya di Indonesia tapi memang hampir di seluruh negara karena memang situasinya situasi global,” tandasnya.
Seperti diketahui, lonjakan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai membebani pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di sektor makanan dan minuman yang bergantung pada kemasan sekali pakai.
Kenaikan harga yang terjadi pada April 2026 disebut mencapai 30 hingga 80 persen, sehingga mendorong biaya produksi ikut meningkat.
Kenaikan ini dipicu gangguan rantai pasok global. Memanasnya konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menghambat distribusi nafta, bahan baku penting dalam produksi plastik berbasis petrokimia.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di tingkat produsen, tetapi juga mulai terasa di pasar, di mana para pedagang ikut terdampak oleh kenaikan harga tersebut.