- instagram Dedimulyadi71
Dedi Mulyadi Tegur Guru BK Potong Paksa Rambut 18 Siswi SMKN 2 Garut: Minta Dimaklumi karena Faktor Ini
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM angkat bicara terkait insiden guru BK SMKN 2 Garut yang memotong rambut belasan siswi hingga viral di media sosial.
Kasus tersebut menjadi sorotan publik setelah sejumlah siswi disebut mengalami trauma dan merasa takut kembali ke sekolah usai rambut mereka dipangkas tanpa persetujuan.
Menanggapi kejadian itu, Dedi Mulyadi memanggil guru BK yang bersangkutan bersama para siswi untuk mendengar langsung penjelasan kedua pihak. Dalam pertemuan tersebut, Dedi Mulyadi mempertanyakan alasan sekolah melakukan tindakan tegas terhadap para murid.
“Apakah anak-anak ini pernah bolos? Rajin masuk? Yang jadi problem apa?,” tanya Dedi Mulyadi.
Guru BK tersebut kemudian menjelaskan bahwa pihak sekolah merasa terganggu dengan gaya penampilan para siswi yang dianggap terlalu mencolok. Ia menyebut penggunaan riasan wajah dan warna rambut menjadi perhatian guru.
“Yang meresahkan kami baru-baru ini tentang penampilan siswa. Mereka berkerudung cuma dalam hal badan, kosmetiknya berlebihan,” ujar guru BK tersebut.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran sekolah karena beberapa siswi membuka kerudung saat berada di luar lingkungan sekolah sehingga rambut berwarna mereka terlihat oleh siswa lain.
“Keresahan kami tentang penampilan siswi. Anak-anak laki-laki merasa resah karena rambut siswi-siswinya berwarna,” ujarnya.
Namun, Dedi Mulyadi menilai persoalan penampilan tidak seharusnya diselesaikan dengan cara memotong rambut secara paksa. Menurutnya, sekolah cukup memberikan arahan dan pembinaan kepada siswa.
“Penampilan terlalu menor itu wajar. Kan tinggal diingatkan,” kata Dedi.
Ia juga meminta pihak sekolah membangun komunikasi yang lebih baik dengan orang tua apabila terdapat pelanggaran tata tertib yang dianggap serius.
“Biasakan guru memberikan surat kepada orang tua, minimal memberitahukan bahwa anaknya berpenampilan terlalu menor dan meminta orang tua datang ke sekolah membicarakannya,” ujarnya.
Selain menyoroti metode pembinaan, Dedi Mulyadi turut mempertimbangkan latar belakang pendidikan para siswi yang berasal dari jurusan Broadcasting. Ia menilai lingkungan pendidikan kreatif bisa memengaruhi gaya berekspresi para murid.
“Bisa jadi karakter itu dipengaruhi oleh kejuruannya. Selama anak-anak tetap masuk kelas dan berprestasi, itu yang harus dilihat,” tegasnya.
Di hadapan Dedi, guru BK tersebut akhirnya mengakui kekeliruannya dan mengaku tidak menyadari dampak psikologis yang dialami para siswa akibat tindakannya.
Sementara itu, salah satu siswi yang hadir mengaku alasan dirinya menggunakan kosmetik dan mewarnai rambut semata-mata untuk tampil menarik.
“Biar cantik, Pak,” jawab siswi tersebut.
Pada akhir pertemuan, Dedi Mulyadi meminta persoalan diselesaikan secara edukatif melalui dialog tanpa menimbulkan trauma bagi siswa. Ia juga memastikan penanganan terkait etika profesi guru akan diproses sesuai aturan yang berlaku. (nba)