- tvOnenews - Abdul Gani Siregar
Raja Juli Klaim Karhutla Berhasil Ditekan, Kini Waspadai El Nino dan Ancaman Baru
Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah mengklaim berhasil menekan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara signifikan dalam satu dekade terakhir. Namun, di balik tren positif tersebut, ancaman baru mulai mengemuka seiring prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut fenomena El Nino datang lebih cepat dari siklus normal dan berpotensi memperpanjang musim kemarau.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, luas karhutla terus menurun dalam beberapa periode. Menurutnya, capaian tersebut menjadi indikator bahwa upaya pengendalian yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan hasil.
“Kalau kita berhasil menekan karhutla, kalau tadi saya katakan, sebagai bangsa kita patut gembira, dari tahun 2015 itu 2,6 juta, kemudian empat tahun kemudian menjadi 2,1 juta. Empat tahun kemudian 2023 menjadi 1,1 juta,” beber Raja Juli, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2026).
Ia menambahkan, tren perbaikan juga terlihat pada tahun lalu. Luas karhutla kembali turun dari sekitar 375.000 hektare menjadi sekitar 350.000 hektare. Meski demikian, Raja Juli menegaskan keberhasilan tersebut tidak boleh membuat pemerintah lengah karena tantangan ke depan diperkirakan semakin berat akibat perubahan iklim.
Menurutnya, pengendalian karhutla membutuhkan koordinasi yang lebih kuat antarkementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga seluruh pemangku kepentingan. Terlebih, fenomena El Nino diprediksi muncul lebih awal sehingga risiko kekeringan dan kebakaran hutan meningkat lebih cepat dari perkiraan.
“Jadi sebenarnya kita bisa menekan itu, cuma ini butuh koordinasi yang lebih rekat lagi, lebih ketat lagi, karena memang ini El Nino-nya, climate change is real. Jadi kita perlu bersama-sama mengantisipasi,” katanya.
Raja Juli menjelaskan, berdasarkan pola sebelumnya, El Nino terjadi setiap sekitar empat tahun, yakni pada 2015, 2019, dan 2023. Dengan siklus tersebut, fenomena berikutnya seharusnya terjadi pada 2027. Namun, prediksi BMKG menunjukkan El Nino datang lebih cepat sehingga langkah mitigasi harus dilakukan mulai tahun ini.
“Jadi kekeringannya datang lebih cepat ya, dan berakhirnya lebih lambat. Nah, itu tentu harus ada antisipasi,” ucapnya.
Selain memperingatkan percepatan El Nino, Raja Juli juga mengungkap adanya pergeseran wilayah rawan karhutla. Selama ini, titik-titik utama kebakaran terkonsentrasi di enam provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Namun, pemerintah kini mulai mencermati munculnya tren baru berupa meningkatnya kejadian karhutla di luar wilayah-wilayah tersebut. Sejumlah daerah di kawasan timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai menunjukkan peningkatan kasus kebakaran yang cukup signifikan.
“Tapi ini ada tren baru ya di luar enam provinsi itu juga terjadi cukup masif, semacam di NTT, kemudian di NTB, di beberapa tempat lah. Jadi nanti kita akan bahas lebih detail,” pungkas Raja Juli.
Ia menegaskan, pengendalian karhutla menjadi prioritas karena dampaknya tidak hanya merusak kawasan hutan dan lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat serta aktivitas ekonomi nasional.
Asap akibat kebakaran hutan dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), mengganggu operasional penerbangan, menghentikan kegiatan belajar mengajar, hingga melumpuhkan pusat-pusat perekonomian. (agr/aag)