news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Siswi asal Makassar, Cathlyn Yvaine Lesmana.
Sumber :
  • Instagram @cathlynlesmana

Dicoret dari Calon Paskibraka Nasional, Cathlyn Yvaine Lesmana Kini Dapat Beasiswa S1 Full Luar Negeri hingga Biaya Hidup

Dalam proses tersebut, posisi Cathlyn di kuota nasional kemudian ditempati oleh peserta lain. Di tengah polemik yang berkembang, Cathlyn Yvaine Lesmana kini mendapat beasiswa S1 dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).
Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:18 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Polemik seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2026 kembali menjadi perhatian publik. Sorotan kali ini mengarah kepada Cathlyn Yvaine Lesmana, peserta asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang namanya tidak lagi masuk dalam daftar calon Paskibraka tingkat nasional.

Cathlyn merupakan siswi SMA Swasta Cerdas Bangsa Makassar. Namanya ramai diperbincangkan setelah muncul tudingan mengenai kurang transparannya proses penentuan peserta yang akan bertugas di tingkat nasional, untuk upacara kenegaraan di Istana Negara.

Dalam proses tersebut, posisi Cathlyn di kuota nasional kemudian ditempati oleh peserta lain. Di tengah polemik yang berkembang, Cathlyn Yvaine Lesmana kini mendapat beasiswa S1 dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).

Kabar tersebut dibenarkan oleh Sekretaris Jenderal PP Perhimpunan INTI, Hardy Stefanus. Menurutnya, bantuan serupa juga diberikan kepada Meivylicha Putri Aurelia Kamal yang sebelumnya turut berjuang dalam seleksi menuju Paskibraka nasional.

Hardy mengatakan pemberian beasiswa tersebut merupakan bentuk apresiasi dan dukungan agar keduanya tetap termotivasi mengejar prestasi di masa depan.

“Ini adalah bentuk dukungan moral. Kami ingin memastikan bahwa pengalaman ini tidak melemahkan semangat mereka, justru menjadi penguat untuk terus berprestasi,” ujarnya, dikutip Sabtu (30/5/2026).

Selain itu, Hardy meminta panitia seleksi memberikan penjelasan yang terbuka kepada masyarakat terkait proses yang telah berlangsung.

“Proses ini perlu dijelaskan secara proporsional dan transparan agar kepercayaan publik tetap terjaga,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah INTI Sulawesi Selatan, Albertus Yap menyampaikan keprihatinannya apabila dugaan perlakuan diskriminatif terhadap Cathlyn benar terjadi.

"Saya atas nama Pengurus Daerah INTI Sulawesi Selatan, menyesalkan jika benar terjadi dugaan diskriminasi atau rasisme terhadap Cathlyn, calon Paskibraka Nasional asal Makassar," katanya, dikutip dari Instagram @perhimpunaninti.

Menurut Albertus, dugaan tindakan semacam itu bukan hanya berdampak kepada individu yang bersangkutan, tetapi juga bertentangan dengan nilai persatuan yang selama ini dijunjung bangsa Indonesia.

"Kami menegaskan bahwa keberagaman adalah kekuatan Indonesia. Tidak ada tempat bagi rasisme dalam bentuk apa pun."

"Kami mendesak pihak terkait untuk bersikap transparan, objektif, dan profesional dalam setiap tahapan seleksi, serta melakukan klarifikasi dan investigasi menyeluruh agar keadilan dapat ditegakkan," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa PD INTI Sulsel akan terus mendukung upaya menjaga persatuan, menolak segala bentuk diskriminasi, serta mendorong agar generasi muda memperoleh kesempatan yang setara untuk berprestasi.

Kesbangpol Bantah Ada Diskriminasi

Menanggapi polemik yang berkembang, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulawesi Selatan, Bustanul Arifin, menegaskan bahwa seluruh tahapan seleksi telah dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Ia menjelaskan Kesbangpol provinsi berperan sebagai koordinator sekaligus panitia pelaksana dalam proses seleksi peserta dari daerah sebelum diteruskan ke tingkat nasional.

Bustanul membantah tudingan adanya praktik kecurangan maupun diskriminasi rasial dalam penentuan peserta yang lolos.

"Dari awal kami pastikan pelaksanaan seleksi utusan kabupaten/kota ke provinsi berjalan objektif dan transparan. Tidak ada titipan, apalagi diskriminasi rasial," Kata Bustanul Arifin.

Ia menjelaskan bahwa penilaian seleksi Paskibraka tingkat provinsi mencakup sejumlah aspek, di antaranya Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Inteligensi Umum (TIU), kesamaptaan, peraturan baris-berbaris (PBB), keterampilan, hingga kepribadian peserta.

Menurutnya, proses penilaian dilakukan oleh tim seleksi pusat yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPIP, DPPI Pusat, TNI, Polri, hingga Sekretariat Militer Presiden (Setmilpres).

Bustanul juga menilai tudingan diskriminasi etnis tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa terdapat beberapa wakil putri dari Kota Makassar yang mengikuti seleksi, dan peserta dengan nilai tertinggi yang diprioritaskan.

"Yang agak lucu kenapa yang dipersoalkan adalah utusan kota Makassar yang kebetulan etnis Tionghoa. Padahal Kota Makassar mengirim tiga utusan putri, dan dari hasil seleksi utusan putri dari Makassar, utusan yang lain lebih tinggi (nilainya) dari utusan dimaksud (Cathlyn), harusnya yg lebih tinggi nilainya itu yg diperjuangkan," ujarnya.

Ia juga membantah adanya perubahan atau pembatalan hasil yang telah diumumkan sebelumnya.

"Tidak ada menganulir sepihak atau penggantian, logikanya kalau ada anggapan menganulir pengumuman atau ada penggantian, harusnya ada pengumuman awal dan diganti dengan pengumuman baru, tunjukkan ke saya mana pengumuman yang dianulir atau diganti tersebut," pungkasnya. (nba)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

07:15
01:03
09:09
05:21
07:09
01:51

Viral