- Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Pendapatan Negara Melesat 19,1 Persen, Purbaya Percaya Diri Defisit APBN 2026 di Bawah 2 Persen
Jakarta, tvOnenews.com — Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026 menunjukkan perbaikan signifikan. Pemerintah mencatat lonjakan penerimaan negara sebesar 19,1 persen secara tahunan, ditopang oleh pemulihan kuat sektor perpajakan yang sebelumnya tertekan pada periode yang sama tahun lalu.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pertumbuhan pendapatan negara kali ini menjadi sinyal positif bagi kesehatan fiskal nasional, terutama karena didorong oleh kenaikan penerimaan pajak yang mencapai lebih dari 22 persen.
“Realisasi APBN sampai dengan bulan Mei 2026, ini terus menunjukkan tren positif. Kita lihat pendapatan tumbuh 19,1 persen. Yang paling menarik adalah pendapatan pajak ini naiknya 22,1 persen,” kata Purbaya saat Konferensi Pers APBN Kita di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
Selain pajak, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai juga mulai menunjukkan pemulihan. Penerimaan Bea dan Cukai tumbuh 0,7 persen dan mencatatkan tren positif selama dua bulan berturut-turut. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) melonjak 19,9 persen.
Menurut Purbaya, capaian tersebut berbanding terbalik dengan kondisi APBN pada periode yang sama tahun lalu ketika sebagian besar sumber penerimaan negara masih mengalami kontraksi.
“Bea Cukai naiknya 0,7 persen ini sudah positif dua bulan berturut-turut ya, nanti akan naik lagi lebih bagus. PNBP naiknya 19,9 persen, anda bandingkan tahun lalu di bulan yang sama tuh pajak -11,3 persen, Cukai positif ya, PNBP -33,2 persen,” ujarnya.
Ia menegaskan, perbaikan terbesar terjadi pada sektor perpajakan yang kini kembali menjadi motor utama pendapatan negara.
“Jadi ada perbaikan yang signifikan di pajak utamanya, dibandingkan dengan kondisi tahun lalu. Tahun lalu clear pertumbuhan pajaknya tuh negatif,” tutur Purbaya.
Pemerintah bahkan optimistis tren positif tersebut masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang seiring pembenahan sistem perpajakan yang terus dilakukan.
“Sekarang positif, mungkin nanti akan 20 persen atau lebih kita coba akan dorong ke atas dulu seiring dengan perbaikan di perpajakan. 20,5 persen tapi kita coba dorong ke angka yang lebih positif lagi,” katanya.
Dari sisi belanja, akselerasi pengeluaran pemerintah juga terlihat cukup kuat. Belanja Kementerian/Lembaga tumbuh 58,9 persen, sedangkan belanja non-Kementerian/Lembaga meningkat 47 persen. Adapun transfer ke daerah mengalami penurunan tipis sebesar 4,9 persen.
Di tengah meningkatnya belanja negara, posisi fiskal pemerintah tetap terkendali. Hingga akhir Mei 2026, defisit APBN tercatat sebesar 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di bawah batas yang ditetapkan dalam APBN tahun ini.
Purbaya bahkan menyindir sejumlah perhitungan yang beredar di media sosial terkait proyeksi defisit APBN.
“Yang paling penting lagi apa? Surplusnya jadi berapa? Defisitnya sampai dengan Mei 0,70 persen. Jadi kalau kita pakai cara menghitung ekonomi yang di luar itu, bukan di luar negeri, di dalam negeri, di TikTok dia kan dikali aja. Yaudah kalau saya pakai cara yang sama, 12/7x0,7 kira-kira dapatnya 1,8,” ujar Purbaya. (agr/cmi)