- Tim tvOnenews/Abdul Gani Siregar
BRIN Sulap Sampah Jadi BBM dan Listrik, Pemerintah Kejar Target Akhiri Darurat Sampah Nasional
Jakarta, tvOnenews.com — Di tengah krisis sampah yang kian menggunung di berbagai daerah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai menggeber teknologi pengolahan sampah dari level rumah tangga hingga kota besar.
Sampah tak lagi sekadar limbah, tetapi mulai diarahkan menjadi sumber energi dan bahan bakar alternatif.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, lembaganya kini menyiapkan empat level teknologi pengolahan sampah untuk mendukung percepatan penanganan darurat sampah nasional.
“BRIN menyediakan empat level teknologi sampah, dari rumah tangga, desa, kecamatan hingga perkotaan,” kata Arif Satria di Graha Mandiri, Jakarta Pusat, dikutip Selasa (12/5/2026).
Untuk skala rumah tangga, BRIN mengembangkan komposter mini bernama Lasamor yang mampu mengolah sampah organik menjadi kompos dengan biaya murah dan penggunaan sederhana.
“Yang untuk rumah-rumah itu kurang dari Rp1 juta. Teknologinya murah dan mudah,” ujarnya.
Tak berhenti di sana, BRIN juga mulai mengembangkan teknologi fast pyrolysis atau pirolisis cepat bernama Faspol yang mampu mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif bagi nelayan.
Teknologi tersebut bahkan telah diuji coba pada kapal nelayan di Jepara dan dinyatakan lolos standar Lembaga Minyak dan Gas Bumi. Hasilnya, bahan bakar dari sampah plastik dinilai jauh lebih murah dibanding solar konvensional.
“Sekarang banyak nelayan sudah menggunakan itu karena harganya murah, sekitar Rp10 ribu per liter dibandingkan solar Rp13 ribu,” ucapnya.
BRIN mencatat satu kilogram sampah plastik dapat diubah menjadi sekitar satu liter bahan bakar. Saat ini teknologi Faspol telah diterapkan di 84 kabupaten meski kapasitas produksinya masih terbatas.
Di level pengolahan skala menengah, BRIN juga mengembangkan teknologi pengolahan sampah di TPST Bantar Gebang dengan kapasitas sekitar 50 ton per hari. Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat hingga 100 ton per hari untuk menopang kebutuhan pengolahan sampah di kawasan perkotaan.
“Kalau membutuhkan 100 ton, BRIN punya teknologinya,” ungkap Arif.
Selain pengolahan sampah darat, BRIN turut mengembangkan kapal pembersih sampah sungai untuk mempercepat proses pengangkatan dan pemilahan sampah sebelum masuk ke tahap pengolahan lanjutan.
Langkah BRIN tersebut sejalan dengan ambisi besar pemerintah mengatasi darurat sampah nasional melalui pembangunan pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).
Pemerintah bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dan sejumlah pemerintah daerah kini mulai mempercepat pembangunan PSEL di berbagai wilayah.
Tahap awal proyek difokuskan pada enam lokasi, sebelum diperluas ke 25 titik prioritas yang mencakup 62 kabupaten dan kota dengan timbulan sampah di atas 1.000 ton per hari.
Program percepatan itu dijalankan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan pengolahan sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.
Pemerintah menargetkan teknologi pengolahan sampah tak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi sumber energi baru sekaligus penggerak ekonomi sirkular nasional. (agr/ree)